Connect with us

Desy Ratnasari Mendadak Jadi ‘Kondektur Bus’ di Manado

Nasional

Desy Ratnasari Mendadak Jadi ‘Kondektur Bus’ di Manado

Desy Ratnasari mendadak jadi ‘kondektur’ di Manado (harjasaputra)

"Ayo siapa lagi yang belum?", teriak Desy Ratnasari sambil berjalan di dalam bus layaknya kondektur berkeliling ke seluruh penumpang bus.

Fenomena menarik di atas terjadi pada hari Senin lalu (23 Februari 2015), pada saat Teh Desy dan 14 Anggota DPR RI Komisi VIII melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Sulawesi Utara.

Setelah berkunjung ke Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Model Manado dan ke rumah Janda Lanjut Usia Terlantar yang mendapat bantuan asistensi dari Dinas Sosial setempat, para Anggota Komisi VIII dengan dikomandoi oleh Wakil Ketua Komisi, Sodik Mudjahid, tergerak hati untuk secara spontan mengumpulkan bantuan dari para anggota Dewan.

Dana yang terkumpul kemudian diberikan pada Panitia Pembangunan Masjid MAN Model dan kepada tenaga asistensi Janda Lanjut Usia Terlantar.

“Kami sangat mengapresiasi gerakan Rp.1000 (seribu rupiah) / hari yang dilakukan oleh siswa, guru, dan orang tua siswa yang ada di MAN Model Manado untuk pembangunan masjid. Sebagai bukti kepedulian kami pun ingin berkontribusi. Semoga bantuan yang spontan ini dapat menjadi berkah bagi usaha yang mulia tersebut”, ujar Sodik Mudjahid.

Prasasti Gerakan Seribu Rupiah Per Hari untuk pembangunan Mesjid di MAN Model Manado (harjasaputra)

Hal serupa disampaikan pula oleh Desy Ratnasari. Ia mengaku terharu dengan ketulusan para siswa dan tenaga asistensi untuk janda lanjut usia terlantar yang ditemuinya.

“Mudah-mudahan berkah. Tadi pokoknya saya tegas minta kepada para anggota Dewan. Gak boleh kurang dari nilai yang ditetapkan, kalu lebih boleh. Swadaya masyarakat melalui gerakan seribu rupiah per hari perlu didukung. Asistensi untuk para orang tua lanjut usia terlantar juga sangat penting agar mereka tidak merasa tersingkir dari masyarakat. Di samping aspirasi-aspirasi lain dari para guru dan dari pihak Kanwil Kementerian Agama yang diutarakan pada diskusi harus ditindaklanjuti para rapat-rapat dengan mitra kerja terkait”, ujar pelantun Tenda Biru yang terpilih menjadi Anggota DPR dari Dapil Sukabumi.

Anggota Komisi VIII DPR RI pun melakukan pertemuan dengan Gubernur Sulawesi Utara untuk mendiskusikan masalah keagamaan, sosial, penanganan bencana serta pemberdayaan perempuan dan anak yang merupakan bidang kerja Komisi VIII.

“Kebenaran bukan milik satu orang atau kelompok tertentu. Para pemeluk agama boleh memiliki keyakinan mutlak mengenai kebenaran agamanya, tetapi pada saat yang sama harus menghormati keyakinan orang lain. Untuk itu Forum Kerukunan Umat Beragama mutlak diperlukan”, jelas Achmad Mustakim, politisi dari PPP mengutarakan pandangannya di hadapan Gubernur Sulawesi Utara.

Bidang Kerukunan Umat Beragama menjadi salah satu fokus kunjungan kerja Komisi VIII ke Manado. Hal itu dikarenakan dari aspek agama di Provinsi Sulawesi Utara sangat majemuk namun hidup rukun berdampingan. Dengan semboyan “Torang Samua Basudara” mencerminkan kerukunan antar-umat beragama tersebut.

Saraswati Rahayu dan Desy Ratnasari di saat meninjau penampungan untuk kasus kekerasan perempuan dan anak di Manado (harjasaputra)

Kunjungan lain yang dilakukan Komisi VIII adalah meninjau shelter untuk kasus pengaduan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Saraswati Rahayu Djojohadikusumo yang merupakan aktivis kasus human trafficking mengapresiasi apa yang sudah dilakukan oleh Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Anak Provinsi Sulawesi Utara.

Komisi VIII DPR RI pun melakukan kunjungan ke kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk melihat secara langsung program penanggulangan bencana. Seperti diketahui, pada bulan Januari 2014 lalu Kota Manado diterpa Banjir bandang yang merusak sarana dan prasarana penduduk di kota tersebut. Potensi bencana selain banjir juga terdapat empat gunung berapi yang berada dalam status siaga.

Kunjungan kerja komisi VIII ke BPBD Sulut (harjasaputra)

Fenomena yang tak kalah menarik di saat kunjungan kerja tersebut adalah rutinitas “meminta berfoto” oleh masyarakat kepada Desy Ratnasari, yang dikenal luas oleh masyarakat sebagai artis. Di manapun, di saat kunjungan ke kantor Gubernur, ke sekolah, bahkan pada saat Teh Desy belanja masyarakat banyak yang meminta berfoto. Pada saat hendak pulang menuju Bandara pun anggota dewan yang lain harus menunggu karena banyaknya yang meminta berfoto. Teh Desy selalu mengiyakan dengan ramah.

Meminta berfoto bersama Desy Ratnasari (harjasaputra)
Berfoto bersama dengan para siswa (harjasaputra)

“Teh Desy, boleh minta berfoto dong”, teriak masyarakat yang kebetulan melihat Desy Ratnasari. Dengan ramah dan tersenyum Desy menjawab, “Ayo boleh.”**[harjasaputra]

Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: [email protected]

KOMENTAR

To Top