1. Skip to Main Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer

Relativitas Pendapat Dalam Berargumentasi

Written by  Harja Saputra 14 September 2011 Published in Filsafat
Illustrasi: flickr.com Illustrasi: flickr.com

Membaca dari banyak tulisan teman-teman di Kompasiana akhir-akhir ini sejak isu penetapan Syawal, posting-posting tentang doktrin agama, politik, dan isu-isu lain yang memicu perbedaan pendapat. Tak jarang saling bersitegang, bahkan ada yang berniat “bunuh diri”. Dalam kesempatan ini izinkan saya untuk sedikit berpendapat.

Haidar Bagir, pendiri Mizan Publisher, Mizan PH, dan salah seorang yang dianugerahi penghargaan The Best CEO tahun 2008 pernah mengatakan dalam kuliahnya, “Dalam berpendapat hendaknya tidak mengklaim bahwa pendapat saya adalah benar mutlak. Sikap yang baik adalah memiliki pandangan bahwa pendapat saya bisa jadi benar dan bisa jadi salah. Pendapat orang lain kemungkinan mengandung kebenaran dan kemungkinan mengandung kesalahan. Apa gunanya saling mengklaim kebenaran? Di sinilah letak relativitas pemikiran.”

Ungkapan beliau itu dilontarkan ketika banyak mahasiswa di kelasnya pada saat sesi diskusi tentang wacana-wacana filsafat, seolah-seolah pendapatnya adalah benar mutlak. Padahal, menurutnya, untuk bidang ilmu pasti saja selalu ada ketidakpastian, apalagi di bidang ilmu sosial dan budaya atau humaniora. Pendapat seseorang umumnya dipengaruhi oleh berbagai faktor. Karena kita hidup tidak di ruang hampa, kita dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan, didikan orang tua, pengalaman hidup, dan banyak faktor lain.

Dalam setiap pendapat atau komentar terbuka ruang untuk kemungkinan salah dan benar. Berbeda pendapat itu biasa karena isi kepala masing-masing orang berbeda tidak mungkin seragam. Menghargai pendapat orang lain dan tidak mengklaim pendapat sendiri yang mutlak adalah sikap yang demokratis. Apapun itu topiknya.

Selain itu, dalam berpendapat, umumnya manusia mengedepankan dulu stigma bukan substansi masalahnya. Menilai dulu lawan bicaranya, apakah dari segi individu, pekerjaan, dan lainnya. Inilah yang sesungguhnya menjadi salah satu alasan saya menghilangkan status pekerjaan di profile saya. Karena ketika saya berkomentar di tulisan orang lain, di banyak kasus mengaitkannya dengan pekerjaan. Padahal hanya berpendapat, tetapi dibalas dengan sinisme, bahkan membawa-bawa pekerjaan saya. Yang dikedepankan adalah stigma yang belum tentu benar. Padahal substansi komentar saya tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Pekerjaan seseorang adalah untuk menghidupi diri, tidak lebih dari itu. Kenapa dikait-kaitkan dengan pekerjaan. Apakah misalnya, ketika pekerjaannya sebagai tukang kuli bangunan, dan ketika berpendapat lantas tidak boleh didengarkan? Itu satu kekeliruan menurut saya. Tapi, sekali lagi, pendapat saya ini bisa jadi salah bisa jadi benar, ini hanya pendapat saya. Bukankah diajarkan, “dengarkan apa yang dikatakannya, jangan dilihat siapa yang mengatakannya”.

Berargumentasi dengan terbuka sampai pada situasi yang panas harus dipandang sebagai sesuai yang biasa, karena kita semua sedang terus mencari. Tidak ada yang sudah sampai pada kebenaran absolut. Karena manusia hanya tahu sedikit hal. Tidak lebih dari itu. Berargumentasi mesti tetap dalam koridor substansi masalah yang didiskusikan. Saya pun prihatin terhadap kepergian EA, saya bukan pembela EA atau apapun. Saya banyak berkomentar di tulisan-tulisan dia. Tidak pernah bersitegang dengannya, karena ketika tidak setuju dengan apa yang ditulis, berusaha beragumentasi pada substansi apa yang ia tulis. Bukan dengan menghakimi. Kita bukan hakim, kita bukan pembela siapapun. Jika tidak setuju dengan pendapat orang lain, sajikan argumentasi pendukung yang kuat untuk membantahnya.

Jika membombardir pendapat orang lain dengan menghakimi, hujatan, cercaan, kata-kata kotor dan sebagainya, maka sama saja kita membunuh nyamuk dengan senapan mesin. Nyamuknya tetap ada, rumahnya yang hancur. Karena pendekatannya tidak tepat. Ketika kita tahu yang salah, maka sajikanlah yang benarnya. Jika kita hanya menilai kesalahannya saja, kita sedang menghakimi, bukan sedang berdiskusi.

Akhir kata, kedepankanlah sikap bahwa pendapat saya bisa jadi benar dan bisa jadi salah.**[harja saputra].

Harja Saputra

Harja Saputra

"Verba volant scripta manent..carpe diem memento mori" (apa yang diucapkan akan hilang, apa yang dituliskan akan abadi..jika tidak sekarang kapan lagi, karena kita hidup akan mati) 

Mencoba mengamati, berpikir dan berbagi. Semoga bermanfaat.!

Leave your comments

Post comment as a guest

0
  • No comments found

Stickies

  • No comments found

Lovies

  • No comments found