Connect with us

Filsafat

Agama Organik

Published

on

Istilah organik banyak dikenal saat ini, terutama pada bidang pertanian seperti sayuran, buah-buahan, beras, pupuk  dan sebagainya. Organik dalam obyek-obyek tersebut adalah kata sifat yang berarti “berasal dari makhluk hidup”. Beras organik artinya beras yang ditanam di tanah yang alami dan dipupuk dengan bahan-bahan makhluk hidup dari alam, tanpa campuran kimiawi.

Lantas apa yang dimaksud dengan “agama organik”? Organik dapat juga berarti “asal dari sesuatu”; hampir sama dengan istilah origin dalam bahasa Inggris, atau kalau dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah agama yang “hanif (terjaga atau murni)”. Dengan kata lain agama yang benar-benar berasal dari Yang memilikinya.

Prinsip dasarnya: agama (ajaran agama, doktrin, teks kitab suci, dll) adalah absolut namun ketika sudah mampir di kepala manusia maka otomatis menjadi relatif karena bercampur dengan latar belakang seseorang, pendidikan, pengalaman, ajaran orang tua, pemahaman, dan sebagainya. Seperti halnya sinar matahari yang masuk ke dalam prisma maka akan keluar menjadi beragam warna. Begitu juga dengan pemahaman manusia. Ajaran agama yang dibawa melalui kabar-kabar dan riwayat orang per orang dan jaraknya sudah sangat jauh maka besar kemungkinan untuk mengalami degradasi atau malah penambahan dari sumber awalnya.

Dengan demikian, apakah ada yang namanya “agama organik”? Ada, yaitu pada nilai-nilai universal yang menjadi cirinya. Nilai-nilai universal adalah inti dari agama, misi dari semua agama, sifatnya organik. Pemahaman memang relatif sehingga berbeda bagi setiap orang, tetapi ada yang tidak relatif yaitu nilai-nilai universal. Nilai universal absolut sifatnya, seperti keadilan, kejujuran, keberanian, kemanusiaan, cinta, dan lainnya, yang penilaian setiap orang sepakat terhadap nilai-nilai tersebut.

Organik berarti juga original, dalam arti beragama tidak macam-macam, tidak tercampur oleh “bahan-bahan kimiawi” yaitu merasa diri paling benar, yang lain salah, dan menonjolkan perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai universal tadi. Lebih baik mencari persamaan antar-agama yang ada daripada mencari perbedaan yang pasti banyak perbedaan yang tidak mungkin disamakan. Bergeraklah pada dimensi yang sama, yaitu dimensi nilai-nilai bukan pada sekat-sekat keagamaan yang sempit.

Agama sifatnya membebaskan manusia dari belenggu tirani, membebaskan manusia dari kerusakan, membebaskan manusia dari kebodohan, membebaskan manusia dari berbagai halangan untuk mencapai kesempurnaannya. Jika agama mengajarkan manusia untuk saling bermusuhan maka yakinlah itu bukan dari agama tetapi dari “campuran-campuran kimiawi” yang mengatasnamakan agama. Jika agama menjadi penghalang untuk perdamaian maka jangan segan-segan untuk mengkritiknya karena agama bersifat terbuka untuk setiap penafsiran yang bersifat kebaikan bagi manusia.

Ambillah sesuatu yang baik dari manapun ia berasal, bukan hanya dari agama. Karena kebaikan tidak memandang sumber. Kebaikan adalah kebaikan. Kejahatan adalah kejahatan (mala per se). Keduanya tidak bersumber. Karena kebaikanlah sumber utama, bukan pembawa kebaikannya yang harus menjadi sentral.

Mematuhi hukum dalam suatu negara adalah kebaikan, tidak berbuat kejahatan yang menentang hukum adalah kebaikan, yang dengannya maka ia telah beragama. Ia telah berbuat yang baik untuk kemanusiaan. Sebaliknya, jika tidak mematuhi hukum maka melawan kebaikan, yang dengannya bertentangan juga dengan agama. Di sinilah perlunya pemahaman nilai-nilai universal dari setiap ajaran agama bahkan dari ajaran-ajaran lain. Karena agama mengalami evolusi sedangkan kebaikan tidak pernah mengalami evolusi. Kebaikan dari sejak dunia ada sampai kapanpun tetap kebaikan.

Pemahaman manusia terhadap kebaikan memang beragam, skalanya ordinal. Tetapi pasti ada titik temunya. Misalnya, manusia tidak mungkin mau dikhianati, disitu titik temunya, berarti kejujuran sebagai hal yang universal. Namun pada praktek bahwa jujur itu bertingkat-tingkat itu beda lagi cerita. Sama halnya aturan di Kompasiana, bahwa posting harus original. Sangat tidak mungkin sebetulnya pemikiran seseorang original karena dipengaruhi berbagai macam. Tetapi ada yang semua orang faham, maksudnya original adalah bukan plagiat atau copy paste dan bukan pengulangan dari ide orang lain. Di situ titik temunya.

Maka, carilah titik temu dalam setiap hal, jangan cari perbedaannya karena pasti banyak yang berbeda.Ketika setiap orang berusaha untuk mencari titik temu dan bukan perbedaan yang menjadi patokan maka itulah “revolusi kemanusiaan” yang sesungguhnya.**[harja saputra]

Tulisan ini semula dimuat di Kompasiana: http://filsafat.kompasiana.com/2011/06/13/agama-organik/

Komentar