Connect with us

Resensi Buku Safari Strategi: Mengenal Aliran Strategi

Riset

Resensi Buku Safari Strategi: Mengenal Aliran Strategi

Ilustrasi: panjiwiyana.wordpress.com

Wilayah manajemen strategi, menurut Penulis, adalah hutan belantara—wilayah yang membingungkan dan memuat bermacam-macam bentuk pemikiran, dan tidak ada bentuk atau struktur yang bisa dikenali. Buku ini dengan sendirinya menawarkan tuntunan atau petunjuk dengan bahasa yang bebas bagi siapa saja yang bermaksud menjelajahi hutan belantara tersebut. Dengan tujuan untuk menjelaskan dan mengkritik berbagai pendekatan yang para penulis kemukakan pada berbagai aliran pemikiran, dan akhirnya membuat satu sintesis.

Wilayah manajemen strategi adalah hutan belantara—wilayah yang membingungkan dan memuat bermacam-macam bentuk pemikiran, dan tidak ada bentuk atau struktur yang bisa dikenali. Buku ini dengan sendirinya menawarkan tuntunan atau petunjuk dengan bahasa yang bebas bagi siapa saja yang bermaksud menjelajahi hutan belantara tersebut. Dengan tujuan untuk menjelaskan dan mengkritik berbagai pendekatan yang para penulis kemukakan pada berbagai aliran pemikiran, dan akhirnya membuat satu sintesis.

Para penulis buku Safari Strategi, Henry Mintzberg, Bruce Ahlstrand, Joseph Lampel (2008) mengemukakan 8 (delapan) ”aliran strategi” dan membandingkan antara satu dan yang lainnya. Mereka menjelaskan premis-premis mereka, mengkritik cara pandang mereka, dan menunjukkan pada kondisi apa setiap doktrin itu akan berhasil. Tetapi teori-teori ini tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian dari yang lainnya, dan yang penting adalah usaha untuk mengintegrasikan semua teori-teori itu.

Berikut ini adalah ringkasan dari aliran strategi yang dapat diterapkan dalam manajemen strategi, dan dapat menjelaskan bagaimana strategi enterpreuneur dapat diwujudkan:

1. Aliran Desain

– Premis: pengembangan strategi merupakan proses sadar. Pusat kendalinya adalah ada di tangan para pemimpin: dia (laki-laki atau perempuan) adalah seorang penentu strategi. Model pengembangan strategi harus bersifat simpel dan tidak formal. Strategi yang terbaik adalah hasil dari proses pembentukan karakter individu.

– Kritik: Aliran desain menempatkan terlalu memberi penekanan pada konsep yang terpisah dari praktek, oleh karena itu tidak tampak proses pengembangan strategi sebagai sebuah pembelajaran.

– Kontribusi dan konteks: Pada prinsipnya, setiap individu layak memperoleh semua informasi untuk mengembangkan sebuah strategi.

2. Aliran Perencanaan

– Premis: Strategi merupakan hasil dari perencanaan; hal itu terbagi ke dalam langkah-langkah yang terpisah, yang dipresentasikan dalam bentuk checklist dan dipadukan dengan teknik yang konkret. Strategi yang muncul dari proses ini siap untuk diformulasikan.

– Kritik: Perencanaan memberikan arah yang jelas dan kestabilan organisasi, tetapi hal itu merusak fleksibilitas.

– Kontribusi dan konteks: Perencanaan strategis melahirkan analis yang handal; mereka memperkaya diri dengan data dan kemahiran dalam merencanakan untuk mempermudah proses perencanaan.

3. Aliran Posisi

– Premis: Strategi lahir secara alami, umum, dan dapat dikenali pada posisi pasar. Pengembangan strategi, dengan demikian, adalah dalam bentuk memilih posisi-posisi yang umum dalam kerangka analisis yang matang.

– Kritik: Memiliki perspektif yang sempit. Terfokus pada sisi ekonomis murni dan angka serta mengabaikan faktor-faktor lainnya.

– Kontribusi dan konteks: Peranan pemposisian seharusnya mendukung proses; dan tidak pada proses yang aktual.

