Connect with us

Unik

Drama Cinta Si Pengantin BTN

Published

on

Ilustrasi: harjasaputra.com

“Pokoknya saya tidak mau mengawinkan Ayu, putri bungsu saya, dengan kamu kecuali disediakan dulu rumah BTN beserta surat-suratnya”

Kata-kata itu terngiang di telinga Ghani, pria asal Lombok Barat, terlontar dari mulut calon mertuanya dua tahun lalu pas ketika akad pernikahan hendak dilakukan. Apa daya, cinta harus terhalang tembok kuat dari campur tangan orang tua. Perkataan ini juga yang memicu “perang dingin” di antara keluarga Ghani dan Ayu sampai saat ini. Pernikahan pun batal karena orang tua Ayu dan saudara-saudaranya tidak mau menjadi wali atas pernikahan mereka.

Kenapa harus rumah BTN? Berawal dari jalinan cinta antara Ghani dan Ayu yang sudah bertekad untuk menikah. Di suatu sore Ghani mengutarakan niatnya pada Ayu, “Ayo kita merarik (kawin lari)”. Dalam budaya Lombok, pria yang berani adalah di saat ia bisa menculik wanita. Ini adalah budaya lokal di sana. Entah si calon mertua setuju atau tidak, tetapi ketika pria bisa membawa lari buah hatinya itulah pria sejati.

Ghani mengungkapkan niatnya ketika Ayu berkunjung ke rumah kakaknya di sebuah perumahan BTN di Lombok Barat. Merasa tak percaya, maklum baru kenal beberapa bulan dengan Ghani, Ayu bertanya, “Betul kamu mau merarik? Serius kamu bang?” Ghani pun mengangguk pasti.

Diculiklah Ayu ke rumah orang tua Ghani. Dari sinilah prahara bermula dan drama cinta dimulai. Ibu Ayu tidak terima anaknya diculik. Sebab ia tahu bagaimana sosok Ghani. Di matanya Ghani adalah pemuda urakan: tukang mabuk dan belum punya pekerjaan layak. Keluarga Ayu sangat agamis, sehingga bagi mereka citra pemuda yang suka mabuk sangat aib.

Dibuatlah alasan bagaimana caranya agar Ayu tidak menikah dengan Ghani. Syarat rumah BTN menjadi perisai ampuh sekaligus untuk menyindir Ghani karena telah menculik anaknya dari rumah BTN kakaknya. Ia tahu bahwa Ghani tak mungkin sanggup memenuhi itu.

Ghani menolak syarat itu. Baginya, meskipun ia pemabuk tapi kalau hanya sekadar tanah untuk rumah ia punya, sehingga untuk membangunkan rumah bagi Ayu itu mudah. Ini bukan tentang rumah, ia mencium adanya gelagat ketidaksetujuan buta pada rencana pernikahannya. Mengenai mabuk pun, bukan hanya dirinya semata. Mabuk pada beberapa masyarakat di Lombok sudah menjadi bagian dari upacara adat. Ghani bergeming, tetap pada pendiriannya untuk menikah. Begitu pun Ayu.

Jalan buntu. Antara orang tua Ghani dan Ayu tidak terjalin kesepakatan meskipun sudah dimusyawarahkan oleh Kepala Dusun dan Tuan Guru yang ada di kampung mereka. Sampai dua kali utusan itu datang ke rumah Ghani tapi tetap tak membuahkan hasil.

“Silahkan tanya pada Ayu sendiri. Saya tergantung dia. Jika dia mau kembali ke orang tuanya silahkan. Tidak akan juga menahan-nahan”, ucap Ghani.

“Ayu bagaimana sikap kamu?”

“Demi Allah, daripada saya tidak jadi nikah dengan Ghani lebih baik saya mati sekarang”, ucap Ayu dengan mata berkaca-kaca.

“Nah bapak-bapak sudah dengar sendiri sekarang? Bagi saya, kalau Ayu terus dipaksa untuk kembali ke orang tuanya, langkahi dulu mayat saya!”, tunjuk Ghani pada para utusan.

Para utusan dan pengiring kaget. Berdiri seketika. Para saudara Ghani pun tak mau tinggal diam. Berdiri mengambil ancang-ancang. Di sabuk kain mereka sudah terselip sebilah golok yang siap dihunus. Hampir terjadi pertumpahan darah namun dilerai oleh Tuan Guru.

