Connect with us

Dari Anak Jalanan Kini Di DPR (3): Jangan Jadi Pencuri Mangga!

Unik

Dari Anak Jalanan Kini Di DPR (3): Jangan Jadi Pencuri Mangga!

Dari dua bagian cerita yang lalu, penulis sudah ceritakan bagaimana latar belakang dan perjuangan hidup Jojo untuk dapat mengenyam pendidikan yang layak dan bagaimana ia menggeluti dunia pekerjaannya. Kini, episode yang sangat berarti, akan diceritakan bagaimana Jojo mencari arti hidup. Karena setiap orang berbuat berdasarkan makna-makna yang dipahami dan diteladani. Tidak mungkin ada manusia yang tidak dipengaruhi oleh siapapun.  Maka, siapa yang mempengaruhi, apa yang mempengaruhi, adalah modal bagi seseorang untuk berbuat dan akan menjadi apa di masa depan.

Orang yang mengajari arti hidup pertama adalah tentu orang tuanya, meskipun dalam beberapa hal ia harus menegasikan itu. Dari orang tuanya Jojo belajar banyak hal terutama didikan untuk bekerja dan bekerja.

“Kalau kamu mau sesuatu, bekerjalah yang betul. Mau makan, carilah makan. Mau sekolah, cari sekolah. Kalau sekolah butuh biaya, cari biayanya. Tidak usah banyak protes dalam hidup. Karena protes tidak menyelesaikan masalah”, kata bapaknya.

Bapaknya memberikan perumpamaan bagus. Hidup itu sama seperti bola yang penuh dengan angin, kalau protes berarti sama saja menekan bola yang penuh angin ke dalam air. Semakin kita tekan bola itu ke dalam air, maka bolanya akan semakin kuat menolak. Apalagi jika ditendang keras bola itu ke air, maka bola akan berbalik menyerang kita sambil mencipratkan air yang dikenainya. Kata bapaknya, kalau mau menenggelamkan bola ke air jangan ditekan, jangan ditendang, tapi buka tutup anginnya, biarkan keluar, lalu masukkan ke dalam air. Pasti tidak akan berontak. Maksud bapaknya, selesaikan masalah berdasarkan sebabnya jangan sampai berhenti di protes dan protes terus.  Kalau hidup harus memakai uang ya cari uang, kalau hidup harus sekolah ya cari cara gimana biar bisa sekolah. Jangan memprotes karena tidak akan selesai dengan protes, bahkan hidup akan berbalik menyengsarakan kita di waktu besar nanti. Orang yang kerjaannya protes atau menyalahkan orang lain itu boleh dan sah-sah saja tapi itu pekerjaan orang bodoh, karena tidak akan menyelesaikan masalah. Tapi dengan bekerja yang keras, hasilnya lebih nyata.

Didikan dari orang tuanya tersebut sangat membekas bagi Jojo. Ajaran inilah yang kemudian membuat Jojo tegar dalam menjalani hidup, terus bekerja, untuk membiayai  sekolahnya sendiri atau barter pekerjaan agar bisa sekolah, seperti yang penulis ceritakan di episode pertama tulisan ini. Dari mulai berjualan manisan pepaya di sekolah, berjualan rokok asong di terminal, menggembalakan sapi, menjadi tukang ojek. Untuk menggapai apa yang diinginkannya. Ya, bekerja dan bekerja. Jangan protes.

Meskipun dalam beberapa hal ada yang ia tidak setujui dari orang tuanya. Anak ingin sesekali dimanja oleh orang tua, tapi tidak pernah Jojo dapatkan di rumah. Jojo terkadang iri melihat keluarga orang lain kalau libur jalan-jalan bersama dengan orang tuanya.

Jojo hanya pernah satu kali diajak oleh ayahnya pergi bersama dengan kakaknya menonton pemilihan kepala desa waktu ia umur 8 tahun waktu ia kelas 2 SD. Dia masih ingat betul kisah itu karena itulah saat-saat yang satu kali dialami dalam hidupnya. Jojo dibonceng dengan sepeda tua di depan dan kakaknya di belakang. Menelusuri jalan sejauh 5 KM dengan sepeda tua, menanjaki bukit, menuruni lembah, maklum waktu itu jalan masih belum beraspal. Menuju ke sebuah desa di pedalaman. Hanya untuk menonton pemilihan langsung kuwu (istilah Kepala Desa di Kampung). Hiburannya karena bapaknya bisa bertaruh dengan orang lain siapa kuwu yang menang dari 4 calon.

