Connect with us

Apa Enaknya Jadi Tenaga Ahli Komisi?

Polhukam

Apa Enaknya Jadi Tenaga Ahli Komisi?

Ilustrasi: TA Komisi sedang bertugas

Tanpa Tenaga Ahli Komisi tidak ada kesimpulan rapat yang menjadi pengikat di antara DPR dan mitra kerjanya. Ini penjelasan singkat dari gunanya ada Tenaga Ahli Komisi. Kalau mau disingkat, ya begitu penjelasan globalnya. Masa iya cuma segitu saja tugas Tenaga Ahli Komisi? Tentu saja tidak. Banyak tugas lain, tetapi tugas utama dan yang paling dominan adalah menyusun kesimpulan rapat yang membutuhkan skills tertentu dan tugas paling berat (tentang ini sudah saya jelaskan di tulisan sebelumnya, klik di Link Ini).

Rincinya begini. Banyak teman yang dulunya sebagai Tenaga Ahli Anggota (TAA) DPR bertanya sama saya: enakan mana kerja jadi Tenaga Ahli Anggota atau Tenaga Ahli Komisi? Saya pasti menjawabnya: enak yang seperti gimana dulu nih? Kalau disebut enak itu adalah beban kerja, ya tentu enak jadi Tenaga Ahli Anggota, karena hanya “mengurusi” satu orang anggota saja, sementara Tenaga Ahli Komisi ada 47 orang yang harus dilayani.

Namun, kalau yang disebut enak itu adalah ada pengembangan diri, ya tentu enak jadi Tenaga Ahli Komisi. Disebut pengembangan diri, karena Tenaga Ahli Komisi dituntut harus terus belajar secara marathon setiap hari, memperkaya wawasan terutama dalam menguasai isu-isu yang berkembang seputar bidang komisi. 

Pasti bingung kan penjelasannya? Biasa, kalau sudah banyak gaul dengan politisi bahasa kita juga jadi terbawa politisi..mutar-muter..haha. Begini gampangnya deh. Taruhlah contohnya saya, yang sekarang jadi Tenaga Ahli Komisi yang awalnya Tenaga Ahli Anggota. Tugas Tenaga Ahli Anggota memang banyak, tetapi tanggung jawabnya hanya pada Anggota DPR yang merekrutnya. Namun Tenaga Ahli Komisi tanggung jawabnya langsung pada nusa dan bangsa ini. Ngeri itu.

Salah saja naruh angka 1 digit di kesimpulan bisa fatal, berabe, karena terkait anggaran mitra kerja. Coba kalau saya tulis yang harusnya triliun tapi kalau satu digit hilang, kan bukan triliun lagi. Itu tanggung jawab terberatnya. Harus ekstra hati-hati dalam membuat kesimpulan rapat. Apalagi menyangkut masalah angka anggaran.

Dalam membuat kesimpulan, harus tepat juga terminologi yang digunakan, itu bisa tepat kalau kita menguasai dari awal isu-isu yang dirapatkan. Dan, mau tidak mau, harus membaca detail dokumen-dokumen yang dirapatkan pada rapat-rapat sebelumnya. Itulah yang saya sebut, bahwa membuat kesimpulan rapat bukan hanya menuliskan tetapi memahami isu yang beredar dalam rapat kemudian menyarikan isu itu dalam sebuah bahasa kebijakan yang mengikat.

Belum lagi jika ada anggota yang bertanya atau meminta bahan untuk mendalami suatu permasalahan. Seharusnya itu sudah dilakukan oleh Tenaga Ahli Anggota, apalagi sekarang TAA jumlahnya 5 untuk tiap Anggota, tetapi pasti ada saja–bahkan banyak–anggota yang meminta bahan dalam mendalami suatu permasalahan yang terkait dengan mitra kerja. Tenaga Ahli Komisi yang setiap hari menyimak isu-isu yang beredar di rapat dan menuangkannya dalam kesimpulan pasti tahu isu-isu strategis, Anggota lebih memilih bertanya pada Tenaga Ahli Komisi biasanya. Nah, di sini keahlian komunikasi dan keahlian analisa menjadi penting.

Tugas dari Pimpinan Komisi yang terutama, ini juga menjadi prioritas tugas Tenaga Ahli Komisi. Banyak tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh TA Komisi yang berasal dari pimpinan. Pimpinan adalah bos, sama dengan Direktur kalau di perusahaan, semua arahan dan perintahnya harus dikerjakan. Ini membutuhkan respon yang sangat cepat dari Tenaga Ahli Komisi. Ketika rapat misalnya, itu kenapa posisi duduk TA Komisi itu harus di belakang pimpinan, karena seringkali pimpinan menanyakan hal-hal yang terkait dengan banyak hal.

