Dua, Tiga, dan Seterusnya Tidak Eksis
Dalam sehari-hari kita mengenal konsep bilangan. Namun, apakah kita pernah menyadari bahwa sesungguhnya bilangan itu hanya persepsi? Apakah kita pernah mendapati di alam nyata dari wujud konsep angka 2, 3, dst? Kita tidak akan pernah mendapati konsep bilangan 2, 3, dst di dunia nyata. Angka-angka itu murni persepsional. Keberadaannya hanya di alam pikiran. Dua tidak ada di dunia nyata. Tiga juga tidak ada di dunia nyata.
Menyingkap Makna Rumah Tangga
“Dia statusnya apa ya? Masih bujang atau sudah berumah tangga?”
Dari pertanyaan di atas, kata rumah tangga memiliki arti identik dengan pernikahan, artinya sudah menikah atau sudah berkeluarga. Di Indonesia–dan mungkin hanya di Indonesia–pernikahan itu disebut dengan “Rumah Tangga”. Dulu saya sempat menulis makna filosofis dari kata “rumah tangga” ini di blog saya, di sini akan saya coba paparkan kembali dengan bahasa yang berbeda dan dilengkapi penjelasannya.
Tidak Ada “Kitab Suci” dalam Kitab Suci
Kenapa sumber ajaran dari sebuah agama disebut “Kitab Suci“? Dalam literatur bahasa Inggris pun sama, ketika mengacu ke teks-teks agama disebut dengan Holy Book. Apakah memang “kesucian” dari kitab-kitab agama tersebut memberikan implikasi pada pensakralan, sehingga setiap yang datang dari kitab suci adalah sakral dan absolut?
Wilfred Cantwell Smith pernah menulis buku What is Scripture?: A Comparative Approach diterjemahkan menjadi buku “Kitab Suci Agama-agama”. Smith tidak menyebutnya dengan istilah Holy Books tapi dengan istilah Scripture. Karena menurutnya, istilah kitab suci tidak ada dalam semua teks agama.
Orang Bodoh tapi Berprinsip
Ada beberapa tipe orang dalam berprinsip. Prinsip adalah nilai dan keyakinan yang dipercayai penuh oleh seseorang dan menjadi pedoman hidupnya. Berikut adalah penggolongan orang berdasarkan prinsipnya dari kata-kata seorang bijak:
Rasionalitas dalam Peristiwa Isra Mi’raj
Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (Kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. (QS. Al-Isra`[17] : 1)
Lika-liku Pernikahan Beda Agama
Banyak istilah untuk menyebut perkawinan beda agama, ada yang menggunakan istilah interfaith marriage, interreligion marriage, cross religion marriage, intercultural marriage, dan sebagainya. Meskipun judulnya adalah "Pernikahan Beda Agama", namun di sini akan digunakan istilah interfaith marriage (antar-iman) mengacu ke istilah yang digunakan oleh Shaffer (2010). Karena kalau menggunakan idiom “agama” lebih mengacu pada tatanan pelembagaan keyakinan yang lebih luas, menyangkut juga politik, ekonomi, hukum, dan sebagainya. Sementara perkawinan lebih spesifik ke masalah pribadi, sehingga lebih cocok menggunakan istilah “iman”.
Agama Organik
Istilah organik banyak dikenal saat ini, terutama pada bidang pertanian seperti sayuran, buah-buahan, beras, pupuk dan sebagainya. Organik dalam obyek-obyek tersebut adalah kata sifat yang berarti “berasal dari makhluk hidup”. Beras organik artinya beras yang ditanam di tanah yang alami dan dipupuk dengan bahan-bahan makhluk hidup dari alam, tanpa campuran kimiawi.
Alam Ide vs Alam Fisik
Kita sering mendengar orang berkata: “Lagi cari ide”, “idenya brillian”. Pertanyaannya: Apa itu ide? Di manakah ide itu berada? Pertanyaan filosofis yang banyak dibahas oleh para filosof dengan bahasa yang terkadang susah dipahami.
Mari kita bikin mudah. Kalau bisa dibikin mudah kenapa harus dibikin susah. Ide jelas bukan benda yang bisa dilihat oleh indera. Ide sifatnya abstrak. Alam ide merupakan salah satu pemikiran utama Plato. Menurutnya, semua yang ada di dunia ini adalah palsu. Tembok yang kita lihat bukan tembok yang sebenarnya, karena suatu saat akan musnah. Sendok yang kita lihat dan pegang bukan sendok yang sebenarnya, karena bisa hilang. Tembok dan sendok yang hakiki adalah apa yang ada di alam ide, alam imaginal. Alam ide hanya bisa digapai oleh pikiran yang juga abstrak. Tugu Monas yang hakiki adalah yang ada di pikiran Soekarno sebagai pemilik ide mengenai Monas. Ide ini lantas dibantu oleh unsur material sehingga terwujudlah Monas yang kita lihat. Setiap yang ada di dunia ini ada duplikatnya di dunia ide.
Memberi adalah Memberi
Fenomena pengemis, anak jalanan, anak yatim piatu dan orang-orang yang butuh uluran tangan merupakan realitas yang sering kita jumpai. Baik yang ada di jalan, perumahan, di panti-panti asuhan, maupun tempat lain. Ketika seseorang memberi kepada pengemis, misalnya, seringkali melihat terlebih dahulu kondisi fisiknya apakah benar-benar butuh bantuan atau hanya karena kemalasan. Sehingga tak jarang orang mengurungkan niat untuk memberi jika peminta-minta masih memiliki badan yang kuat yang seharusnya bekerja bukan meminta-minta. Perkataan ini pun sering dilontarkan, “Jangan jadi pemalas, lebih baik cari kerja daripada meminta-minta, toh badan masih kuat, muda, dsb”.
Terapi Melalui Menulis
“Alkisah, ada seorang anak yang memiliki syndrome halusinasi. Ia sering dihantui bayangan-bayangan yang menakutkan. Bayangan itu bisa muncul kapan saja. Pagi, siang, sore dan malam. Anak itu merasa tersiksa karena tidak bisa makan-minum dengan normal, tidur pun susah karena terus dihantui bayangan-bayangan. Hingga badannya menjadi kurus dan terlihat oleh orang lain seperti anak yang terbelakang mental.
Orang tuanya sudah membawa anak itu ke berbagai rumah sakit tapi tidak membuahkan apa-apa. Lantas suatu hari mereka membawanya ke seorang profesor ahli otak. Setelah diterapi sang profesor memberikan sebuah jurnal pada si anak dan menyuruhnya untuk menulis setiap aktivitas yang dikerjakan pada jurnal tersebut. Si anak mengangguk, karena sebetulnya ia tidak terbelakang mental. Bisa komunikasi lancar meskipun seperti orang yang ketakutan.
-
V.O.H Dalam Media
- Radio (11)
- Televisi (5)
- Cetak (6)
- Online (12)
- Forums (10)
Copyright © 2012 Voice of Humanism (VoH). All Rights Reserved.