Connect with us

Riset

Semakin Kaya Belum Tentu Semakin Beretika

Published

on

Ilustrasi: harjasaputra.com

Apakah Anda sering melihat mobil mewah yang menyerobot lampu merah? Atau mungkin menerabas pembatas jalan Busway? Tenang, saya punya jawaban alasannya.

Apakah Anda sering melihat mobil mewah yang menyerobot lampu merah? Atau mungkin menerabas pembatas jalan Busway? Tenang, saya punya jawaban alasannya.

Ternyata perbuatan itu tidak hanya di sini, tetapi juga terjadi di negara besar, seperti di Amerika sebagaimana hasil penelitian terbaru.

Tim peneliti dari Universitas California, Barkeley baru-baru ini mempublikasikan hasil penelitiannya mengenai behavior orang-orang kaya atau orang mapan dibandingkan dengan orang yang secara ekonomis di bawahnya. Menurut hasil penelitian ini, semakin makmur hidup seseorang, yang ditunjukkan dengan semakin banyak harta dan fasilitasnya, tidak menjamin perilakunya lebih beretika. Bahkan cenderung berbanding terbalik.

Dari responden yang disurvey, menunjukkan bahwa orang yang lebih kaya cenderung lebih tidak beretika. Di antaranya lebih sering melanggar lampu merah, tidak menghormati pejalan kaki, karena berusaha mengejar waktu untuk aktivitasnya. Tidak hanya itu, perilaku berbohong, curang, dan perilaku tak beretika lain lebih banyak ditunjukkan oleh orang yang bertaraf hidup tinggi dibanding orang yang bertaraf hidup sederhana.

Hal itu, menurut peneliti, disebabkan semakin tinggi taraf hidup seseorang, maka akan semakin tinggi juga keberaniannya untuk menentang norma yang dianggap baku di masyarakat. Merasa tertantang untuk melanggar.

Penelitian ini tidak main-main. Melibatkan tujuh kali test eksperimen dan dengan 1000 responden dari berbagai strata ekonomi.

Pada tahap pertama dilakukan analisis hubungan antara jenis mobil yang dimiliki dengan perilaku berkendara. Ditemukan kesimpulan bahwa pengemudi dengan mobil yang lebih mewah 45 persen menyetir secara tak beretika: menyalip dan menggunting pengendara lain di jalan yang padat dan perilaku lain seperti disebutkan di atas. Adapun pengemudi dengan kelas mobil di bawahnya ditemukan persentase 30 persen yang berperilaku serupa.

Pada percobaan lain diluaskan kajiannya pada mahasiswa. Ditemukan hal yang serupa. Mahasiswa dengan sosio-ekonomik lebih tinggi cenderung lebih banyak menunjukkan penyimpangan terhadap indikator-indikator yang diteliti, seperti: membolos dengan alasan sakit yang dibuat-buat dan indikator lain.

Penelitian juga diperluas pada responden dari sektor finansial. Menunjukkan hal serupa. Kalangan lebih mapan cenderung lebih rakus.

Di akhir penjelasan hasil penelitian, seperti halnya dalam setiap hasil penelitian, selalu ada bab Discussion. Ditegaskan bahwa meskipun hasilnya seperti itu tetapi kesimpulan penelitian ini belum bisa digeneralisasi bahwa setiap yang lebih tinggi taraf hidupnya akan berlaku seperti itu. Ada keterbatasan penelitian, yaitu dari segi sampel, area yang diteliti serta metode yang digunakan.**[harja saputra]

Referensi: Judy Dutton dalam health.com

 

Ping your blog, website, or RSS feed for Free

Komentar

Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: [email protected]

Advertisement