Connect with us

Resensi Buku Irshad Manji “Allah, Liberty & Love”

Riset

Resensi Buku Irshad Manji “Allah, Liberty & Love”

Terbawa rasa penasaran seperti apa isi buku Irshad Manji yang sempat menghebohkan, terutama setelah adanya penolakan dan upaya pembubaran bedah buku dari pihak FPI. Mencari-cari dan akhirnya ketemu buku utuh Allah, Liberty & Love: Suatu Keberanian Mendamaikan Iman dan Kebebasan. Buku ini merupakan bukunya yang kedua diterjemahkan dari buku asli berjudul Allah, Liberty and Love: the Courage to Reconcile Faith and Freedom terbitan Random House, Canada, 2011. Buku pertamanya berjudul “Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat Ini (terjemahan dari The Trouble with Islam)”.

Terbawa rasa penasaran seperti apa isi buku Irshad Manji yang sempat menghebohkan, terutama setelah adanya penolakan dan upaya pembubaran bedah buku dari pihak FPI. Mencari-cari dan akhirnya ketemu buku utuh Allah, Liberty & Love: Suatu Keberanian Mendamaikan Iman dan Kebebasan. Buku ini merupakan bukunya yang kedua diterjemahkan dari buku asli berjudul Allah, Liberty and Love: the Courage to Reconcile Faith and Freedom terbitan Random House, Canada, 2011. Buku pertamanya berjudul “Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat Ini (terjemahan dari The Trouble with Islam)”.

Buku Allah, Liberty & Love ini berisi 7 bab setebal 349 halaman. Lebih banyak berisi kisah-kisah pergulatan Manji setelah terbit buku pertama, terutama dalam menyuarakan faham kebebasan (liberalisme) di berbagai belahan dunia. 80 persen isinya adalah cerita, surel (email) dari para pengkritik maupun pendukung gerakannya.

Jika Anda ingin memahami latar belakang pemikiran Irshad Manji dari buku ini tidak akan menemukan jawaban yang memuaskan.

Pertama, buku ini bukan buku serius berisi kajian mendalam pemikiran dirinya dari aspek filosofis maupun kajian literatur seperti buku-buku daras filsafat atau sejenisnya. Buku ini lebih banyak menceritakan berbagai hal yang ia temui dari kenyataan-kenyataan mengenai banyak hal: dukungan, hujatan terhadap dirinya, kenyataan diskriminasi di dunia Islam dan di dunia Barat, serta banyak lagi.

Kedua, gaya penulisan buku ini berbeda dari buku teoritis, hal ini lebih karena latar belakang Irshad Manji sebagai jurnalis pada sebuah acara di QueerTelevision New York, sebuah acara di TV dan Internet yang mengupas budaya gay dan lesbian yang belum pernah ada sebelumnya. Pekerjaan ini pada gilirannya sangat mewarnai gaya penulisan Manji.

Ketiga, untuk memahami bagaimana metodologi kajian dari pemikiran Irshad Manji yang ia gunakan, sayangnya tidak dituliskan secara detail dalam dua bukunya. Padahal ini adalah aspek yang sangat penting. Manji lebih tertarik untuk menghantam dan menonjolkan perbedaan cara pandang tanpa membangun sebuah metodologi berpikir yang tersusun secara ilmiah, sehingga bisa dipelajari lebih lanjut. Tapi, mungkin untuk sebagian banyak pembaca, faktor inilah yang justru menyebabkan buku ini berbeda dari buku-buku lain. Karena dikemas seperti novel. Bukan seperti buku teori yang kaku.

Dalam penelusuran saya terhadap dua buku Manji, buku pertama (The Trouble with Islam) lebih tersusun secara urut mengenai sejarah hidup dan latar belakang pemikirannya dibanding dengan buku Allah, Liberty & Love, sehingga dapat lebih mudah memahami mengenai alasan kenapa ia memposisikan diri sebagai pembela hak-hak kaum gay/lesbian sembari membombardir doktrin-doktrin keagamaan yang ia anggap bertentangan dengan nilai yang ia anut.

IM Menyebut Dirinya Sebagai Lesbian?

