Connect with us

Review Film “War Room”: Ketika Doa adalah Senjata

Sosbud

Review Film “War Room”: Ketika Doa adalah Senjata

War Room (imdb.com)

Film drama di akhir tahun 2015 yang layak Anda tonton: War Room. Disutradarai oleh Alex Kendrick dan diperankan oleh Karen Abercrombie, T.C. Stalling dan Priscilla Shirer. Film bernuansa religi Kristiani, meskipun sesungguhnya tidak hanya layak ditonton oleh orang Kristen, tetapi juga oleh semua orang yang mencintai nilai-nilai kemanusiaan.

Film ini sarat dengan nilai-nilai humanisme, menggugah kesadaran bahwa doa bisa mengubah hidup seseorang. Bercerita tentang kehidupan Keluarga Liz dan Tony yang diambang kehancuran. Tony adalah seorang pekerja keras sebagai pemasar produk kesehatan. Hidupnya sukses, namun kesuksesannya membuatnya lupa terhadap keluarga. Liz sudah putus asa karena terus bertengkar dengan Tony. 

Hidup Liz berubah ketika ia bertemu dengan Nyonya Clara, mantan istri pejuang yang ditinggal mati oleh suaminya. Nyonya Clara mengajarinya apa yang ia sebut “Strategi Berperang melawan Iblis”. 

“Musuhmu adalah bukan suamimu, tetapi iblis. Serahkan semuanya pada Tuhan”, ujar Nyonya Clara.

Nyonya Clara memiliki ruangan yang ia sebut “War Room”, yaitu ruangan atau lemari pakaian yang ia gunakan untuk tempat berdoa. Di situlah semua keinginan dan harapan ia tuliskan dan ditempel di dinding lemari tersebut.

Tentu saya tidak akan menceritakan semua alur cerita dari awal hingga akhir agar Anda tidak kehilangan momen di saat menonton film bagus ini. Inti dari alur film ini adalah munculnya berbagai keajaiban sebagai akibat dari doa dan penyerahan diri secara total pada Tuhan.

“Ternyata Tuhan itu memang ada”, seperti diungkapkan oleh Liz di saat semua kepedihan hidupnya berangsur pulih. Doa yang ia panjatkan memiliki pengaruh nyata. 

Dari film ini saya pun mengambil kesimpulan bahwa nilai-nilai kemanusiaan di semua agama ternyata sama. Nilai-nilai universal seperti kejujuran diberikan contoh nyata dalam film ini. Tony berani mengembalikan sampel obat yang ia curi ke perusahaan tempat ia bekerja meskipun dengan konsekuensi harus dipenjara. Setiap yang baik akan membuahkan hasil yang baik pula. Film ini membawa kita ke arah hal itu. Karena kejujurannya itu Tony dibebaskan dari tuntutan, karena menurut bosnya jarang ada pegawai yang sudah dipecat lantas datang lagi mengembalikan apa yang sudah diambilnya.

Nilai universal lain yang dikampanyekan adalah membalas kejahatan bukan dengan kejahatan tetapi justru dengan kebaikan. Tony berbuat baik pada bosnya yang telah mengancam dia untuk memasukkannya ke penjara dengan kebaikan, yaitu menggantikan ban ketika mobil bosnya mogok.

Liz yang awalnya sangat marah pada Tony, tapi kemudian berbalik dengan berbuat baik pada Tony. Selalu menyebut namanya dalam setiap doa yang ia panjatkan. Sebagai ganjarannya, iblis pun lalu dikalahkan oleh rahmat Tuhan. Tony sadar dan happy ending.

Cerita yang terkesan klasik memang, tetapi bukankah nilai-nilai universal memang selalu klasik. Dari dulu hingga kapan pun tidak akan pernah berubah. Selalu sama dan dapat diterima oleh semua orang, tetapi kadang kita lupa terhadap hal itu, atau terlupakan dikarenakan dininabobokan oleh gaya hidup dan tuntutan zaman. 

Untuk menyadarkan kita agar kembali pada nilai-nilai kemanusiaan, film ini sangat direkomendasikan untuk ditonton.**[harjasaputra] 

Baca selengkapnya

Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: [email protected]

KOMENTAR

Terbaru

Populer

To Top