Teori Uses and Gratification dalam Penggunaan Media

Menurut McQuail (Rakhmat, 2001:16) motif penggunaan media, yaitu : motif hiburan, yang menetapkan sebagai pelarian dari rutinitas atau masalah sehari-hari; motif integrative sosial, terjadi ketika mereka menggantikan media sebagai sahabat mereka; motif identitas pribadi, cara untuk memperkuat nilai-nilai pribadi; dan motif informasi, tentang bagaimana media akan membantu seseorang untuk mendapatkan informasi.

Dalam model Uses and Gratification pengguna media menggunakan media dipengaruhi oleh motif. Hasil mengkonsumsi media berdasarkan motif tertentu itu diduga akan melahirkan pemuasan bagi pengkonsumsi media.

Untuk lebih lengkapnya kategori motif penggunaan media menurut McQuail (2004:98) sebagai berikut:

  1. Informasi
    • Mencari berita tentang peristiwa dan kondisi yang berkaitan dengan lingkungan terdekat, masyarakat dan dunia
    • Mencari bimbingan menyangkut berbagai masalah praktis, pendapat, dan hal-hal yang berkaitan dengan penentuan pilihan
    • Mememuaskan rasa ingin tahu dan minat umum
    • Belajar, pendidikan diri sendiri
  2. Identitas pribadi
  • Menemukan penunjang nilai-nilai pribadi
  • Menemukan model perilaku
  • Mengidentifikasikan diri dengan nilai-nilai lain (dalam media)
  • Meningkatkan pemahaman tentang diri sendiri
  1. Integritas dan interaksi social
  • Memperoleh pengetahuan tentang keadaan orang lain; empati social
  • Mengidentifikasikan diri dengan orang lain dan meningkatkan rasa memiliki
  • Menemukan bahan percakapan dan interaksi sosial
  • Memperoleh teman
  • Membantu menjalankan peran sosial
  • Memungkinkan seseorang untuk dapat menghubungi sanak-keluarga, teman, dan masyarakat
  1. Hiburan
  • Melepaskan diri atau terpisah dari permasalahan
  • Bersantai
  • Memperoleh kenikmatan jiwa dan estetis
  • Mengisi waktu
  • Penyaluran emosi

Sementara menurut Ashadi Siregar dan Sondang Pasaribu (2001:57) ada tiga jenis motif yang terdapat pada setiap orang yang mendorongnya untuk menggunakan media yaitu :

  • Seseorang disebut memiliki motif informasional upayanya memperoleh kejelasan tentang kebutuhan terhadap informasi tertentu agar ia meperoleh  kejelasan tentang sesuatu hal. Informasi yang memberi kejelasan tentang sesuatu yang digunakan  untuk mengurangi keragu-raguannya terhadap lingkup social atau lingkungan pergaulannya.
  • Seseorang disebut memiliki motif edukasional kalau upayanya mencara informasi didorong oleh kebutuhan terhadap informasi yang dapat digunakannya untuk belajar atau memproses diri. Informasi yang diperoleh pembaca berdasarkan motif semacam ini dapat digunakan untuk memperbaiki penampilan dirinya dalam pergaulan social, meperbaiki cara kerjanya, dan sebagainya.
  • Seseorang disebut memiliki motif hiburan kalau ia mencari informasi yang didapat untuk memperoleh kesenangan-kesenangan psikologis. Jadi informasi itu digunakan dalam konteks kepentingan pribadi dan secara langsung tidak berkaitan dengan lingkungan sosialnya.

Motif-motif diatas biasa disebut Gratification Sought. Menurut Palmgreen (1994:27), Gratification Sought adalah kepuasan yang dicari atau diinginkan pengguna ketika menggunakan suatu jenis media tertentu. Dengan kata lain, pengguna akan memilih atau tidak suatu media tertentu dipengaruhi oleh sebab-sebab tertentu, yaitu didasari motif pemenuhan sejumlah kebutuhan yang ingin dipenuhi.

Berdasarkan pendapat-pendapat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa dari motif-motif tersebut seseorang memiliki kebutuhan mendasar dengan menggunakan media. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa seseorang menggunakan media karena didorong oleh beraneka ragam motif.

Pemenuhan Kebutuhan dari Penggunaan Media

Masing-masing individu bertanggung jawab dalam pemilihan media untuk memenuhi kebutuhan informasi sehingga menyadari kebutuhannya masing-masing dan cara memenuhinya. Sehingga dapat dikatakan bahwa kepuasan kebutuhan informasi adalah suatu cara memenuhi informasi yang dibutuhkan, yang merupakan kemampuan sesuatu hal untuk memberikan kepuasan.