“Hijau..hijau..merah..kuning..hijau..biru..biru..hijau..merah..”, seru petugas TPS membacakan hasil pilihan dari masyarakat. Setiap calon disebutkan bukan namanya tapi menggunakan warna.

“Tinggal 5 suara lagi..merah..merah..hijau..hijau..hijaaauuuuu…”, pungkas pertugas TPS.

Bapak Jojo bersorak karena pilihannya menang. Lalu bapaknya dan semua orang berlari ke sebuah kolam di seberang bukit. Semuanya ramai-ramai turun ke kolam itu, miliki calon hijau yang menang. Tanpa ragu lagi, kolam tersebut diubek-ubek, ikannya habis. Kakak Jojo ikut turun ke kolam itu. Jojo hanya melihat di pinggir kolam sambil melihat-lihat ikan yang dikumpulkan oleh bapak dan kakaknya. Masih belum yakin kalau ikannya sudah habis, air kolam itu dibedah, biar kelihatan ikan-ikan yang masih ada. Kolam sudah habis. Ramai-ramai orang pun memburu ke rumah calon hijau. Ayam-ayam miliknya ditangkapi sampai habis. Malah tidak tahu apakah ayam itu miliknya atau bukan, yang penting sikat.

Itulah tradisi di kampung di saat penyalonan kepala desa. Calon kades harus merelakan hartanya, kolam dan ayam-ayamnya, diburu oleh massa jika ia menang. Ungkapan kegembiraan sekaligus penjarahan yang seolah dibenarkan.

Jojo bertanya pada bapaknya, “emang calon kuwunya tidak marah ikan dan ayamnya habis, pak?”

“Ya kalau mau nyalon berarti harus rela seperti itu. Kalau nggak punya apa-apa ya buat apa nyalon”, jawab bapaknya.

Jojo berpikir, kalau begitu hanya orang yang punya saja yang bisa nyalon kades. Terus bagaimana ia mengganti ikan-ikan dan ayamnya yang habis. Belum lagi biasanya diadakan syukuran 2 hari 2 malam di rumahnya untuk merayakan kemenangan. Umumnya pakai dangdutan lagi syukurannya. Ah terserahlah, apapun itu, yang penting ia senang sudah diajak jalan-jalan oleh orang tuanya.

Jojo pernah menceritakan pada saya mengenai perjalanan spiritualnya. Ia tergolong beda dengan anak lain. Sering membuat guru bingung untuk menjawab pertanyaannya, karena pertanyaan yang tidak lazim ditanyakan oleh anak-anak.

Jojo sering bertanya, “Apa itu Allah, di mana Dia berada, seperti apa bentuk-Nya?”

Tapi ia tidak mendapatkan jawaban yang pas terhadap pertanyaannya. Malah disuruh tidak boleh menanyakan itu.

“Husss…kita manusia tidak boleh menanyakan itu. Karena tidak mungkin dapat menjawabnya. Yang pasti Allah ada di mana-mana”, jawab gurunya.
Jojo bertanya yang lain lagi, “Bisakah Allah seperti Satra Baja Hitam mengangkat mobil yang berat, atau seperti Elyas Pical yang bisa meninju orang lain?”

Anak-anak lain tertawa. Gurunya hanya menjawab, “Jangan disamakan dengan Satria Baja Hitam atau Elyas Pical, Allah melebihi itu. Dia Maha Perkasa, Dia bisa melakukan apapun. Jika Dia berkehendak, maka kun fayakun. Jadi, maka Jadilah”.

