Islamofobia: Definisi, Karakteristik, dan Fenomena Penyebarannya

Pendahuluan

Istilah “Islamofobia” (Islamophobia) muncul pada awal tahun 1900-an[1] dan banyak digunakan kemudian sejak peristiwa pemboman menara WTC di Amerika atau tragedi 9/11.[2] Sejak peristiwa tersebut, kebencian dan serangan terhadap komunitas Muslim di Amerika meningkat hingga 1600 persen. Meskipun perlahan memudar, namun Muslim di negara yang dikenal paling demokratis terus mengalami tekanan dan penyerangan.[3]

Seperti diungkapkan Oldenburg (2009), dari aspek historis, Islamofobia merupakan fobia terhadap multikulturalisme dan populasi imigran yang telah menjadi bagian dari dialog geopolitik dan menjadi perdebatan selama berabad-abad.[4] Islamofobia kini menjadi isu nasional bahkan internasional dan digunakan di banyak disiplin ilmu serta mencakup semua aspek, bukan hanya politik, ekonomi, sosial, keamanan, bahkan seni dan perfilman.

Di bidang politik, Islamofobia menjadi isu utama kampanye politik kandidat presiden di Amerika dan Eropa. Trump dan para pendukungnya, misalnya, menggunakan sentimen rasisme dan Islamofobia pada kampanye politik di Amerika tahun 2020 dengan slogan “Send Her Back”, yang ditujukan kepada empat anggota kongres yang berasal dari kalangan Muslim dan Etnis lain yang berasal dari Partai Demokrat (Anggota legislatif Ilhan Omar dari Minnesota, Anggota Legislatif Rashida Tlaib dari Michigan, Ayanna Pressley dari Massachusetts dan Anggota Legislatif Alexandria Ocasio-Cortez dari New York).[5]

Di Eropa, Presiden Perancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Austria Sebastian Kurz pun mengeluarkan kebijakan yang memicu gelombang besar Islamofobia di Eropa. Macron di antaranya merumuskan rancangan undang-undang tentang separatisme Islam yang diajukan ke kabinet dengan tujuan untuk menempatkan pengawasan lebih ketat pada pembiayaan masjid dan asosiasi Muslim serta melarang negara-negara mengirimkan imam ke Prancis. Hal ini dipicu dari insiden pemenggalan kepala guru Perancis Samuel Paty di pinggiran kota Paris pada 16 Oktober 2020.

Kurz di Austria memutuskan untuk mengubah hukum yang telah lama berlaku sejak 1912 di Austria yang mengakui Islam sebagai denominasi Agama resmi di negara itu dan mengusulkan undang-undang yang menargetkan Muslim dan para imigran. Kurz juga melarang penggunaan kerudung di tempat umum dan jilbab di sekolah dasar.[6]

Di bidang ekonomi, Islamofobia menjadi salah satu fokus penelitian dari banyak peneliti, di mana pada perusahaan-perusahaan besar sejak berhembusnya isu Islamofobia, banyak karyawan yang termarjinalkan dikarenakan faktor agama Islam yang dianutnya.[7]

Telah terjadi banyak perlakuan diskriminatif terhadap kaum Muslim, yang dalam terminologi Sekerka dan Yacobian (2018), disebut dengan istilah “Anti-Muslimisme”. Perusahaan-perusahaan ternama seperti Abercrombie & Fitch, Cadillac, McDonald, Wal-Mart, Bo-Cherry, GoDaddy, ABM Security, dan perusahaan besar Amerika lain, berdasarkan penelitian yang dilakukan telah melakukan diskriminasi terhadap komunitas Muslim yang mengarah pada tindakan anti-muslimisme dan Islamofobia. Misalnya tindakan tidak mengikutkan perempuan Muslim yang memakai kerudung/hijab dalam proses interview rekrutmen kerja, pelecehan verbal (harassment) dengan mengatakan “Muslim adalah teroris”, tidak mengizinkan memanjangkan janggut bagi trainer dan yang bertugas di bagian penyajian makanan, dan tindakan lain.[8]