4. Aliran Enterpreuner

– Premis: Strategi berada di dalam benak para pemimpin sebagai rasa untuk menentukan arah jangka panjang organisasi. Pengembangan strategi hanya berperan separuh dari yang disadari.

– Kritik: Pengembangan strategi diwujudkan sebagai sebuah proses yang ”terbungkus” di dalam lingkungan individu.

– Kontribusi dan konteks: Keuntungan bisnis dari kepekaan aturan yang kuat dan integrasi yang tinggi diperoleh dari pendekatan ini.

5. Aliran Kognitif

– Premis: Bentuk strategi dalam benak pembuat strategi adalah sebagai cara untuk melihat—konsep, peta, skema, dan kerangka—yang membentuk cara dimana orang berbuat atas informasi dari lingkungan mereka.

– Kritik: Manajemen strategi berjalan pincang dalam perjalanan panjang di bawah psikologi kognitif.

– Kontribusi dan konteks: Pembuat strategi yang baik adalah kreatif; mereka menciptakan sebuah dunia di dalam kepala mereka dan membawanya dalam dunia nyata.

6. Aliran Pembelajaran

– Premis: Kompleksitas lingkungan organisasi menghilangkan kontrol kesadaran. Sistem yang bersifat kolektif yang belajar. Terdapat banyak perumus strategi yang potensial.

– Kritik: Belajar adalah mahal, membutuhkan waktu, menciptakan pertemuan yang tidak berakhir, dan dipenuhi surat-surat, dan tidak berhenti dalam satu arah.

– Kontribusi dan konteks: Penelitian pada aliran pembelajaran berhenti pada metode yang simpel yang dapat diterapkan untuk menjelaskan sistem yang kompleks.

7. Aliran Lingkungan

– Premis: Faktor yang mempengaruhi dalam proses pengembangan strategi adalah lingkungan, sehingga dengan sendirinya tampak pada organisasi sebagai kesatuan serangan yang mengharuskan untuk berreaksi.

– Kritik: Dalam kenyataan tidak ada lingkungan yang benar-benar ramah, kompleks, bermusuhan, atau dinamis. Usaha untuk menyesuaikan strategi dengan lingkungan yang demikian terlihat membabi buta.

– Kontribusi dan konteks: Baik para praktisi maupun para teoritis mesti datang ke suatu tempat yang berisi berbagai macam jenis sehingga melahirkan aksi yang imajinatif.

8. Aliran Konfigurasional

– Premis: Dalam sebuah bisnis, fase negara dipengaruhi oleh proses transformasi—terdapat lompatan quantum ke konfigurasi yang lain. Seiring dengan waktu hal ini menjadi rangkaian yang terstruktur.

– Kritik: Hal itu masih diragukan apakah bisnis itu statis ataukah berubah dalam arti menuju kemajuan.

– Kontribusi dan konteks: Aliran konfigurasional membawa keteraturan pada harapan dalam pengembangan strategi.

Integrasi

Setiap proses perumusan strategi yang diungkapkan para penulis, adalah kombinasi dari berbagai elemen yang lahir dari konsep individual. Membentuk strategi membutuhkan mental dan berbagai aspek, mesti membawa tuntutan lingkungan pada keputusan yang konkret, dan hal itu mustahil tanpa kepemimpinan dan kekuatan dalam menciptakan strategi, atau tanpa keseimbangan pengembangan revolusi yang terarah.

Henry Mintberg diperhitungkan sebagai perumus strategi dan berdasarkan reputasinya menganalisis pemikiran orthodox (lama). Dalam pendapat dia, suatu yang penting adalah memberikan kritik dari aturan-aturan yang ada, tidak mengikuti begitu saja pendapat-pendapat mereka.

”Strategi adalah sebuah pola, yaitu konsistensi dalam tindakan selamanya”.**[harja saputra]

Referensi: Henry Mintzberg, Bruce Ahlstrand, Joseph Lampel, Safari Strategy, 2008.

Ping your blog, website, or RSS feed for Free

Baca selengkapnya

Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: [email protected]

KOMENTAR

Terbaru

Populer

To Top