Luar biasa Allah ini dalam hati Jojo. Ternyata ada yang lebih sakti daripada Satria Baja Hitam yang sering ia tonton di terminal di warung makan tempat para sopir angkot mangkal di saat Jojo menjadi pedagang asong rokok. Satu-satunya orang yang memiliki televisi waktu itu, hanya rumah makan besar di depan terminal. Di hari Minggu, di sela-sela ia menjajakan jualan rokoknya kepada penumpang dan sopir angkot, Jojo menyempatkan menonton Satria Baja Hitam. Atau jika ada tinju Elyas Pical dia pasti menyempatkan untuk nyempil di antara kerumunan orang yang menonton.
Karena Jojo diajarkan bahwa Allah sangat sakti melebihi apapun, maka ketika temannya di sekolah main jago-jagoan, maka pasti ditutup oleh kata-kata Jojo:

“Saya mau jadi polisi biar bisa nembak orang jahat, dor..dor..dor”, kata temannya.

“Mending saya, saya mau jadi tentara, polisi kan kalah sama tentara waktu kemarin kelahi di rumah tetangga”, kata teman satunya.

“Saya mau jadi presiden saja, kata ibu guru kemarin, presiden yang perintah polisi dan tentara, hayooo..menangan mana?” jawab teman satunya lagi. Semua pada diam. Benar juga kata mereka.

Jojo teriak, “Saya mau jadi Allah saja. Dia bisa apapun, tinggal bilang jadi pasti jadi…hayooo..”

Semua temannya diam. Sudah selesai kalau sudah dibawa ke Allah. Untung saja tidak ada temannya yang nyahut lagi, kalau ada yang mau jadi ibunya Allah, karena Allah takut sama ibunya. Itu karena guru-gurunya tidak mengajarkan itu. Jadi apapun yang ada di benak manusia pasti dipengaruhi oleh berbagai macam. Persepsi manusia dari sewaktu kecil mengenai apapun kadang salah, tetapi itulah tahapan-tahapan yang harus dilalui. Sampai kemudian harus dibuktikan secara nalar atau tidak perlu dibuktikan.

Jojo pun sering memikirkan hal-hal aneh yang fundamental. Ia sering membayangkan Tuhan dengan apapun yang ia temui. Ia memegang botol, kata guru ngajinya, Tuhan ada di mana-mana, apakah Tuhan ada di botol juga. Ia lihat, ia kocok-kocok, ah tidak ada ternyata. Ia juga sering membayangkan bagaimana Tuhan makan dan minum, apakah memakan gunung dan meminum lautan. Pertanyaan-pertanyaan yang menghantuinya terus dan terus.

Pertanyaan-pertanyaan itu masih tetap membayangi dan sering ia tanyakan pada guru-gurunya dari SD, SMP hingga SMA. Tapi masih belum dapat jawaban yang memuaskan dirinya. Semasa rentang waktu 6 tahun, dari SMP dan SMA, ia sudah ikut berbagai aliran-aliran ajaran. Hanya untuk mendapatkan jawaban itu. Tapi ia belum temukan jawabannya. Atau mungkin karena nalar pikirnya yang terlalu radikal sehingga ajaran-ajaran konvensional tidak sesuai dengan otaknya. Gurunya hanya mengajarkan baca al-Qur’an dan kamu akan temukan jawabannya. Jojo sudah berapa kali tamat al-Qur’an dan ia hapal 4 juz al-Qur’an setamat SMP. Ia akui hapalan-hapalan itu pun memberikan pengaruh juga. Karena menulis di angin yang ia lakukan di masa SD ternyata sama dengan cara menghapal al-Qur’an. Ada abstrak-abstrak dari seluruh ayat-ayat, yang menurut Jojo, sama persis dengan abstrak yang ia coba hapal ketika menulis di angin (mengenai kebiasaan menulis angin Jojo silahkan baca bagian pertama tulisan ini). Tapi untuk menjawab pertanyaan yang menjadi kepenasarannya masih belum mampu. Karena al-Quran baginya bisu apalagi bahasa Arab, ketika ayat itu ingin bunyi maka harus dibaca dan dipahami, dalam upaya pemahaman itulah bias-bias dari manusia mempengaruhi penafsiran. Jojo tidak ingin terjebak dalam penafsiran-penafsiran yang katanya-katanya. Katanya maksud dari ayat al-Qur’an yang ini adalah itu menurut sumber katanya, katanya maksud dari ayat ini adalah anu menurut sumber katanya. Ah, pikir Jojo, semua itu katanya. Lantas yang mana yang betul.

