1. Skip to Main Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer
Web Design Modified:Monday 19 March 2012, 13:52

Sumpah Monas Anas: Perspektif Tabu Bahasa

Monday, 12 March 2012 06:17 Published in Sosbud

“Sumpah Monas Anas” ramai diperbincangkan, baik di jagat twitter maupun di berbagai media lain. Hal ini menyusul statemen tegasnya Anas Urbaningrum, Ketum PD, di twitter bahwa “Kalau saya korupsi wisma atlit dan hambalang, satu rupiahpun, saya bersedia ditembak mati atau digantung di Monas”.


Kompas Ceroboh Menyimpulkan

Friday, 02 March 2012 14:47 Published in Komunikasi

Kompas, 1 Maret 2012, menjadikan headline di halaman pertama hasil persidangan yang menghadirkan saksi pada persidangan kasus Nazarudin. Terpampang besar dengan judul “Anas Terima Miliaran Rupiah“. Meskipun ada sisi cover both side pada judulnya dengan menampilkan statemen Anas di subjudul yang berbunyi “Anas Urbaningrum: Itu Dagelan, Bukan Kesaksian“. Tapi, judul besar itu jelas ceroboh.


Perspektif Lain Memahami Keterangan Angelina Sondakh

Saturday, 18 February 2012 06:13 Published in Polhukam

Ada beberapa hal yang misleading (salah arah) dalam melihat kesaksian Angelina Sondakh di persidangan Nazarudin. Entah kenapa kini fokus pembahasan jadi ke “kebohongan” Angie bukan pada substansi masalahnya.


Politik Uang: Budaya atau Kesalahan Sistem?

Friday, 10 February 2012 11:50 Published in Polhukam

Isu yang lagi hot: Anas Urbaningrum semakin disudutkan. Kali ini berasal dari tubuh partai sendiri, khususnya “testimoni” dari beberapa pengurus DPD dan DPC yang mengaku menerima uang di saat Munas PD di Bandung. Jumlahnya antara 50 sampai 100 juta rupiah. Sejumlah kalangan menilai ini dapat dijadikan pintu masuk untuk “memecat” Anas dari kursi Ketum PD.


Anas Urbaningrum Tak Mungkin Lari

Thursday, 09 February 2012 18:18 Published in Polhukam

“Tidak ada legitimasi yang pernah gagal”, demikian menurut Machiavelli, filosof dan pakar kekuasaan. Machiavelli sering diidentikkan dengan teori-teori bagaimana mempertahankan kekuasaan dengan berbagai cara. Salah satu jargonnya yang terkenal adalah “Tidak ada kawan atau lawan yang abadi, kepentinganlah yang abadi”. Pemikirannya juga sering diidentikkan dengan “kelicikan”.


Catur Politik Anas Urbaningrum

Thursday, 09 February 2012 18:13 Published in Polhukam

Nun jauh di sana, di negeri Macedonia, salah satu kota di Yunani tahun 359 SM. Phillip yang masih berusia 24 tahun menjadi raja Macedonia. Ia berhasil mengalahkan Argaeus, ksatria utusan negeri Athena yang ingin menguasai negeri itu. Macedonia kala itu menjadi negeri impian yang ingin ditaklukkan oleh Athena karena bertanah subur sehingga diharapkan dapat mendukung supply jagung dan emas ke negeri Athena.


Di Balik Sikap Diamnya Anas Urbaningrum

Thursday, 09 February 2012 18:09 Published in Polhukam

Alkisah, tahun 1821 M menteri luar negeri Rusia, Capo D’Istria bermaksud membantu Yunani dalam memerangi Turki (Yunani waktu itu berada dalam kekuasaan Turki). Niatnya terganjal oleh seorang saja, yaitu Klemens von Metternich (menteri luar negeri Austria). Metternich adalah penggagas aliansi suci antara Rusia dan Austria, tujuan aliansi ini adalah untuk memproteksi Rusia menghancurkan Eropa. Misi Metternich adalah perdamaian di Eropa.


Peringati Hari Anti Korupsi Dengan Bom Tinja, Tindakan Moral Atau Amoral?

Tuesday, 13 December 2011 11:19 Published in Polhukam

Beredar pesan melalui Blackberry Messenger Jumat, 9/12/2011, bertepatan dengan Hari Anti Korupsi, kelompok Laskar Anti Korupsi mengancam datangi rumah Anas Urbaningrum dan menyerukan aksi “Lempar Bom Tinja” ke rumah Anas.


Wawancara Nazaruddin vs Wawancara Anas

Friday, 22 July 2011 06:25 Published in Polhukam

Melanjutkan analisis penulis sebelumnya terhadap wawancara live Nazaruddin di Metro TV (19/07/2011) yang menganalisis beberapa kejanggalan, di antaranya penyebutan lokasi proyek atlet Ambalat atau Hambalang dan penyebutan jumlah angka yang berbeda-beda, kejanggalan ini pun diperkuat oleh bukti adanya Jingle Sari Roti pada saat wawancara live tersebut.


Kejanggalan-kejanggalan dalam Pemberitaan Wawancara Live Nazarudin di Metro TV

Wednesday, 20 July 2011 00:18 Published in Parlemen

Media rupanya sudah tidak mengindahkan prinsip jurnalistik yang benar. Akurasi pemberitaan tidak lagi menjadi pegangan, hanya ingin buru-buru memberitakan sehingga melupakan kode etik jurnalistik.


Page 1 of 2