1. Skip to Main Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer
Web Design Modified:Tuesday 09 April 2013, 12:10

Terbukti, Kiamat Internet Hanya Hoax

Written by Harja Saputra 22 July 2012 Published in IPTEK

Pada tulisan yang saya tayangkan pada tanggal 03 Juli lalu di sini disertai berbagai argumentasi yang mendukung, baik dari aspek media criticism maupun mengutip perkataan pejabat FBI, dan menyimpulkan bahwa kabar tentang “kiamat internet” (internet doomsday) adalah Hoax. Kini terbukti sudah, internet doomsday yang akan terjadi pada 09 Juli 2012 memang hanya isapan jempol belaka. Kabar yang terlalu dibesar-besarkan.


KPK Vs. DPR Dalam Polemik Gedung Baru

Written by Harja Saputra 22 July 2012 Published in Polhukam

Masih ingat polemik rencana pembangunan gedung baru DPR yang rencana menelan biaya 1 trilyun lebih? Akhirnya dibatalkan karena kerasnya protes dari masyarakat. Banyak pihak yang menilai rencana pembangunan gedung baru DPR ini tidak sesuai dengan suasana kebatinan masyarakat Indonesia di tengah banyaknya bencana dan kemiskinan. Lebih baik dialokasikan untuk kesejahteraan masyarakat daripada dipakai untuk bangun gedung baru yang tidak terlalu mendesak.


Apakah FPI, JIL, Syiah, Ahmadiyah, dsb Bisa Dibubarkan?

Written by Harja Saputra 23 May 2012 Published in Filsafat

Ada satu petuah dari guru saya waktu dulu di Sekolah Menengah Atas: “Negara demokrasi itu seperti bilangan. Angka sepuluh misalnya, untuk mencapai jumlah sepuluh kita bisa lakukan dengan berbagai cara: bisa lima ditambah lima, bisa empat ditambah enam, bisa tujuh ditambah tiga, dan banyak lagi caranya, termasuk cara lima belas dikurangi lima, sebelas dikurangi satu hasilnya juga sepuluh, dan seterusnya”. Analogi yang pas saya pikir. Masih teringat sampai sekarang. Maksud dari ungkapan itu adalah, di negara demokrasi, kita tidak bisa memaksakan kehendak misalnya pokoknya sepuluh itu harus lima ditambah lima. Ini adalah pemaksaan.


Masalah Lady Gaga Saja Ribut

Written by Harja Saputra 22 May 2012 Published in Sosbud

Ciri budaya instan salah satunya adalah “fokus pada hal yang remeh-temeh (trivial)”. Tapi begitulah hidup, hal yang remeh-temeh seringkali menjadi perhatian. Infotainmen itu sifatnya info remeh-temeh, menyuguhkan info isi dalam tas artis, makanan favorit artis, dan remeh-temeh lainnya. Tapi kini menjadi suatu industri tersendiri. Itulah kenyataan, karena budaya instan yang remeh temeh tak butuh mengerutkan dahi untuk mencernanya, gampang dinikmati, karena namanya juga info remeh-temeh.


Dahlan Iskan Mendikte Pertamina?

Written by Harja Saputra 12 May 2012 Published in Ekbis

Saya sedikit tertegun membaca prolog topik pilihan “Pertamina Didikte?” dari Admin Kompasiana sebagai berikut: “Dahlan Iskan mengkritik kebijakan Pertamina tentang pembelian minyak, Selasa (8/5/2012). Menurut Dahlan, BUMN ini seharusnya bisa memperoleh minyak langsung dari sumbernya atau sekaligus mengakuisisi kilang, bukan lewat pedagang. Sebuah pertanyaan klise muncul, adakah cengkeraman kepentingan kelompok yang mendikte kebijakan Pertamina?


FPI Vs. JIL: Basi Ah..!

Written by Harja Saputra 06 May 2012 Published in Filsafat

Bentrok pemikiran sengit antara pemikiran “kiri” dan “kanan” itu hal biasa. Dari dulu sampai saat ini sudah banyak terjadi. “Kiri” yang dimaksud adalah pemikiran yang cenderung konservatif dan “kanan” yang cenderung terlalu “modern”. Bukan maksud mengatakan pemikiran “kanan” lebih baik dari yang “kiri”. Sebagaimana perkataan Hassan Hanafi dalam buku “Al-Yasar al-Islam” (Islam Kiri) bahwa kiri yang dimaksud bukan dimaksudkan berlawanan dengan kanan.


Menulislah Sebelum Kau Dituliskan..

Written by Harja Saputra 19 April 2012 Published in Komunikasi

Orang zaman dulu, menurut hasil penelitian para pakar ilmu linguistik (kebahasaan), punya tradisi tidak mau memberikan namanya pada sembarang orang. Karena penyebutan nama dianggap akan mengundang bahaya keselamatan nyawanya. Ketika menyebut nama maka akan didengar oleh roh jahat. Ini berlaku pada banyak suku seperti di suku Apache (salah satu suku Indian Amerika), suku Nufoor (Papua Nugini), pada orang Alfoor di Poso, Sulawesi,  dan pada orang Nias.


Apa dan Bagaimana Metode Perhitungan Kursi Kuota Murni?

Written by Harja Saputra 15 April 2012 Published in Polhukam

Sesuai dengan hasil Rapat Paripurna DPR yang telah memutuskan bahwa metode perhitungan kursi adalah menggunakan "Kuota Murni". Pada posting sebelumnya telah dibahas mengenai perbandingan antara cara perhitungan Kuota Murni vs Divisor Webster, pada posting ini akan fokus pada Kuota Murni. Hal ini karena mungkin masih banyak yang bingung: makhluk apakah Kuota Murni itu?


Analisis Perbandingan Perhitungan Kursi Metode Kuota Murni Vs. Divisor Webster

Written by Harja Saputra 13 April 2012 Published in Polhukam

Rapat Paripurna DPR yang membahas masalah RUU Pemilu berlangsung sangat alot, bahkan lebih alot daripada rapat paripurna yang membahas masalah BBM pada akhir Maret 2012 lalu. Bahas pemilu memakan waktu 2 hari (11-12 April 2012) sedangkan bahas BBM hanya sehari saja. Tidak hanya itu, bahkan sempat diwarnai beberapa kali skors, dan yang terpanjang skorsnya dari jam 16.00 sampai dengan tengah malam (pukul 00.30 WIB). Dilanjutkan lagi keesokan harinya.