Hari terus berlalu. Orang tua Ayu tetap pada pendiriannya. Akhirnya Tuan Guru menjamin pernikahan harus tetap dilakukan. Masalah wali nikah dia sudah menghubungi saudara Ayu yang sudah siap menjadi wali.

Acara pernikahan pun dipersiapkan. Makanan dan jamuan sudah lengkap. Hiasan dan peralatan untuk resepsi pun sudah terpasang. Namun batal seketika karena sikap orang tua Ayu di atas. Betapa marahnya orang tua Ghani, merasa sangat disepelekan. Baginya, sakit ditebas parang lebih baik daripada menanggung sakit hati karena diperlakukan oleh orang tua Ayu sedemikian rupa.

“Ghani, cari wanita lain untuk dinikahi. Biarkan jangan urusi wanita ini”, tunjuk orang tua Ghani pada Ayu.  Ayu pun pingsan seketika.

Hari pun berlalu lagi tanpa mau peduli pada permasalahan cinta Ayu dan Ghani. Dendam orang tua Ghani sudah kadung tergugah. Namun, Tuan Guru besar di pesantren yang sangat dihormati oleh orang tua Ghani turun tangan. Tuan Guru pun segera mendamaikan kedua orang tua Ayu dan Ghani.

Dalam pertemuan itu akhirnya orang tua Ayu rela untuk memberikan restu dan menjadi wali pada pernikahan nanti. Disepakatilah pisuka (sejumlah uang dan barang tebusan), tanda kedua pihak sudah saling suka dan tidak ada paksaan. Orang tua Ghani pun luruh dan berpesan agar masalah ini selesai. Harapannya pada acara akad nikah dan nyongkolan tidak ada keributan.

Akad pernikahan pun akhirnya berlangsung. Namun, tibalah acara nyongkolan (prosesi adat di mana pengantin setelah akad di arak menuju rumah pengantin perempuan dengan diiringi musik khas Lombok dan barang bawaan). Di sinilah masalah kembali timbul.

Entah dari mana idenya, para pemuda yang mengiringi Ghani tiba-tiba memikul makanan dan jajanan yang sudah dihiasi menyerupai bangunan rumah BTN. Ghani pun tidak tahu rencana para sahabatnya ini. Hal ini dianggap menghina dan menyindir orang tua Ayu yang sudah meminta rumah BTN dari Ghani.

Iring-iringan nyongkolan hampir berubah menjadi perkelahian massal. Kubu keluarga Ayu tidak terima melihat sindiran itu. Ghani didorong dan tidak mau diterima ketika ia hendak salaman pada ibu Ayu. Orang tua Ghani pun naik pitam. Dorong-dorongan tak bisa dielakkan. Jika tanpa masyarakat sekitar melerai, pertumpahan darah mungkin sudah terjadi. Para teman Ghani sudah siaga dengan parang dan keris di tangan.

Sudah dua acara berakhir kelabu, pertama acara pernikahan yang batal dan sekarang acara adat nyongkolan pun kelabu. Meskipun akad pernikahan sudah berjalan dan anaknya bisa menikah, tapi menyisakan rasa pilu di hati keluarga Ghani, terutama ayah Ghani. Cukup sudah pikirnya. Ia sudah tak sanggup lagi menahan amarah dan malu. Balasannya ia tidak pernah menyetujui  Ghani dan Ayu untuk berkunjung ke rumah keluarga Ayu.

Perjuangan cinta Ghani dan Ayu diuji oleh waktu dan cobaan. Alam seakan menempa dua pasangan ini untuk mengarungi lautan cinta yang diwarnai kemelut antar keluarga. Cinta tetap menemukan jalannya. Kemelut itu bukan menjadi penghalang bagi Ghani dan Ayu. Setelah akad nikah sampai saat ini mereka hidup bahagia. Rasa rindu di hati Ayu untuk mengunjungi ibunya pasti ada, tapi apa boleh buat cintanya pada Ghani lebih besar. Kini dari hasil pernikahan itu mereka sudah dikarunia seorang anak lak-laki. Ghani pun sudah mendapat pekerjaan layak. Ia terus berusaha menunjukkan bahwa dirinya tidak seperti yang dituduhkan oleh mertuanya. Mabuk-mabukan pun sudah tidak lagi.

Sejak kemelut di acara pernikahannya, Ghani mendapat julukan baru. Sekecamatan ia terkenal dengan panggilan “Si Pengantin BTN”. **[harjasaputra]

—–

Cerita ini berdasarkan kisah nyata. Nama dalam cerita bukan nama sebenarnya.

Komentar

Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: [email protected]

Advertisement