Nah bingung lagi kan? Hal-hal yang berkaitan dengan banyak hal. Ini bahasa tingkat tinggi..Ya pokoknya banyak hal yang ditanyakan, mulai dari aspek hukum, aspek kebijakan, sampai pada jumlah angka anggaran, dan terutama, Tenaga Ahli Komisi harus mampu memberikan saran jangan sampai ada hal-hal yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. Makanya, saya sebut di awal, karena salah saja memberikan saran, nusa dan bangsa taruhannya. Gak main-main.

Itu di saat rapat. Mari beranjak ke luar rapat. Di saat kunjungan kerja, maka tugas TA Komisilah yang menentukan harus dengan pihak mana saja anggota DPR bertemu, mitra mana saja yang diundang. Memang, pasti ada arahan dari pimpinan mengenai mitra kerja yang harus diundang, tetapi Term of Reference (ToR)-nya itu berasal dari TA Komisi yang membuat. Termasuk juga mempersiapkan kata sambutan pimpinan tim, nah ini juga penting. TA Komisi bukan hanya mempersiapkan materi rapat tetapi juga menyiapkan kata pengantar untuk sambutan pimpinan. Di situ ide-ide dari TA Komisi dituangkan terkait dengan tujuan kunjungan kerja, atau muatan-muatan yang ingin diperoleh dari suatu rapat. Termasuk juga membuat bahan bacaan terkait kunjungan kerja dan laporan dari kunjungan kerja menjadi tugas TA Komisi.

Ada yang bertanya lagi: Kalau gajinya sama atau tidak antara TA Komisi dan TA Anggota? Sama, alias tidak berbeda. Meskipun tugasnya lebih berat TA Komisi tetapi gajinya sama. Ah ujung-ujungnya minta naik gaji. Nggak, sama sekali tidak. Ini bukan curhat lho ya. Kalau dibilang curhat juga gak apa-apa sih, siapa tahu ada yang baca dari Anggota Badan Urusan Rumah Tangga DPR..hehe.

Biarkan urusan gaji itu biar takdir yang menentukan. Di awal saya sudah sampaikan bahwa TA Komisi dituntut untuk pengembangan diri atau wawasan. Gongnya di sini. Itu karena jika tanpa ada pengembangan diri yang dilakukan oleh TA Komisi, maka dalam membuat bahan bacaan, kata pengantar, atau kesimpulan rapat, akan terlihat sampai sejauh mana tingkat pengetahuan dan wawasan si Tenaga Ahli Komisi tersebut.

TA Komisi yang stagnan, dalam arti hanya bekerja tanpa ada upaya mengembangkan diri, maka dalam membuat kata pengantar atau bahan rapat, terkesan hanya formalitas. Tidak akan ada kajian-kajian yang sifatnya mendalam. Hanya berada di level permukaan, tidak menukik tajam. Sebaliknya, hasil akan kebalikannya jika TA Komisi itu mampu atau mau mengembangkan diri dan wawasannya. Ini sebagai otokritik juga bagi diri saya sendiri. Untuk mengingatkan diri pribadi bahwa idealisme itu adalah segalanya dalam bekerja.

Apa lagi enaknya jadi Tenaga Ahli Komisi? Poin ini yang sangat penting. Apa itu?

Saya misalnya sering menulis, baik di blog, artikel, atau untuk suatu riset. Ketika hasil tulisan itu digunakan untuk sebuah kebijakan penting yang dampaknya menyangkut seluruh penduduk Indonesia bagaimana rasanya? Tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata. Pasti senang. Percuma membusa di blog atau di media sosial, nulis beratus-ratus kata, menguap begitu saja. Memang ada manfaatnya yaitu dibaca banyak orang, tetapi bayangkan jika hasil tulisan itu akan mempengaruhi suatu kebijakan? Itulah kenikmatan sejati sebagai TA Komisi. Yaitu, di saat ide atau tulisan kita dijadikan bahan penentu dari suatu kebijakan.

Dan, itulah yang mengharuskan saya untuk terus bersyukur dalam hidup ini. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin.**[harjasaputra/TA Komisi VIII].

Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: [email protected]

KOMENTAR

To Top