Connect with us

Riset

Resensi “Guru Para Pemimpi”

Published

on

Pagi ini satu pesan SMS mampir di HP saya, isinya mengabarkan bahwa bukunya sudah terbit. Buku ini, setelah saya baca seluruh isinya sangat luar biasa.

Buku setebal 369 halaman, terbitan Qanita (Mizan Pustaka) itu berjudul “Guru Para Pemimpi”, buku yang berisi kisah nyata perjuangan seorang pemuda mendirikan sekolah gratis bagi anak-anak pinggiran, tepatnya di desa Babakan, Ciseeng, Bogor. Lokasinya memang tidak jauh dari Jakarta, tapi pendidikan menjadi barang yang amat mahal hingga tidak terjangkau oleh masyarakat di desa itu.

Hadi Surya, pengarang buku itu, mengisahkan secara detail dalam 10 bab bagaimana ia merintis sekolah gratis yang unggulan, kini bernama SMP dan SMA Cendekia.

Berawal dari kedatangannya bersama rekan-rekan mahasiswa untuk KKN, namun selepas KKN ia datang lagi ke desa itu, bergumul dalam “pertarungan” untuk mewujudkan impiannya: mendirikan sekolah bagi anak-anak di desa itu.

Ia yakin dari pengalamannya semasa KKN, anak-anak di desa itu memiliki potensi yang sama dengan anak-anak kota. Tak kalah cerdas. Hanya fasilitas pendidikan formal yang kurang memadai. Ditambah belenggu kemiskinan yang mencengkeram mereka hingga hanya mampu tunduk pada nasib.

Kenapa disebut pertarungan? Meskipun bukan dalam arti sebenarnya, tapi kata itu cukup untuk menggambarkan bagaimana ia jatuh-bangun dalam mewujudkan sekolah itu. Tak jarang, nyawanya terancam. Dikisahkan di buku itu, ilmu hitam bahkan kerap menghantuinya.

Entah kiriman dari mana. Ia pun sempat diperingati oleh Pak Arif (salah seorang tokoh masyarakat di desa itu), ““Kamu sedang diincar oleh orang-orang yang berilmu hitam.” “Lihatlah kaca meja itu!” kata Pak Arif suatu saat sambil menunjuk cermin yang retak. Selepas magrib, segelas kopi yang mau diminum oleh Hadi tiba-tiba seperti tertimpa batu dari atas. Pecah berhamburan. Kaca meja yang retak itu menjadi saksinya.

Itu mungkin terdengarnya aneh. Mungkin, jika kata pertarungan terdengar terlalu ekstrem, kata perjuangan bisa digunakan, meskipun  belum mewakili untuk menjelaskan bagaimana kerasnya perjuangan Hadi. Sekolahnya sempat diisukan macam-macam, dari mulai statusnya tidak jelas, sekolah miskin yang tak layak, penyebar ajaran sesat, dan sebagainya.

“Keberadaan sekolah ini tampaknya menjadi semacam ancaman bagi sekolah-sekolah yang lain. Mungkin. Menjelang penerimaan siswa baru tahun kedua, muncullah isu-isu bahwa sekolah ini ilegal, tak akan ada ijazah, sekolah hanya dua kali seminggu, didanai oleh orang-orang kafir, dan lain-lain. Tak hanya itu, anak-anak yang akan naik ke kelas II ternyata juga mendapat tawaran untuk pindah ke sekolah lain dengan beragam iming-iming”, tulis Hadi dalam buku itu.

Niat Hadi tak pernah surut. Dari mulai tahun 2002 setelah KKN dengan tanpa modal finansial sepeserpun, hanya niat, ia merintis sekolah itu. Keajaiban-keajaiban bermunculan. Ia dibantu banyak oleh Dr. Abdullah, Yasmin, seorang ibu mantan karyawan World Bank yang mewakafkan tanahnya, dan banyak pihak yang ia sebutkan kisah rincinya di buku itu. Ibu pewakaf tanah awalnya berencana untuk umroh tetapi diurungkan dan dialihkan biayanya untuk tanah sekolah.

Hadi Surya, sosok guru luar biasa yang telah membawa perubahan pada desa Babakan. Meskipun kisahnya banyak diwarnai kegetiran, kesedihan, perjuangan yang berat, kini anak-anak di Desa itu telah menyadari betapa pentingnya bersekolah. Awalnya, selepas sekolah SD, anak-anak di desa itu terutama anak-anak perempuan jarang yang melanjutkan sekolah, mereka memilih untuk menikah di usia muda.