Lalu, menginjak kuliah, perjalanan spiritual itu pun berlanjut dan mulai mendapatkan titik terang. Melalui mata kuliah filsafat dan kursus filsafat yang ia ikuti di YISC Al-Azhar, perlahan-lahan ia menemukan jawabannya. Meskipun akhir-akhir ini Jojo pun mulai meragukan keyakinannya melalui jalur filsafat, yaitu jalur keyakinan yang diperoleh dari nalar logika. Tapi menurutnya itulah proses yang harus dilalui.

Ia yakin betul, bahwa perjalanan keyakinan manusia pasti melalui tiga tahap: tahap mistik, tahap rasional, dan tahap empiris. Meskipun terkadang fahamnya nyaris seperti aliran positivistik Auguste Comte yang meyakini bahwa empiris adalah tahap terakhir kebenaran manusia. Tapi apa yang dipahami Jojo berbeda dari positivisme.

Tahap mistik dalam perjalanan manusia adalah melalui doktrin-doktrin yang terkadang sudah untuk membuktikannya. Ini, menurut Jojo, bisa kita dapati dengan mudah. Semua ajaran tentang nilai-nilai yang kita pahami termasuk nilai-nilai agama adalah bersifat mistik. Artinya pemahaman kita dipaksa harus meyakini kenyataan yang berada di luar alam nyata tanpa suatu pembuktian. Indonesia, menurut analisis Jojo, masih dalam tahap mistik. Meskipun, menurut Jojo, pendapatnya adalah pendapat subyektif hanya murni dari analisis dari berbagai fenomena-fenomena kehidupan yang ada. Lihat saja misalnya, orang rela menghakimi orang lain dari pemahamannya terhadap ajaran suatu kitab suci yang belum tentu mengajarkan itu. Pemahaman terhadap alam lain yang terkesan dipaksakan ke alam nyata kita. Orang-orang itu, menurutnya, mengalami semacam delusi hadirnya Tuhan dalam dirinya. Ia bertindak mengatasnamakan Tuhan, padahal belum tentu Tuhan seperti itu.

Tahap rasional, sudah beralih dari alam yang tidak bisa dibuktikan ke alam yang bisa dibuktikan secara nalar. Basisnya adalah ilmu pengetahuan yang bekerja berdasarkan hukum-hukum logika. Tapi logika di sini tidak sama dengan akal-akalan. Jojo bersemangat meyakinkan saya, kenapa Barat sekarang maju, kenapa Yahudi memimpin hampir semua penemuan-penemuan ilmiah, itu karena mereka menguasai disiplin ilmu rasional. Filsafat berkembang pesat di Barat. Di dunia Islam pun filsafat sempat berkembang pesat, dan di saat itulah Islam mengalami kejayaan, sampai menjadi pusat peradaban dunia. Sampai kemudian filsafat mati karena serangan dari berbagai faham-faham sufisme. Seiring dengan digempurnya Baghdad dan dibakarnya perpustakaan terbesar yang menyimpan ilmu-ilmu rasional.

Tahap empiris, tahap inilah yang menjadi tujuan sandaran Jojo saat ini. Tidak usah dipertentangkan antara rasional, mistik dan apapun itu yang menjadi keyakinan setiap orang. Biarkan itu tetap ada, yang penting adalah empiris. Empiris yang dimaksud Jojo bukan empirisme seperti yang berkembang di Barat. Empiris menurutnya adalah sejalan dengan ajaran yang diajarkan oleh bapaknya sewaktu kecil. yaitu bekerja dan bekerja, tidak usah protes. Apa yang bisa kita perbuat secara nyata, dapat dilihat, dan dirasakan oleh orang lain. Itu saja.

Berangkat dari keyakinannya itulah yang membuatnya jarang terlibat lagi di diskusi-diskusi politik, diskusi filsafat, yang menurutnya itu semua sudah ia lalui. Pencarian-pencarian itu sudah ia alami dan selami. Kini saatnya berbuat. Kini saatnya mengaplikasikan apa yang menjadi keyakinannya. Tentu saja, diskusi-diskusi itu perlu dan harus. Tetapi kebanyakan hanya protes dan protes. Protes sudah menjadi pekerjaan. Pengamat yang memprotes sebetulnya tidak sedang protes tetapi itu adalah pekerjaannya, pekerjaan protes. Suatu saat ia dilamar jadi menteri  pasti tidak akan menolak. Mahasiswa pun terus protes, demo protes ini, demo protes itu, tetapi suatu saat ia dilamar menduduki jabatan tertentu ia pasti tidak akan menolak. Penulis dan jurnalis protes, semua protes, karena protes yang keras laku di pasaran. Oplah medianya naik. Jika sudah demikian, apa bedanya dengan para pencuri mangga. Melempar batu untuk mendapatkan mangga.