Di bidang keamanan, Islamofobia juga dapat dideteksi dari banyaknya protokol keamanan dan usulan legislasi di Amerika yang berorientasi pada pembatasan gerak kaum Muslim.[9] Begitu pun halnya pada bidang seni dan perfilman. Serial TV yang ditayangkan NBC antara rentang tahun 1999-2016 berjudul The West Wing menampilkan wajah Islam dan Islamophobia pada aspek politik sejak tragedy 9/11.[10]

Adapun di bidang perfilman, sejumlah film Hollywood menampilkan sejumlah narasi Islamofobia pada beberapa adegan dan narasi film, misalnya film Gladiator (2000), The Immortals (2011), Kingdom of Heaven (2005), Alexander (2004), The Lord of the Rings (2001, 2002, 2003), dan Pirates of the Caribbean (2003). Film-film yang umumnya bertema sejarah, mahal, spektakuler, dan mewah/epik. Sejarah perang salib, fundamentalisme agama, dan narasi ketuhanan diusung untuk menarasikan permusuhan antara dua agama besar, yang tanpa disadari membawa pada framing Islamofobia.[11]

Definisi dan Karakteristik Islamofobia

Islamofobia didefinisikan sebagai permusuhan yang tidak berdasar terhadap Muslim,[12] mewakili penilaian negatif bagi mereka yang mengadopsi berbagai nilai dan praktik diskriminatif terhadap Muslim, wacana Islam, dan praktik budaya terkait.[13]  Adapun Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendefinisikan Islamofobia dalam laporan khusus Dewan Hak Asasi Manusia tentang Bentuk-Bentuk Rasisme, Diskriminasi Radikal dan Xenofobia pada tahun 2007 sebagai: “Permusuhan dan ketakutan yang tidak berdasar terhadap Islam dan, sebagai akibatnya, ketakutan akan Islam serta kebencian terhadap semua Muslim atau mayoritas dari mereka.”[14]

Secara historis, istilah Islamofobia muncul pertama kali dalam laporan resmi Runnymede Trust pada tahun 1997, yang mengkodekan sikap diskriminatif Protestan Anglo-Saxon Inggris terhadap warga Muslim. Kosakata ini dikenal sebagai ungkapan ofensif, menyakiti, diskriminasi, kebencian, menghasut, stereotip, provokatif, menghina, mencemarkan nama baik, dan merendahkan Muslim dan Islam.[15]

Sebuah lembaga di Inggris, The Commission on British Muslims and Islamophobia memperluas arti dan penerapan istilah Islamofobia pada beberapa stigmatisasi Muslim dan/atau keyakinan terhadap Islam pada beberapa stigma:

  • Islam adalah agama monolitik dan statis;
  • Ajaran Islam terpisah atau eksklusif dan bukan bagian dari budaya lokal;
  • Irasional, primitif dan inferior terhadap Barat;
  • Muslim sebagai kelompok agresif, penuh kekerasan, dan terlibat dalam benturan peradaban;
  • Islam adalah ideologi yang digunakan untuk mempromosikan kepentingan politik dan militer;
  • Masyarakat Muslim tidak toleran terhadap kritik Barat;
  • Muslim layak mendapatkan praktik diskriminatif dan pengucilan dikarenakan membahayakan; dan
  • Menjadikan permusuhan anti-Muslim sebagai hal yang wajar.[16]

Menurut pengamatan Islamophobia Observatory of OKI, Islamophobia memiliki empat ekspresi utama:

  • Kekerasan (penyerangan fisik, pelecehan verbal, perusakan properti),
  • Prasangka (di media massa dan media sosial dan jenis percakapan lainnya),
  • Diskriminasi (di tempat kerja dan pelayanan sosial) dan
  • Pengucilan (dari pekerjaan, politik dan pemerintahan, dan dari bidang kehidupan nasional lainnya).[17]

