Menggali Makna Idul Fitri

15 Aug 2012
2885 times
Ilustrasi: macan-group.com Ilustrasi: macan-group.com

Al-Wa'ily menyebutkan bahwa terdapat empat jenis arti dari kata "Ied":

  1. Ied bermakna kembali dalam arti rutinitas tahunan.
  2. Ied bermakna rahmat. Allah Swt kembali memberikan rahmat, ampunan, rezeki, dan berkah-Nya kepada manusia lebih banyak di hari Ied.
  3. Ied bermakna saling kembalinya (mengunjungi) kepada sesama manusia dengan saling memberi satu sama lain.
  4. Ied bermakna majazi sebagai hari paling mulia.

Dalam al-Qur'an ada disebut mengenai kata 'Ied, yaitu ketika al-Qur'an mengisahkan mengenai Nabi Isa as., sebagai berikut:

قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا وَآيَةً مِنْكَ ۖ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ  (المائدة:114)

"Isa putera Maryam berdoa: "Ya Tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezeki Yang Paling Utama" (Al-Maaidah:114).

Kata 'ied dalam konteks ayat di atas diartikan sebagai hari raya, hari yang berbeda dari hari-hari biasa.

Arti 'Ied yang lebih jelas dapat dilihat dari perkataan Ali ibn Abi Thalib ra yang diucapkan juga oleh Hasan al-Bishri, berikut ini:

كل يوم لا يعصي الله فيه فهو عيد.

"Setiap hari di mana tidak dilakukan maksiat kepada Allah Swt maka hari itu adalah hari 'Ied".

Maksud dari perkataan Ali ibn Abi Thalib ra di atas adalah, bahwa hari Ied adalah hari di mana manusia tidak melakukan maksiat kepada Allah Swt. Hal ini lebih luas cakupannya bukan hanya di hari raya Idul Fitri, tetapi juga di hari-hari lain. Ketika dalam sehari-hari kita tidak berbuat maksiat kepada Allah Swt maka jiwa kita tetap pada kondisi 'ied, yaitu terbebas dari dosa atau terjaga kesuciannya.

Adapun pengertian maksiat itu sendiri dibagi dua:

1.      Maksiat aktif: dengan melanggar larangan Allah Swt.

2.      Maksiat pasif: lalai dari melakukan kewajiban dan perintah Allah Swt. Saling memaafkan secara tulus, saling menyayangi dan saling menghormati adalah perintah Allah Swt dan kewajiban antar sesama manusia. Jika kita lalai dalam memaafkan orang lain, menyayangi, dan menghormati satu sama lain, maka ia telah bermaksiat kepada Allah Swt.

Idul Fitri dalam hadis lain dimaknai sebagai hari "kembali pada kesucian", bahkan disebut kembali suci sebagaimana pada saat bayi dikeluarkan dari rahim ibunya:

عن أبى سلمة بن عبدالرحمن بن عوف قال:  حدثني أبي عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال: (إن الله عز وجل فرض عليكم صيام رمضان، وسننت لكم قيامه، فمن صامه إيمانا واحتسابا خرج من ذنوبه كيوم ولدته أمه (اخرجه الطبراني).

"Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla telah mewajibkan bagi kalian berpuasa di bulan Ramadhan, dan mensunatkan shalat malam, maka barangsiapa yang berpuasa dengan penuh keimanan dan berserah diri, akan terbebas dosa-dosanya bagaikan bayi yang dilahirkan dari rahim ibunya" (Diriwayatkan oleh Thabrani)

Segala dosa yang menjadi kotoran jiwa dan badan akan menjadi suci kembali. Inilah keistimewaan utama puasa sebagai zakat badan, sebagai pembersih jasad/badan yang bersifat bukan fisik. Melainkan badan yang terdiri dari daging, lemak, dan lain-lain yang tumbuh dari hasil usaha manusia yang boleh jadi syubhat atau dari barang haram.

Dari pengertian 'ied dan makna maksiat di atas, sudah sepantasnya momentum Idul Fitri dipahami sebagai momentum pembinaan karakter individual yang berefek pada karakter sosial.

Masyarakat dibentuk oleh individu-individu. Basis masyarakat Islam adalah individu. Individu mencerminkan kehidupan sosial. Jika individu sebagai anggota dari masyarakat sosialnya baik maka masyarakatnya pun akan baik.

Puasa jika dilihat dari dhahirnya merupakan ibadah individual karena hanya dirinyalah yang tahu dirinya berpuasa ataukah tidak. Tetapi jika digali lebih jauh, karena masyarakat dibentuk oleh individu, maka puasa yang tujuannya melatih individu muslim, jelas memiliki output yang nyata bagi kehidupan sosial yang lebih luas.

Seseorang yang berhasil dalam puasanya dapat dilihat dari keseharian setelah menjalani puasa di hari-hari atau bulan yang lain selain Ramadhan. Ramadhan adalah semacam sekolah ruhani, implementasi nyatanya adalah pada hari-hari setelahnya. Jika dalam puasa tidak boleh menggunjing dan mengadu domba orang lain, maka orang yang berhasil dalam puasanya tidak akan melakukan hal itu di hari yang lain. Inilah tonggak utama dalam pembentukan karakter sosial.**[harja saputra]

---------------------

Referensi:

* الكتب » حلية الأولياء وطبقات الأصفياء » من الطبقة الأولى من التابعين » الحسن البصري

** مجموعة الخطبات احمد الوائلى

Komentar

Silahkan berkomentar melalui kolom di bawah ini.

Blog dengan aneka topik, tulisan Harja Saputra. Menulis apa saja. Berbagi untuk Anda