Connect with us

Sosbud

Inilah Alasan Saya Tidak Mau Ikut-ikutan Meminta Maaf Menjelang Ramadhan dan Lebaran

Published

on

Broadcast pesan melalui berbagai media berhamburan seiring masuknya Bulan Ramadhan. Traffic operator seluler di hari-hari menjelang puasa meningkat tajam, dan akan makin meningkat hingga Lebaran. Bahkan pada malam lebaran dan hari pertama-kedua Lebaran operator seluler biasanya akan over traffic sampai mengirim SMS dan menelepon pun tidak bisa.

Hanya untuk apa semua over traffic itu? Hanya untuk satu kata: Kata “Maaf”. Meminta maaf di Indonesia, bahkan di seluruh negara Muslim, memang sudah menjadi budaya terutama pada saat masuk bulan Ramadhan dan Lebaran (Syawal). Tidak jarang terjadi kelucuan-kelucuan dalam budaya “minta maaf” ini. Pesan-pesan SMS dengan bahasa-bahasa puitis dikarang begitu indah dan dibroadcast massal ke nama-nama yang ada di Phonebook HP. Pesan itu telah menjadi pesan massal, melanglangbuana entah ke mana dan akhirnya hinggap lagi ke si pengirim.

“Nah lho, kok pesan ini rasanya karangan saya yang waktu kapan dikirim kok balik lagi”, ujar seorang teman.

Bahkan, orang yang tak mau pusing untuk mengarang indah pesan Maaf, akan memforward lagi pesan maaf yang diterimanya langsung ke si pengirim. Banyak lagi peristiwa lucu dari “Pesan Maaf” ini, yang mayoritas bukan meminta maaf sebenarnya tetapi membroadcast pesan yang isinya maaf.

Meminta maaf di hari suci Ramadhan dan Lebaran memang dianjurkan tetapi bukan dengan cara membroadcast pesan yang isinya maaf. Beda jauh, antara meminta maaf dengan membroadcast pesan maaf. Meminta maaf dan memaafkan itu apa? Maaf itu menyesali perbuatan yang telah dilakukan dan tidak akan mengulangi lagi. Maaf adalah sikap korektif (berusaha dengan tulus untuk meminta maaf dan memaafkan), dan yg lebih penting progresif, yaitu untuk tidak mengulangi lagi atau lebih baik lagi dalam berperilaku ke depannya. Esensi maaf yang sebenarnya adalah bukan pada kesalahan, tetapi tidak berbuat salah di masa depan. Jika fokusnya di kesalahan maka akan terus berbuat salah dan gampang nanti juga minta maaf.

Meminta maaf sudah mengalami pendangkalan makna, bahkan tak jarang hanya seremonial belaka. Toh, setelah lewat bulan puasa, kesalahan serupa diulangi lagi. Menyakiti orang lain dengan perkataan buruk tetap hobi, menyakiti tetangga dengan menggunjing tetap dilakukan, mengumbar tindakan yang menyakiti orang lain tetap dikerjakan. Lantas apa gunanya Maaf itu?

Tidak hanya itu, lihat saja nanti pas puasa tiba dan menjelang buka puasa. Di jalan lalu lalang kendaraan bakal tak karuan, karena setiap orang berlomba-lomba untuk mengejar makanan dan minuman. Tak jarang diwarnai caci maki karena tak sabar untuk berbuka. Padahal baru saja hari sebelumnya minta maaf, eh hari setelahnya caci maki itu keluar begitu saja. Sungguh maaf yang mana yang dipakai oleh mereka.

Itulah kenapa, saya tidak melibatkan diri dalam tradisi budaya “Maaf Semu” ini, apalagi membroadcast pesan-pesan maaf sudah lebih dari 3 tahun tidak melakukannya. Bukan anti terhadap minta maafnya tetapi anti terhadap kemapanan berpikir bahwa maaf itu harus dibroadcast. Di saat saya harus meminta maaf kepada orang tua, saya datang langsung ke orang tua, dengan tulus dan bersimpuh meminta maaf pada keduanya. Kalaupun saya merasa bersalah kepada seseorang, saya datang langsung ke rumahnya. Bukan dengan membroadcast pesan. Pertanyaan mendasarnya, apakah meminta maaf dan memaafkan segampang itukah sehingga hanya dengan SMS, email atau pesan lain, bisa memaafkan?

Selain itu, meminta maaf dan memaafkan seharusnya bukan hanya di bulan Ramadhan, tetapi sikap konsisten di bulan-bulan lain yang ditunjukkan dengan berlaku baik, tidak melakukan perbuatan yang dapat memancing orang berbuat salah. Sikap konsisten untuk memaafkan orang lain yang berbuat salah atasnya. Kenyataannya apa yang terjadi? Kemarin saja dua orang di saat lalu lintas macet adu mulut karena peristiwa tak seberapa, hanya motor yang menyerempet spion mobil. Cuma menyerempet spion tidak sampai pecah harus adu mulut sementara di kaca belakangnya terpampang kalimat suci dua kalimat syahadat, sungguh ironi. Kenapa tidak memaafkan saja toh tidak seberapa. Oh mungkin nanti saja pas Ramadhan minta maafnya. Apa memang begitu? Silahkan dihayati.**[harja saputra]

Dimuat juga di Kompasiana dan menjadi Headline: http://sosbud.kompasiana.com/2011/07/31/meminta-maaf-bukan-membroadcast-pesan-berisi-maaf/

Komentar

Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: [email protected]