Lembaga riset Runnymede Trust tahun 2000 mengemukakan definisi kontemporer komprehensif pertama tentang Islamofobia, yaitu sebagai: “ketakutan, kebencian, atau permusuhan terhadap Islam dan Muslim”.[18] Persepsi dan perilaku terkait seperti itu merupakan atribut negatif atau stereotip yang merendahkan, sehingga berdampak pada praktik pengucilan dan diskriminasi.[19] Sentimen Islamofobia membingkai Muslim sebagai musuh internal dan eksternal.[20]

Brown (2000) menambahkan bahwa Islamofobia berfokus pada orang lain yang didefinisikan secara agama, bukan terhadap kelompok ras atau etnis tertentu.[21] Begitu pun definisi Islamofobia menurut Wilkins–LaFlamme (2018), bahwa masyarakat Muslim adalah kelompok yang terpisah dari masyarakat, secara inheren mengizinkan kekerasan (misalnya pada ajaran agama dan pandangan politik), radikal atau fanatik, serta tidak menghormati wanita.[22]

Pendapat Allen (2010) memberikan komponen yang berbeda pada Islamofobia. Mengidentifikasinya sebagai ideologi dan praktik eksklusif dari kelompok Muslim dan ajaran Islam dalam berbagai bidang sosial.[23] Green (2015) memberikan karakteristik fenomena Islamofobia sebagai sebuah fenomena yang didorong oleh pandangan "tertutup", yaitu perspektif yang sempit terhadap Islam dan/atau persepsi stereotip atas Muslim yang digunakan untuk membenarkan permusuhan anti-Muslim. Sangat penting untuk disadari, bahwa Islamofobia tidak didorong oleh faktor agama saja. Sebaliknya, hal itu dapat dipicu oleh rasisme berdasarkan tradisi budaya dan latar belakang etnis. Green menambahkan bahwa faktor perbedaan ras dan agama saling terkait erat dalam wacana dan tindakan Islamofobia.[24]  

Fenomena Islamofobia di Era Modern

Seperti jenis fobia lainnya, Islamofobia tidak dimiliki oleh individu saja; melainkan dimiliki oleh sebagian besar populasi. Fenomena ini bukan fenomena baru, melainkan telah muncul beberapa dekade pada akhir Perang Dingin di Eropa Timur, Kaukasus dan sampai batas tertentu di kawasan Asia Tengah sebagai kekuatan antagonis untuk mencegah Muslim mempertahankan dan mempromosikan identitas Islam mereka. Akibatnya, setiap negara yang baru dibebaskan dari Uni Republik Sosialis Soviet harus menghadapi pertumpahan darah yang parah, gelombang multilateral pembersihan etnis dan kejahatan kebencian terhadap Muslim.[25]

Belakangan, cendekiawan dan orientalis mempresentasikan dan menyebarkan premis mereka mengenai hal tersebut sebagai benturan peradaban (Clash of Civilization). Akibatnya, mereka secara sepihak menjelek-jelekkan Muslim dan Islam sebagai musuh masa depan peradaban Barat. Samuel P. Huntington misalnya, menulis bahwa peradaban Barat akan menghadapi Islam sebagai ancaman konstan di masa depan daripada ancaman sementara dari fundamentalisme Islam. Demikian pula, Vincent Geisser mengatakan bahwa Islamofobia bukanlah manifestasi dari persaingan sejarah sejak Perang Salib, melainkan murni 'rasisme anti-Muslim.'[26]

Fenomena Islamofobia di era kini semakin deras dengan adanya amplifikasi dari media nasional dan internasional bahkan hingga media sosial. Difasilitasi dan didanai dengan jumlah dana yang sangat besar. Sebuah lembaga di Washington Amerika, Council on America-Islamic Relation (CAIR), menyampaikan laporannya, bahwa antara tahun 2008 hingga 2011 terdapat 37 organisasi di Amerika yang didanai sebesar 119 juta dollar dari berbagai sumber yang mendedikasikan diri melakukan promosi Anti-Islam atau Islamofobia di Amerika.[27]

Gerakan Islamofobia di Amerika ini terus meningkat dan didanai dengan dana lebih besar pada tahun 2014 hingga 2016, di mana terdapat 39 organisasi anti-Muslim yang memperoleh dana sebesar 1.5 miliar dollar. Pendanaan untuk gerakan Islamofobia ini berasal dari berbagai aktivitas, di antaranya berasal dari donasi sukarelawan, iuran keanggotaan, dan hasil dari kegiatan investasi.

