Connect with us

Komunikasi

Menulislah Sebelum Kau Dituliskan..

Published

on

Ilustrasi: google picasa

Orang zaman dulu, menurut hasil penelitian para pakar ilmu linguistik (kebahasaan), punya tradisi tidak mau memberikan namanya pada sembarang orang. Karena penyebutan nama dianggap akan mengundang bahaya keselamatan nyawanya. Ketika menyebut nama maka akan didengar oleh roh jahat. Ini berlaku pada banyak suku seperti di suku Apache (salah satu suku Indian Amerika), suku Nufoor (Papua Nugini), pada orang Alfoor di Poso, Sulawesi,  dan pada orang Nias.

Dikarenakan nama asli tidak boleh disebut maka caranya adalah membuat nama samaran (alias). Nama samaran suku Indian banyak diadopsi dari nama-nama binatang: white lion, black horse, scorpion, dan sebagainya. Nama samaran itulah yang diberikan ke orang lain. Hampir setiap orang Indian mempunyai nama samaran.

Itu baru disebut, apalagi ditulis. Mereka anti ditulis nama aslinya. Maka ketika Kapten Cook berlayar ke kepulauan Kongo Polinesia dan menuliskan pengalamannya, banyak sekali dijumpai nama-nama samaran (malah saya curiga nama Kapten Cook itu sendiri samaran).

Zaman berganti dan tradisi pun berganti. Beda waktu beda peradaban, lain tempat lain juga adatnya. Sekarang berlaku hal sebaliknya, setiap orang ingin disebut namanya. Ingin ditulis namanya. Bila perlu sangat besar di media-media massa. Bila tak laku di media massa bernarsis-rialah di media sosial. Nama bahkan dilukis aneh-aneh biar terlihat menarik dan tak lupa dibubuhi foto semenawan mungkin. Hanya karena ingin dipedulikan namanya. Hal itu karena, seperti kepercayaan pemuka bangsa Arya, nama tidak hanya bagian dari manusia tetapi juga bagian “manusia” yang dinamakan roh/jiwa, napas dari kehidupan sebagai sesuatu “yang ada".

Anehnya, zaman sudah berubah, nama ingin disebut dan ditulis tapi tak mau menulis. Ini luar biasa aneh. Kenapa? Hidup cuma sebentar. Ada ribuan orang yang mungkin mati setiap harinya. Jutaan manusia sudah mati. Tapi hanya sedikit orang yang dikenang setelah mati. Selebihnya tak ubah seperti abu: datang ke dunia, lewat sebentara, berhaha-hihi, tertawa-menangis, lantas menghilang ditelan bumi. Raib tak menghilangkan jejak.

Menulis adalah gerbang keberadaan. Lawannya adalah ketiadaan. Kalau menulis maka akan ada selamanya, dan jika tidak, akan lenyap ditelan bumi. Hadis yang menyebutkan bahwa amal yang tak putus pahalanya hanya 3: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih; maka jika hadis itu direvisi saat ini yang keempatnya adalah: menulis. Atau jangan direvisi karena bahaya. Menulis sudah mencakup ketiga hal itu.

Pertama, menulis sama dengan sedekah pada inti bahwa kita memberikan ilmu dan pengetahuan yang kita miliki untuk orang lain tanpa batasan waktu dan tempat. Kedua, menulis adalah bagian dari ilmu yang bermanfaat, kalau untuk ini tak perlu dijelaskan lagi. Ketiga, menulis juga sama dengan anak saleh sebatas tulisannya bermanfaat bagi kemanusiaan. Tulisan bisa mendoakan si empunya persis seperti anak saleh yang mendoakan. Karena ketika orang lain membaca dan memperolehan manfaat ia akan berterima kasih. Itulah doa. Tak ada doa yang lebih ampuh daripada membuat orang lain bahagia dan berguna.

Di alam sana malaikat tak bosan-bosannya bertanya: "Apa yang kamu telah perbuat?" Dijawab: bla..bla..bla..bla. Ditanya lagi: "Apa yang kamu tinggalkan?" "Keluarga, harta, anak, dan hasil perbuatan baik". "Oh belum cukup", kata malaikat. "Silahkan Anda ke ruang sebelah", seru malaikat. Bergegaslah orang yang ditanya itu ke ruang sebelah. Betapa tercengangnya orang itu. Ruangan itu sangat besar dan luas. Seluas mata memandang. Sudah sesak, dipenuhi oleh manusia. Tertulis besar di pintu masuknya: "Welcome to writing course for reborn" (selamat datang di kursus menulis untuk bekal nanti dilahirkan kembali). Si manusia itu tepuk jidat.**[harja saputra]

Dipostkan sambil menunggu pesawat di bandara.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Komentar

Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: [email protected]