Connect with us

15 Tahun Jembatan Ini Rusak

Nasional

15 Tahun Jembatan Ini Rusak

Jembatan di Desa Lere (harjasaputra)

Desa Lere, Kecamatan Parado, Kabupaten Bima, desa yang bersebelahan dengan kampung Ketua MK, Hamdan Zoelva, jaraknya sangat jauh dari kota. Harus menempuh perjalanan 65 km dengan jalan terjal penuh batu dan jurang menganga di pinggir-pinggirnya. Belum ada listrik ke desa ini.

Dari Desa Rato, kampung Hamdan Zoelva, melewati Desa Kuta kemudian sampai di Desa Lere melewati hutan lebat yang penuh dengan tanaman kemiri. Saya bersama anggota DPR-RI Dapil NTB, Abdurrahman Abdullah, berkesempatan mengunjungi desa terpencil yang berada di lereng gunung ini, Minggu (3/11). Bermaksud melihat jembatan yang dikeluhkan oleh masyarakat Desa Kuta dan Desa Lere. Mereka menyebutkan bahwa ada jembatan putus.

Setibanya di lokasi, benar saja, mata disuguhkan pemandangan yang mengherankan. Meskipun kurang tepat disebut “jembatan putus”, yang tepat adalah “jembatan yang ditelantarkan”.

Jembatan besi kokoh membelah sungai sepanjang 60 meter. Mengherankan karena jembatan besi yang kokoh tersebut Hanya beralaskan kayu yang dibuat oleh warga, tidak beraspal. Jurang menganga di setiap sambungan besi. Tidak ada mobil yang bisa melewati jembatan itu. Motor pun melewati harus dengan sangat hati-hati. Karena kayu-kayu yang ditebar di jembatan tidak dipaku secara permanen. Ketika diinjak ban bergeser posisinya.

Menurut Kepala Desa Lere, Zufrin, yang juga ikut bersama kami saat itu, jembatan Lere sudah lama terbengkalai. Sudah 15 tahun, sejak pengerjaan tahun 1998, di era terakhir Soeharto. Jembatan ini merupakan jalur alternatif yang menghubungkan Kabupaten Bima dengan Kabupaten Dompu. Tujuannya adalah untuk membangun jalur ekonomi yang menghubungkan banyak desa yang terpisah oleh aliran sungai lebar. Tapi sampai saat ini ia mengeluhkan tidak pernah rampung.

“Sudah ditinjau juga oleh Bupati Bima, tapi tidak ada tindak lanjut apapun”, ujar Kepala Desa Lere.

Abdurrahman Abdullah selaku wakil rakyat NTB terlihat berjalan ingin melihat langsung kayu-kayu yang dihamparkan di jembatan. Sesekali bertanya mengenai anggaran biaya yang dibutuhkan agar jembatan ini bisa berfungsi normal.

“Butuh 30 juta”, ujar Kepala Desa.

“Hanya butuh segitu?”, tanya Anggota DPR-RI.

Setelah meninjau lokasi jembatan, Anggota DPR-RI dari Fraksi Partai Demokrat ini, meminta disiapkan proposal agar ia bisa mencoba mencarikan dana untuk jembatan tersebut.

“Saya tidak ingin berjanji, tapi akan berusaha mencarikan solusi. Toh anggarannya tidak besar, mudah-mudahan ada dana-dana CSR dari BUMN yang bisa dialokasikan untuk membantu rampungya jembatan ini. Karena jika jembatan ini bisa berfungsi normal, perekonomian antar-desa yang terpisah oleh sungai tersebut akan terbantu karena mobilitas dapat lebih mudah”, ujarnya.

Kepala Desa Lere sangat berterima kasih atas kehadiran dan niat dari anggota DPR dari pusat tersebut. Selama ini belum ada wakil rakyat sama sekali yang berkunjung ke daerah terpencil itu.

Ada pemandangan menarik di jembatan ini. Di bawah jembatan terlihat anak-anak sedang mandi, ada juga yang sedang memandikan motor. Seakan tidak takut jika ada kayu jatuh dari atas jembatan.

Masyarakat sekitar Desa Lere dan desa yang lain pun sangat mengharapkan jembatan ini dapat berfungsi normal.

“Kalau jembatan ini bisa dilalui oleh mobil, kami sangat senang. Tidak akan lagi kesulitan untuk mengirim keperluan ke desa sebelah. Akan sangat menunjang juga bagi usaha kami. Mayoritas penduduk di Desa ini adalah petani kemiri dan nelayan rumput laut. Akan mudah bagi kami untuk mengangkutnya ke kota”, ujar Asy’ari, salah satu warga yang mengatakan hal itu di saat ketemu dengan Anggota DPR-RI yang sejak siang hingga malam selain mengunjungi jembatan juga berbincang-bincang dengan warga di rumah Kepala Desa Lere.**[harjasaputra]

Baca selengkapnya

Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: [email protected]

KOMENTAR

Terbaru

Populer

To Top