Di halaman 32 buku itu diceritakan: “Informasi lain menyerbu telingaku, “Anak-anak yang melanjutkan ke tingkat SMP tak melebihi jari-jarimu.”

“Apa kau bilang? Kenapa bisa begitu? Ke mana mereka pergi?” mataku membelalak.

“Nikah, meski bukan alasan satu-satunya.”

“Sekecil itu?”

“Diganjal sedikit, urusan beres.” Kukira hanya pintu, ternyata umur pun perlu diganjal agar tingginya sampai demi tercapainya tujuan yang entah itu keinginan orangtua entah keinginan si anak.”

Sekolah ini pun sudah banyak diliput oleh TV Swasta. Pengajarnya bahkan para mahasiswa S2, sarjana, dan para relawan yang sangat ikhlas mendermakan ilmunya bagi para anak-anak. Halangan materi yang selalu menghadang para pengurus sekolah setiap bulannya bukan alasan untuk tidak memberikan pendidikan berkualitas bagi anak-anak.

Siapakah Hadi Surya?

Hadi Surya, asal Rembang Jawa Tengah, berkuliah di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Depok. Teman saya satu angkatan. Sama-sama berjuang untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Saya mengenalnya sebagai seorang pendiam dan pemikir. Rambutnya dulu gondrong seperti seniman.

Namun kini sudah tidak gondrong karena di saat ia muncul di televisi dilihat oleh ibunya dan dimarahi, “Kamu jelek banget. Rambutmu gondrong begitu. Cukur!!”. Ia tak kuasa menolak perintah ibunya.

Di akhir bukunya ia mengisahkan bagaimana perjuangannya. Saya hapal betul meskipun tidak ia tuliskan. Lima tahun adalah waktu yang cukup untuk mengenalnya. Ia merantau ke Jakarta selepas SMA. Itu karena ayahnya sudah meninggal hingga tujuan ke Jakarta adalah untuk bekerja.

Dia menjadi kernet kuli bangunan di Segitiga Atrium-Senen. Bekerja pada seorang arsitek, alumnus Universitas Parahyangan, Bandung. Ada sesuatu yang selalu dia ingat. “Jangan pernah berpikir bahwa di sini kamu bekerja, tapi anggaplah kamu sedang belajar sekaligus dibayar,” kata sang arsitek.

Kira-kira setengah tahun, tanpa melewati tahap jadi tukang atau pemborong, nasihat ini mengantarkannya menjadi seorang pelaksana bangunan-terbilang amatir, tentu saja. Pos retribusi parkir, toko onderdil mobil di lantai 5, pindahan dari Pasar Senen yang terbakar, adalah beberapa buah karyanya.

Selain itu, arsitek tersebut selalu mendorongnya tidak hanya belajar, tapi juga melanjutkan studi. Hal ini karena ia merasa tertantang untuk belajar hal-hal baru. Ia belajar cara membaca gambar secara otodidak dari desain arsitek yang tiap hari ia temui.

“Pak, saya mau berhenti bekerja,” pintanya suatu saat karena dia diterima di salah satu PTS. ”Kalau ada apa-apa (finansial), jangan segan-segan untuk bilang,” pesan arsitek itu melalui seorang temannya. Bahkan, saat dia diterima di S2 arsitek ini pun masih membuka uluran tangannya. Dan sekarang, dia tidak tahu apakah arsitek dari etnis Tionghoa dan beragama Buddha itu masih ada ataukah sudah pindah. Dia kehilangan
kontak.

Selain itu, untuk membiayai hidupnya selama kuliah, dia tak malu berjualan buku. Pernah juga berjualan boneka. Dia hidup dari tempat kos teman yang satu, ke kos yang lain. Pernah sekali waktu, bersama seorang temannya, dia tidur di atas balkon masjid kampus yang terapit dua menara. Adapun SPP didapatnya dari program orangtua asuh. Nekat.

Setelah melewati kuliah dan masa KKN, ia kembali lagi ke desa itu seperti yang disebutkan di atas dengan penuh perjuangan. Hasilnya kini beberapa siswa SMP Cendekia diterima untuk melanjutkan sekolah di sekolah elite di Depok dengan beasiswa penuh dan ada juga siswa didikannya yang berhasil masuk ITB.**[harjasaputra]

Komentar

Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: [email protected]