Connect with us

Nasional

Bom Bunuh Diri di Rumah Ibadah: Upaya Adu Domba Lewat Isu Agama

Published

on

Sumber: kompas.com

Bom bunuh diri terjadi lagi. Kali ini terjadi di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton, Solo, Minggu (25/9/2011) pukul 10.55 WIB.  Hal ini bisa diinterpretasikan dengan berbagai macam: isu politis, isu budaya, bahkan bisa melebar ke isu SARA, isu agama.

Hal ini terbukti dari beberapa komentar dari pembaca yang mengomentari berita tersebut. Di Kompas.com misalnya itu sudah terlihat. Ada sebuah akun, yang mengomentari dengan komentar yang sama, pada semua berita yang terkait dengan bom Solo tersebut, yang menjurus ke isu SARA. Bahkan yang membalas komentarnya pun jadi ikut terpancing.

Silahkan tengok ke berita di Kompas.com di http://regional.kompas.com/read/2011/09/25/13172342/Polisi.Kami.Duga.Kuat.Bom.Diri

atau: http://nasional.kompas.com/read/2011/09/25/13105214/PPP.Kutuk.Bom.Bunuh.Diri.Solo

Dan berita-berita lain yang memberitakan bom Solo siang ini sudah panas, saling memojokkan dan membawa atas nama agama. Ini bahaya, karena jika demikian, maka tujuan dari si pelaku bom berhasil: memecah belah persatuan bangsa dengan isu agama.

Selain itu, saya menyesalkan pemberitaan yang dilakukan oleh Media Indonesia di salah satu berita onlinenya yang tidak akurat dalam memberitakan. Ini akan menyulut suasana. Media Indonesia memberitakan bahwa: “Satu orang diduga pelaku bom dinyatakan tewas usai meledakan diri di dalam Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS).” Kata “di dalam” jelas bukan di luar, sementara faktanya bom bunuh diri ditujukan ke pintu gereja bukan di lakukan di dalam gereja. Karena kegiatan ibadah sudah selesai, dan bom meledak di saat jemaah sedang bubar dan hendak pulang.

Dari analisis saya, si pembom sebetulnya sedang bertarung dengan diri sendiri. Kenapa ia meledakkan pada saat bubar, bukan sedang berlangsung ibadah? Kenapa ke pintu bukan ke kerumunan orang? Karena si pelaku tahu bahwa korban akan sangat banyak yang meninggal jika ia melakukan demikian. Motifnya bukan murni kebencian terhadap simbol-simbol agama. Pasti ada motif lain.

Untuk menelusuri motif dari si pembom memang sangat susah, apakah motif teologis, politis ataukah motif lain. Tetapi, peristiwa ini sudah berulang kali terjadi. Bisa saja motifnya ideologis atau teologis, tetapi jika demikian, maka sesungguhnya bukan agamanya yang harus dilihat, tetapi pemahaman orang terhadap doktrin agama. Karena agama itu subtsansi, tetapi jika sudah mampir ke dalam pikiran manusia maka pemahamannya bisa menjadi beraneka macam, dan sifatnya menjadi relatif. Seperti halnya sinar matahari yang masuk ke dalam prisma maka akan keluar menjadi beragam warna. Begitu juga dengan pemahaman manusia. Ajaran agama yang dibawa melalui kabar-kabar dan riwayat orang per orang dan jaraknya sudah sangat jauh maka besar kemungkinan untuk mengalami degradasi atau malah penambahan dari sumber awalnya.

Pemahaman manusia terhadap agama harus direvisi, jangan sampai tercampur oleh “bahan-bahan kimiawi” yaitu merasa diri paling benar, yang lain salah, dan menonjolkan perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Membom itu, apapun dalihnya, jelas bertentangan dengan nilai kemanusiaan. Lebih baik mencari persamaan antar-agama yang ada daripada mencari perbedaan yang pasti banyak perbedaan yang tidak mungkin disamakan.

Agama sifatnya membebaskan manusia dari belenggu tirani, membebaskan manusia dari kerusakan, membebaskan manusia dari kebodohan, membebaskan manusia dari berbagai halangan untuk mencapai kesempurnaannya. Jika agama mengajarkan manusia untuk saling bermusuhan maka yakinlah itu bukan dari agama tetapi dari “campuran-campuran kimiawi” yang mengatasnamakan agama. Jika agama menjadi penghalang untuk perdamaian maka jangan segan-segan untuk mengkritiknya karena agama bersifat terbuka untuk setiap penafsiran yang bersifat kebaikan bagi manusia.

Aspek politis bisa saja terjadi, Solo yang terkenal aman, dikeruhkan oleh bom bunuh diri tersebut. Hal ini bisa dirunut dari aspek politis sebagai buntut dari peristiwa 9 September, atau ditangkapnya gembong teroris Umar Patek, dan banyak aspek lain yang sangat banyak.

Hal yang paling penting bagi kita sebagai “yang waras” adalah tidak terpancing dengan isu SARA ini. Kita sudah lama berbeda dari segi agama, tetapi bisa akur. Inilah kelebihan Indonesia. Jangan sampai peristiwa ini kembali mengusik rasa persatuan masyarakat Indonesia.**[harja saputra]

 

Komentar

Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: [email protected]