Connect with us

Empatiku untuk Ruyati: Sebuah Penghayatan Keyakinan

Sosbud

Empatiku untuk Ruyati: Sebuah Penghayatan Keyakinan

Pedih mendengar berita tentang TKW kita di Arab Saudi yang dihukum pancung. Ngeri, kok tega ada hukum seperti itu. Gara-gara membunuh karena sering dianiaya, membela hak hidupnya yang teraniaya apakah harus dipancung? Ini bisa melebar ke mana-mana pembicaraannya, ke masalah tatanan negara, apa betul negara-agama itu harus seperti itu? Mbok ya diteliti dulu sebab-sebabnya. Jangan asal main pancung aja.

“Sudah, itu sudah melalui proses pengadilan berarti sudah diteliti”, kata teman saya dalam sebuah perbincangan. Iya, tapi yang neliti orang Arab-arab juga sama saja bohong. Orang Arab itu menganggap pembantu sebagai budak yang bisa diapa-apain sesuka majikan. Itu kultur yang sudah terbentuk di sana.

Bukan bermaksud menyebar kebencian terhadap bangsa Arab atau lebih jauhnya sistem negara Islam yang diterapkan di sana. Tetapi minimal kasus ini, dan rangkaian kasus-kasus lain, menyadarkan kita bahwa sistem negara demokrasi yang diterapkan di negara kita adalah pilihan tepat. Bayangkan kalau sistem negara-agama (teokrasi) yang diterapkan, sudah berapa banyak yang dibunuh. Agama itu kan punya Tuhan, lho wong Tuhan saja membiarkan kenapa kok manusia berani-beraninya mendahului Tuhan. Siapa yang berkuasa sih sebenarnya.

“Bang, Tuhan tidak mungkin bisa langsung membunuh makanya harus melalui manusia yang menegakkan hukum-Nya”, katanya.

“Sungguh salah memilih Tuhan yang ada satu hal Dia tidak bisa. Tuhan kok punya keterbatasan”, ujarku.

“Justru bagus itu, coba kalau hukum pancung diterapkan juga di kita agar para koruptor kapok”, sela temenku.

“Agama diturunkan untuk mengajak kebaikan. Puncak kebaikan adalah kesadaran, berbuat baik bukan karena terpaksa, tetapi memang sadar kalau itu baik. Terus bagaimana bisa berbuat baik, kalau hidupnya saja dihilangkan. Kalaupun mau menghukum jangan dihilangkan kesempatan hidupnya, tapi batasi kebebasannya. Karena kebebasanlah esensi manusia yang membedakannya dengan makhluk lain. Dan, menurut sejarah yang saya baca, semasa Nabi hidup, Nabi tidak pernah menerapkan hukuman mati atau hukuman pancung meskipun ada nashnya. Silahkan dicek oleh ahli sejarah, suguhkan ke saya bukti atau kasus Nabi pernah mengeksekusi hukuman mati”, jawabku.

Saya bangga negara demokrasi, hidup tenteram asal kita baik. Koruptor biar masalah hukum yang menentukan. Kalaupun hukum masih belum memberikan efek jera bagi mereka atau mungkin karena hukumnya pilih kasih, mbok ya kita jangan mengikuti seperti itu. Moso iri dengan orang yang berbuat jahat, iri harus terhadap orang yang berbuat baik. Biarlah mereka yang berbuat jahat diurus sama Tuhan. Tuhan punya caranya sendiri. Bukan dengan dipancung oleh Tuhan, tapi kegelisahan. Orang yang gelisah, stress, dihantui rasa bersalah, lebih tersiksa daripada dihukum mati.

Salam demokrasi…**[harja saputra]

 

Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: [email protected]

KOMENTAR

To Top