Connect with us

Curriculum Vitae Polesan

Nasional

Curriculum Vitae Polesan

Ilustrasi: Google Picasa

Curriculum Vitae (CV) yang berisi riwayat hidup sering digunakan  para pelamar pekerjaan ketika melamar untuk pekerjaan tertentu. CV juga sering digunakan untuk dicantumkan oleh penulis jika mengirim tulisan ke media-media atau untuk dijadikan buku.

Tapi, ternyata CV mayoritas polesan, bahkan harus dipoles agar kelihatan “wah”, ditampilkanlah riwayat pekerjaan yang “serem-serem” biar nampol katanya. Tujuannya agar dinilai memiliki kompetensi yang sesuai dengan pekerjaan yang diinginkan. Dituliskan: pernah bekerja sebagai supervisor, padahal sebetulnya mandor. Pernah bekerja sebagai operator, padahal sebenarnya kuli. Pernah bekerja sebagai wiraswastawan, padahal sebenarnya pekerjaan sambilan. Pernah bekerja sebagai sales, padahal sebenarnya pedagang asong. Banyak lagi contoh lain yang sengaja kata-katanya dipoles biar terlihat lebih maknyus.

Suatu waktu saya ingin mencoba melamar pekerjaan. Kebetulan ada salah satu stasiun TV swasta yang membuka lowongan. Di pengumumannya tertulis, “Membutuhkan banyak insan muda yang kreatif dan senang dengan tantangan. Kirimkan CV Anda ke alamat bla..bla..bla”. Wah, boleh  tuh dicoba.  Lalu dituliskanlah riwayat pekerjaan saya yang sebenarnya, seperti pernah menjadi pedagang asong di terminal, penggembala sapi, tukang ojek, juru ketik di rental komputer, tukag foto copy, karena memang itu riwayat pekerjaannya. Secara pendidikan tidak ada masalah, toh gini-gini juga sarjana, meskipun lulus dengan tertatih-tatih.

Malang nasib, CV yang dibuat jujur sepertinya mereka tidak butuh, yang dibutuhkan adalah yang punya pengalaman kerja–atau mencantumkan pekerjaan– yang “wah”. Lalu saya ditanya oleh teman yang kebetulan diterima,

“Memang dulu bikin CV-nya gimana?”

“Saya cantumin semua riwayat pekerjaan saya (seperti disebutkan di atas)”.

“Panteees..melamar jadi wartawan kok penggembala sapi, pedagang asong, juru ketik dicantumkan. Kenapa tidak dicantumkan tentang dulu kita pernah bikin film untuk lomba FFI, pernah bikin skenario iklan, dan riwayat lain yang dulu pernah kita lakukan?”

“Lho, itu kan bukan pekerjaan”.

“Iya, tapi itu buktinya saya diterima”, kata teman saya.

Oalaaah, jadi harus gitu toh kalau melamar pekerjaan, bohong dikit kalau mau diterima kerja. Pekerjaan serabutan, sambilan, kok dicantumin sebagai pekerjaan. Akhirnya, sejak itu saya tidak pernah lagi melamar kerja ke manapun. Ikuti saja arus hidup harus ke mana. Daripada saya harus bohong. Lagian, siapa juga yang mau menerima jadi pekerja kalau backgroundnya anak jalanan, penggembala, kuli, dan pesuruh. Ah, sudahlah memang bukan di situ pekerjaanku mungkin.

Cuma nasib saja kali sekarang saya jadi tenaga ahli DPR. Coba kalau disuruh bikin surat lamaran juga dan dicantumkan pedagang asong dan penggembala sapi lagi. Mungkin tidak akan diterima lagi. Untungnya dites sama anggota Dewan yang terhormat langsung skill, disuruh bikin konsep berita bisa, disuruh bikin contoh website bisa, disuruh bikin untuk bahan riset bisa, disuruh analisis masalah kasus politik dan ekonomi bisa, walhasil semua yang dites masalah skill waktu itu bisa dikerjakan. Untung tidak disuruh kasak-kusuk masalah anggaran.**[harja saputra]

Ini  riwayat hidup saya yang asli, klik Di Sini.

Dan  ini adalah riwayat pekerjaan, klik Di Sini.

Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: [email protected]

KOMENTAR

To Top