Jojo tidak mau menjadi pencuri mangga, melempar sekerasnya dan mendapatkan mangga. Ia hanya ingin menanam mangga. Berbuat dan berbuat, bekerja dan bekerja. Ketika dirinya dan rekan-rekannya melihat orang miskin yang sama dengan dirinya ingin bersekolah ia mendirikan sekolah gratis. Ketika anak-anak yang tidak mampu ingin bisa menulis ia berusaha mengajarkan apa yang dimilikinya untuk diajarkan. Berbuatlah, jangan protes..jangan jadi pencuri mangga, tanamlah mangga..!! Untuk melarang kemunkaran bukan hanya dengan cara protes dan menunjukkan bahwa itu salah, tetapi dengan berbuat baik dan bekerja sungguh-sungguh akan sama hasilnya dengan menunjukkan yang salah bahkan lebih dahsyat lagi hasilnya..Jika mau memasukkan bola berisi angin ke air jangan injak keras karena akan memantul lebih kuat ke atas, tetapi tunjukkan dengan kebaikan, pelan-pelan, keluarkan angin dari lubangnya, dan masukkan ke air, pasti bola tidak akan berontak. Karena itulah kebaikan, itulah yang benar.

**
Jojo adalah orang tipe perenung, tidak senang dengan keramaian. Suatu hari ia menuturkan kepada saya, dan rupanya inilah alasan dia setiap hari selalu memandangi Gedung Kura-kura Hijau DPR setelah makan siang.

Dia masih ingin terus mengingat apa yang ia telah lakukan. Kisah-kisah masa lalunya menjadi kenangan dan ia tidak menyangka dengan jalan hidup yang dilaluinya, hingga kini ia di gedung DPR. Dulu waktu ia bekerja di kampus yang berada di lantai 4, ia pun sering memandangi ke luar. Bukan apa-apa kata dia, hanya tidak terbayang sebelumnya dirinya yang dulu anak jalanan tetapi bisa bekerja di gedung tinggi, yang dulu boleh jadi hanya impian yang mustahil bagi dirinya. Apalagi sekarang ia bekerja di gedung DPR, lantai 21, gedung tinggi yang bahkan tak pernah ia bayangkan dapat mampir apalagi bekerja di gedung tinggi.

Tidak hanya itu, ia juga selalu ingin untuk mengajak orang tuanya ke tempat kerjanya di DPR tetapi masih belum bisa karena orang tuanya sudah tua di samping waktu kerja yang sangat padat. Ia sangat ingin menunjukkan kebanggan dirinya kepada orang tua bahwa anaknya bisa bekerja di tempat yang menurutnya menjadi impian banyak orang. Karena tidak mudah menjadi Tenaga Ahli DPR. Tetapi Jojo kini menjadi bagian di tempat tersebut. Itu karena orang tua bagi Jojo adalah segalanya. Bahkan, Jojo meyakini bahwa orang tua merupakan “tuhan” (dengan t kecil) manusia di bumi ini. Kenapa demikian? Karena melalui orang tualah kita ada, Tuhan pun selalu melalui perantara orang tua ketika menciptakan manusia. Dengannya orang tua menjadi tuhan kecil yang harus dihormati dan diikuti sebagai wakil dari Tuhan besar.

Betul apa yang dibilang oleh banyak orang, “mimpilah setinggi-tingginya, ikuti alur hidup ke manapun ia membawa. Tuliskan keinginanmu, dan berikan penghapusnya kepada Tuhan, karena boleh jadi Tuhan menghapus rencana kita dan menggantinya dengan yang lebih baik.”**[harjasaputra]

Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: [email protected]

KOMENTAR

To Top