Identitas Manji sebagai Lesbian (suka terhadap sesama jenis/wanita) dalam buku ini (Allah, Liberty & Love) nyaris kabur. Hanya ada satu pernyataan yang ia katakan mengenai identitas dirinya, sebagai berikut:

“…Fakta bahwa aku seorang lesbian yang menggugat penafsiran harfiah” (hal.31).

Pernyataan itu dilontarkan Manji dalam menanggapi email dari seorang pengkritik bernama Sidique, yang menggangap Manji sebagai duri dalam daging bagi umat Islam.

Pernyataan yang sangat jelas mengenai Irshad Manji sebagai seorang lesbian justru sangat banyak di buku sebelumnya, bahkan lengkap dengan sejarah bagaimana ia menjalin kasih dengan sesama jenis hingga kemudian memutuskan untuk mengambil jalan membela hak-hak kaum gay/lesbi. Simak tulisan Manji berikut ini (The Trouble with Islam, 2008, hal.26-27):

“Pertanyaan pertama adalah, “Bagaimana Anda bisa membuat Islam mampu menerima homoseksualitas?” Secara terbuka, kunyatakan diriku sebagai seorang lesbian. Aku memilih untuk “mengakuinya kepada dunia luar”. Karena, setelah menjadi dewasa dalam rumah tangga yang penuh penderitaan, di bawah kekuasaan Ayah yang sewenang-wenang, aku tidak akan menentang cinta suka-sama-suka yang menawarkan kegembiraan sebagai orang dewasa. Aku bertemu kekasih pertamaku pada usia dua puluhan. Beberapa minggu kemudian, aku menceritakan hubunganku dengannya kepada Ibu. Dia merespons dengan bijak, seperti biasanya. Sehingga, pertanyaan apakah aku bisa menjadi seorang muslim dan seorang lesbian pada saat yang bersamaan hampir tidak menggangguku sama sekali. Yang itu adalah agama. Yang ini adalah kebahagiaan. Aku tahu mana yang lebih kubutuhkan. Sembari mempelajari Islam, aku terus mempelajari seni mempertahankan hubungan dengan perempuan (yang merupakan hal yang lain lagi), memproduksi tayangan TV, dan secara umum menjalani hidup yang penuh pilihan bagi seorang yang berusia dua puluhan di Amerika Utara.

Sejalan dengan pekerjaanku di TV yang telah membuatku menjadi figur publik yang menonjol, harapanku untuk merekonsiliasi homoseksualitas dengan Islam turut berevolusi menjadi kesibukan tersendiri. Aku memasuki periode introspeksi diri yang serius, bahkan juga tergoda dengan kemungkinan untuk meninggalkan Islam demi keutuhan cinta. Tujuan apa lagi yang lebih baik daripada cinta, yang mengharuskan kita mengorbankan segalagalanya?

Tapi, setiap kali aku tenggelam dalam introspeksiku yang sunyi, aku selalu kembali ke dalam realitas. Bukan karena takut. Tapi karena keinginan untuk berlaku adil—terhadap diriku sendiri. Sebuah pertanyaan menuntunku untuk berpikir secara mendalam: jika Tuhan yang Maha Mengetahui dan Mahakuasa tidak menghendakiku menjadi seorang lesbian, lalu mengapa Dia masih memberiku kesempatan hidup?

Tantangan hebat untuk “menjelaskan diriku” hampir menjadi peristiwa sehari-hari setelah tahun 1998. Pada tahun itu aku mulai memandu acara QueerTelevision, sebuah acara di TV dan Internet yang mengupas budaya gay dan lesbian yang belum pernah ada sebelumnya. Tayangan itu membahas orang, bukan pornografi. Namun demikian, acara itu membuat orang Islam dan Kristen fundamentalis mengeluarkan petisi terbuka yang melawan kehadiranku di layar TV mereka. Sebenarnya aku tidak berharap apa pun. Tetapi, naifkah diriku jika berharap agar mereka tidak langsung mengutukku, melainkan memberiku kesempatan untuk berdialog dengan mereka?