Menurut Palmgreen, Gratification Obtained (Kepuasan yang diperoleh) adalah sejumlah kepuasan yang diperoleh individu atas terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan tertentu setelah individu tersebut menggunakan media (Rakhmat, 2005:27).

Katz, Gurevich dan Haas (1973) memandang media massa sebagai suatu alat yang digunakan oleh individu-individu untuk berhubungan (atau memutuskan hubungan) dengan yang lain. Para peneliti tersebut membuat daftar 35 kebutuhan yang diambil (sebagian besar spekulatif) dari literature tentang fungsi-fungsi social dan psikologis media massa kemudian menggolongkannya ke dalam lima kategori (Mulyana, 2004:144):

  1. Kebutuhan kognitif – memperoleh informasi, pengetahuan dan pemahaman
  2. Kebutuhan afektif – emosional, pengalaman menyenangkan atau estetis.
  3. Kebutuhan integrative personal – memperkuat kredibilitas, rasa percaya diri, stabilitas dan status.
  4. Kebutuhan integrative social – mempererat hubungan dengan keluarga, teman dan sebagainya
  5. Kebutuhan pelepasan ketegangan - pelarian

Untuk kasus ini peneliti menganalisis hubungan penggunaan media dengan pemenuhan kebutuhan digunakan teori Uses and Gratifications, “…penelitian uses and gratifications sering memasukan unsur “motif” untuk kebutuhan dan ‘alternatif-alternatif fungsional’ untuk memenuhi kebutuhan.” (Sendja, 2001:212)

Pendekatan teori uses and gratifications lebih mengarah kepada perhatian penggunaan (uses) isi media untuk mendapatkan pemuasan (gratification) terhadap kebutuhan seseorang, yang mana dalam teori ini khalayak yang aktif, secara sengaja menggunakan media untuk memenuhi kebutuhannya. “Pendekatan uses and gratifications mempersoalkan yang dilakukan orang pada media, yakni menggunakan media untuk pemuas kebutuhannya.” (Rakhmat, 2004:217)

“Pendekatan uses and gratifications untuk pertama kali dijelaskan oleh Elihu Katz (1959) dalam suatu artikel sebagai reaksinya terhadap pernyataan Bernard Berelson (1959) bahwa penelitian komunikasi tampaknya akan mati. Katz menegaskan bahwa bidang kajian yang sedang sekarat itu adalah studi komunikasi massa sebagai persuasi.”(Effendy, 2004:259)

Denis McQuail menyebutkan adanya dua hal dibalik kebangkitan pendekatan ini. Pertama adalah adanya oposisi terhadap asumsi yang deterministik mengenai efek media, yang merupakan bagian dari dominannya peran individu yang kita kenal dalam model komunikasi dua tahap. Kedua, adanya keinginan untuk lepas dari pedebatan yang kering dan terasa steril mengenai penggunaan media massa yang hanya didasarkan atas selera individu. Dalam hal ini, pendekatan uses & gratifications memberikan suatu cara alternatif untuk memandang pada hubungan antara isi media dan audience, dan pengkategorian isi media menurut fungsinya daripada sekedar tingkat selera yang berbeda.

Meskipun masih diragukan adanya ‘satu’ model uses & gratifications ataukah ada banyak diantaranya, namun para ahli sependapat mengenai gagasan utama pendekatan ini. Katz (1974) menggambarkan logika yang mendasari penelitian mengenai media uses and gratifications yang dapat dilihat pada gambar di bawah ini (Rakhmat, 2004:233):


Dari gambar di atas, dapat dijelaskan bahwa kondisi sosial dan psikologis seseorang akan menyebabkan adanya kebutuhan, yang menciptakan harapan-harapan terhadap media massa atau sumber-sumber lain, yang membawa kepada perbedaan pola penggunaan media (atau keterlibatan dalam aktivitas lainnya) yang akhirnya akan menghasilkan pemuasan kebutuhan, serta konsekuensi lainnya, termasuk yang tidak diharapkan sebelumnya.

Pustaka:

Rakhmat, Jalaluddin. Psikologi Komunikasi, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1984 dan 2001.

Palmgreen, Philip. Communication Research Measures: A Sourcebook. The Guilford Press, 2001.

Effendy, Onong Uchjana. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000 dan 2005.

Sendja, Wied, Ganes, Zaldy & Teguh Santosa. Komunikasi dan Budaya. Jakarta: Jurnal UI, 2001.

Mulyana Deddy, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002.