Connect with us

Doa Romo Syafi’i, Setan, dan Orang yang Kurang Piknik

Polhukam

Doa Romo Syafi’i, Setan, dan Orang yang Kurang Piknik

Romo Syafii di saat di Komisi VIII DPR (harjasaputra)

Pas saya dengar katanya Romo Syafi’i disebut setan, jawab saya singkat, “La ya’rifu wali illa wali, wa la ya’rifu syaitan illa syaithan“. Tidak ada yang tahu seorang itu wali kecuali dia wali, dan tidak ada seorang pun yang tahu setan kecuali ia setan. So simple.

Doa adalah hak bagi setiap orang. Itu jelas dijamin oleh konstitusi kita. Setiap orang dipersilahkan untuk berdoa, apapun doanya. Ada yang mempermasalahkan kok doa dicampur dengan politik. Lho memang ada aturan doa tidak boleh seperti itu? Setahu saya tidak ada. Coba kalau ada sebutkan rowahu siapa, sanad dan matannya apa. Tidak bakal nemu.

Apa yang disampaikan oleh Romo Syafi’i saya dengar sendiri tidak ada unsur kejahatan di dalamnya. Hanya rasa iba dan khawatir dengan kondisi negeri ini lalu dituangkan dalam doa, yang memang disampaikan pada acara kenegaraan. Hal serupa tahun kemarin pernah terjadi, yang memimpin doa adalah KH Khairul Muna. Biasa-biasa aja tuh. Kenapa hanya karena Romo Syafi’i berasal dari partai oposisi lalu heboh? Itu tendensius namanya.

Apa yang salah dengan kekhawatiran terhadap kondisi bangsa? Semua orang bahkan harus khawatir dengan kondisi bangsa saat ini. Dari segi ekonomi sedang menurun, anggaran dipotong sampai dua kali, itu menunjukkan bangsa ini perlu perhatian dari semua pihak. Itu baru dari aspek ekonomi. Belum lagi dari banyak aspek lain.

Doa memang tidak menyelesaikan permasalahan, tetapi dengan doa bisa membangkitkan aspek spiritual. Spiritual juga merupakan salah satu Sebab (causa) dari berbagai kenyataan. Itu tidak bisa dipungkiri. Kecuali bagi yang tidak beragama, doa tidak akan berarti apa-apa.

Ketika Musa dikejar oleh Fir’aun maka doa Musa-lah yang menjadi sebab dibukanya lautan. Bagi yang tidak mempercayai doa, tentu akan menyangkal itu. Akan dicari alasan-alasan logis dari aspek sains dari fenomena itu. Tidak ada masalah dengan itu. Dari segi hukum sebab-akibat, yang namanya sebab itu tidak dapat diketahui berapa jumlahnya. Sebab atau causa unlimited. Doa adalah salah satu sebab itu. Doa sifatnya immateri, di mana aspek immateri pun dapat mempengaruhi aspek materi. Akan panjang kalau membicarakan tentang ini. Ranahnya kajian filsafat dan metafisika.

Tentang Romo Syafi’i, saya cukup mengenal dekat beliau, bahkan pernah menulis tentang kiprahnya semasa Romo di Komisi VIII DPR RI. Di antaranya ia sangat gigih memperjuangkan kemashlahatan bagi jemaah haji pada tahun 2015 (silahkan baca di link ini).

Sesaat setelah Romo membaca doa saya kirim SMS kepadanya, “Mabruk Romo..doanya mengguncang Indonesia. Mantap” (lebay dikit). Dijawab sama Romo, “Siaaaap staf ahli khusus romo..” 

Itu menunjukkan selain saya dekat, juga hormat pada Romo. Beliau adalah sosok yang benar-benar saya hormati. Bukan karena dekat, tapi memang karena beliau orang baik. Dari segi kapasitas sangat memadai. Kini beliau sebagai ketua Pansus mengenai terorisme. Dari segi integritas juga tidak kalah. Dapat dikatakan bahwa ia adalah sosok wakil rakyat yang sampai saat ini konsisten dan menjaga diri. Saya jarang lho membuat testimoni terhadap para wakil rakyat. Jadi tidak sembarangan testimoni ini.

Daripada mengumpat kepanasan sampai menyebut setan, halaah saya tahu betul siapa orangnya yang menyebut itu. Dulu pernah berdebat dengan saya masalah haji. Saya jabanin sampai di mana malah lari kemana-mana. Saya kejar argumentasinya ke kanan dia lari ke kiri, saya kejar ke kiri dia lari ke selatan, saya kejar ke selatan dia lari ke utara. Model kayak gitu gak level kalau harus disandingkan dengan Romo Syafi’i. Keenakan dia numpang tenar.

Nah kan jadi saya juga kena panas. Oh tapi kalau saya hati panas kepala dingin.

Intinya, kita seringkali menanggapi fenomena dari kacamata diri kita sendiri. Semua salah semua benar patokannya adalah perspektif pribadi, yang boleh jadi tidak sesuai dengan kondisi objektif. Berpikirlah yang adil, berimbang, mengambil dari berbagai sisi. Pramoedya pernah bilang, kalau dalam pikiran saja kita tidak bisa adil, bagaimana mungkin bisa adil dalam tindakan.

Masalah doa saja kok pada ribet, wong Tuhan aja santai, masa iya Tuhan tersinggung dengan doa Romo? Kurang piknik ente kalau punya keyakinan kayak gitu. Piknik dulu gih.**[harjasaputra.com]

Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: [email protected]

KOMENTAR

To Top