Connect with us

Logika Itu Keharusan Dalam Beragama, Bukan Masalah Sekuler Atau Non-Sekuler

Filsafat

Logika Itu Keharusan Dalam Beragama, Bukan Masalah Sekuler Atau Non-Sekuler

Ilustrasi: budi01434.blogspot.com

Apakah dengan menggunakan logika dalam beragama disebut sekuler? Sepertinya harus dipikirkan dulu jika menilai. Kita seringkali berada di luar area yang kita nilai sehingga kerap melakukan penilaian yang liar. Akan beda lagi pendapatnya jika kita sudah masuk ke dalam area tersebut.

Saya sajikan satu pertanyaan yang paling mendasar kenapa logika itu penting: “Dari mana Anda tahu bahwa Tuhan itu ada?”

Jika pertanyaan tersebut dijawab dengan jawaban “Dari adanya makhluk atau adanya alam (semua yang ada di dunia). Ada ciptaan pasti ada penciptanya”. Argumentasi itu sepintas logis dan jawaban itulah yang banyak diajarkan. Padahal, sangat tidak logis. Kenapa? Karena jika kita tahu adanya Tuhan harus dari adanya alam ini, tidak bisa langsung, berarti Tuhan terikat oleh alam. Mengetahui Tuhan harus lewat alam. Dan Tuhan mustahil terikat oleh selain-Nya.

Sama juga jika dijawab dengan: “Mengetahui adanya Tuhan adalah dari kitab suci”. Ini pun tidak logis. Kitab suci berarti harus ada terlebih dahulu sebelum Tuhan, karena kita mengetahui Tuhan harus melalui kitab suci. Itu tidak mungkin. Kitab suci adalah “perkataan Tuhan”. Bisa dikatakan kitab suci datangnya belakangan dibanding Tuhan. Tuhannya sedang dipertanyakan, kitab suci sebagai perkataannya jelas sedang dipertanyakan juga.

Pembuktian keberadaan Tuhan tidak bisa melalui kitab suci atau melalui alam. Ia murni hanya bisa didekati dengan jalan rasional. Di sinilah fungsi logika. Karena hanya logika yang independen. Kitab suci tidak bisa independen, ia independen jika diam. Jika kitab suci dibaca dan difahami oleh manusia maka ia sudah tidak independen. Berubah menjadi dependen, bercampur dengan latar belakang si pembaca, pendidikan, didikan orang tua, lingkungan, dan pengalaman pribadi, serta faktor lain.

Munculnya gerakan atheisme, faham yang tidak percaya Tuhan, adalah kegagalan orang-orang beragama yang tidak bisa menjelaskan jawaban dari pertanyaan di atas, yaitu bukti keberadaan Tuhan. Tidak bisa kita menjelaskan kepada orang yang tidak percaya Tuhan dengan kitab suci, karena Tuhannya saja diragukan apalagi kitab suci sebagai subordinannya. Lagi-lagi, hanya logika yang dapat dijadikan jalan.

Sekularisasi salah satu cirinya adalah condong pada penggunaan logika yang rasional. Ini muncul sebagai dorongan para agamawan untuk merespons berbagai kemajuan zaman. Padahal, dalam beragama, tidak perlu ada sekularisasi. Penggunaan akal rasional adalah mutlak keharusannya. Upaya sekularisasi menjadi sia-sia. Bagi yang tidak percaya bahwa logika dan akal itu penting, dengan sendirinya belum beragama.**[harjasaputra.com]

Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: [email protected]

KOMENTAR

To Top