Cara dialog sudah kucoba. Sebagai pencinta perbedaan, termasuk perbedaan pandangan, aku tak pernah mencampakkan surat-surat dari pihak yang mencelaku ke tong sampah. Sungguh, secara teratur aku membacakan surat-surat tersebut pada tayanganku. Misalnya: “Saya memberi tahu Anda bahwa satu-satunya Tuhan dan Tuhan yang sejati, yaitu Tuhan di dalam Injil, telah menegaskan dengan sangat jelas bahwa kaum Sodom telah mengorbankan kemanusiaan demi hawa nafsu yang kacau dan sesat. Karena perbuatan yang nista mereka dibenci Tuhan. Mereka bukan lagi manusia, dan akan segera dihukum…”

Sejumlah muslim yang menelepon dan mengirim e-mail ke QueerTelevision setuju dengan pendapat orang Kristen ini (kecuali pada bagian tentang satu-satunya Tuhan dan Tuhan yang sejati hanya milik Injil). Namun demikian, tidak seorang muslim pun yang menanggapi tantangan balikku, yang kuulang-ulang pada percakapan itu: Bagaimana mungkin Al-Quran pada saat yang sama mencela homoseksualitas dan menyatakan bahwa Allah “membuat sempurna segala sesuatu yang Dia ciptakan”? Bagaimana para pengkritikku menjelaskan fakta bahwa, menurut kitab yang mereka anut, Tuhan secara sengaja merancang kebinekaan dunia yang mencengangkan? Pertanyaan yang menyerang homoseksualitas dengan dalil-dalil Islam sungguh menguji keyakinanku. Tapi, memikirkan pertanyaan itu membuatku sadar bahwa dialog yang sehat adalah sesuatu yang mungkin dilakukan jika kita lebih sedikit peduli pada di mana posisi kita ketimbang di mana kuasa Tuhan.”

Dari kutipan di atas, sangat jelas latar belakang pemikiran Irshad Manji yaitu dari kenyataan bahwa ia seorang Lesbian karena faktor keluarga yang tidak ideal dengan sosok ayah yang menurutnya sewenang-wenang. Faktor psikologis inilah yang, mungkin, kemudian menjadikannya seorang Lesbian. Dan, menurutnya, gay/lesbian jumlahnya bukan sedikit dan itu banyak terjadi di dunia Muslim. Entah karena faktor yang sama dengan dirinya yaitu faktor keluarga ataupun faktor lain. Fakta-fakta dari kunjungan dan pengakuan dari para fans melalui email ia kemukakan secara lengkap.

Dari Muslim Refusenik Hingga Mengklaim Diri Sebagai Mujtahid

Irshad Manji pada tahap awal perkembangan pemikirannya menyebut diri sebagai “Muslim Refusenik”. Pada halaman 8 buku pertamanya ia menulis: “..aku bersiap-siap memasuki bab berikutnya dari kehidupanku sebagai seorang muslim Refusenik.

Apa yang dimaksud Muslim Refusenik? Pada buku pertamanya ada bab khusus, yaitu pada bab pertama, yang menjelaskan tentang Muslim Refusenik ini. Judul bab itu: “Kenapa Aku Menjadi Muslim Refusenik?”

Manji menyebut istilah Muslim Refusenik dan menjelaskan maknanya sebagai berikut (The Trouble with Islam, 2008, hal.8-9):

“Anda mungkin bertanya-tanya, aku ini siapa, kok berani bicara seperti ini. Aku adalah Muslim Refusenik. Itu tidak berarti aku menolak menjadi seorang muslim. Itu berarti aku menolak untuk bergabung dengan pasukan “robot” yang mudah dimobilisasi secara otomatis untuk melakukan tindakan atas nama Allah. Aku mengambil istilah ini dari kelompok refusenik permulaan: kaum Yahudi Soviet yang memperjuangkan kebebasan beragama dan kebebasan pribadi. Tuan-tuan mereka yang komunis tidak memperbolehkan mereka pindah ke Israel. Karena usaha-usaha mereka untuk meninggalkan Uni Soviet, banyak kaum refusenik harus membayar dengan kerja paksa dan kadang dengan nyawa.

Seiring waktu, penolakan mereka yang tiada henti untuk patuh pada mekanisme kontrol pikiran dan pembunuhan-karakter turut membantu mengakhiri sistem totalitarian di negara itu. Demikian halnya, aku mengangkat topi pada kaum refusenik yang lebih baru—para tentara Israel yang menentang pendudukan militer di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Dalam spirit yang sama, kita pun mesti menentang penjajahan ideologis terhadap pikiran kaum muslim.”

Setelah ia menjalani diri sebagai Muslim Refusenik maka ia kemudian merasa harus beranjak dari Muslim Refusenik ke seorang mujtahid (menafsirkan al-Quran dengan cara pandang dirinya). Simak perkataannya berikut ini (The Trouble with Islam, 2008, hal.136):

“Dengan cara begitu, aku telah berhenti menjadi seorang refusenik. Beri jalan aku untuk melakukan Operasi Ijtihad..”

Manji juga memberikan beberapa alasan kenapa ia harus berijtihad:

“Bagiku, jalan ke depan sepertinya harus berusaha menjawab tiga tantangan pada saat yang sama. Pertama, merevitalisasi ekonomi dengan melibatkan potensi wanita. Kedua, memberikan tantangan pada bangsa Arab padang pasir untuk melakukan penafsiran yang beragam terhadap Islam. Ketiga, bekerja sama dengan Barat, bukan melawannya. Di masing-masing tantangan tersebut, apa yang sedang kita runtuhkan adalah semangat tribalisme yang sudah tua.”

Penafsiran Irshad Manji Mengenai Ayat Kaum Luth

Satu hal yang menarik adalah penafsiran bebas Manji terhadap ayat al-Quran mengenai azab terhadap kaum Luth. Ia mengambil jalan bertentangan dengan penafsiran arus besar. Simak apa yang ia tulis berikut ini (Allah, Liberty & Love, 2011, hal.132):

“Nah sekali lagi, patahkan keyakinan dengan ayat-ayat Al-Quran sederhana yang mendorongmu untuk tidak terlalu berlebihan dengan ayat-ayat yang tersirat. Cerita Sodom dan Gomorah—kisah Nabi Luth dalam Islam—tergolong tersirat (ambigu). Kau merasa yakin kalau surat ini mengenai homoseksual, tapi sebetulnya bisa saja mengangkat perkosaan pria “lurus” oleh pria “lurus” lainnya sebagai penggambaran atas kekuasaan dan kontrol. Tuhan menghukum kaum Nabi Luth karena memotong jalur perdagangan, menumpuk kekayaan, dan berlaku tidak hormat terhadap orang luar.

Perkosaan antara pria bisa jadi merupakan dosa disengaja (the sin of choice) untuk menimbulkan ketakutan di kalangan pengembara. Aku tidak tahu apakah aku benar. Namun demikian, menurut Al-Quran, kau pun tidak bisa yakin apakah kau benar. Nah, kalau kau masih terobsesi untuk mengutuk homoseksual, bukankah kau justru yang mempunyai agenda gay? Dan sementara kau begitu, kau tidak menjawab pertanyaan awalku: “Ada apa dengan hatimu yang sesat?”

Irshad Manji Membela Salman Rushdie Dibanding Fatwa Imam Khomeini

Hal lain yang menarik dari buku Allah, Liberty & Love adalah keberpihakan Manji pada Salman Rushdie (pengarang buku Ayat-ayat Setan / Satanic Verses) dan seakan sangat antipati pada Imam Khomeini yang telah mengeluarkan fatwa hukuman mati bagi Rushdie. Hal itu terlihat jelas ketika ia merasa heran kenapa umur Salman Rushdie lebih lama daripada usia Ayatullah Khomeini yang justru sebagai orang yang memfatwakan kematian Rushdie.

Simak perkataan Manji berikut ini (Allah, Liberty & Love, 2011, hal.2):

“Sungguh luar biasa, Salman Rushdie hidup lebih lama daripada Ayatollah Khomeini! Pada 14 Februari 1986, Khomeini mengerahkan mesin pembunuh di Republik Islam Iran untuk menjanjikan kematian Rushdie, sang pengarang The Satanic Verses (Ayat-Ayat Setan). Namun, novelis ini melawan ulama paling terkenal di dunia itu”.

Itulah butir-butir penting yang dapat ditelusuri dari buku Irshad Manji. Untuk penilaian diserahkan sepenuhnya pada pembaca.**[harjasaputra]

—————–

**Foto dan buku Irshad Manji dapat didownload di irshadmanji.com (edisi english)

Baca selengkapnya

Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: [email protected]

KOMENTAR

To Top