Di antara organisasi yang terlibat dalam gerakan Islamofobia di Amerika adalah ACLJ (American Center for Law and Justice) yang berkontribusi pendanaan sebesar 34 juta dollar, Gatestone Institute berkontribusi dana sebesar 2.2 juta dollar, CSP (Center for Security Policy) berkontribusi dana sebesar 1.9 juta dollar, dan MEF (Middle East Forum) yang berkontribusi dana sebesar 1.5 juta dollar.[28]

Iman Attia, yang menulis tentang rasisme dan anti-Muslim sejak akhir 1990-an, mengangkat isu tersebut dan memunculkan kembali dalam publikasinya pada tahun 2007 setelah topik tersebut menjadi lebih banyak muncul dan menjadi perbincangan di masyarakat. Menurutnya, mempelajari rasisme dan anti-Muslim (Islamophobia) memerlukan dekonstruksi proses sosial dan umumnya dilakukan oleh struktur kekuasaan. Baginya, ini adalah tentang “revisi hegemonik dari sebuah wacana yang dominan dalam melayani stabilisasi kekuasaan”.[29]

Attia menambahkan, bahwa rasisme dan anti-Muslim adalah bentuk rasisme budaya, di mana “agama dibudayakan dan ditransformasikan menjadi komponen esensial dari konsepsi budaya tentang diri dan lainnya”.[30] Ketika berbicara tentang Islamofobia, satu hal yang dimaksud yaitu rasisme anti-Muslim. Sebagai sebuah studi Anti-Semitisme telah menunjukkan, komponen etimologis dari sebuah kata tidak selalu menunjuk ke arti lengkapnya, maupun cara penggunaannya.

Demikian pula halnya dengan Studi Islamofobia. Ia telah menjadi istilah terkenal yang digunakan di dunia akademis dan menjadi isu liar. Kritik terhadap Muslim atau terhadap agama Islam belum tentu Islamofobia. Islamofobia adalah tentang sekelompok orang yang dominan bertujuan untuk merebut, menstabilkan, dan memperluas kekuasaan mereka dengan mendefinisikan kambing hitam. Islamofobia beroperasi dengan membangun identitas “Muslim” yang statis, dikaitkan dengan istilah negatif dan digeneralisasi untuk semua Muslim. Pada saat yang sama, gambaran Islamofobia bervariasi dalam konteks yang berbeda, karena Islamofobia memberi tahu kita lebih banyak tentang ketakutan terhadap Islam daripada memberitahu kita tentang Muslim atau Islam. [31]

Islamofobia menyebar ke seluruh penjuru dunia. Di Inggris, menurut Kepolisian Metropolitan London, jumlah kejahatan kebencian Islamofobia di Inggris yang dilaporkan meningkat dari tahun ke tahun. Sesaat sebelum menjadi Perdana Menteri, Boris Johnson menggambarkan wanita Muslim yang memilih untuk memakai niqab sebagai terlihat seperti 'kotak surat' atau 'perampok bank’. Lalu pernyataan itu direvisi oleh Johnson sebagai 'kekeliruan' atau lelucon. Ini bukan pertama kalinya dia dituduh Islamofobia.

Selama kampanye untuk mengeluarkan Inggris dari Uni Eropa (UE), Johnson memprovokasi ketakutan yang tidak berdasar apabila Turki bergabung dengan UE. Ia juga menulis dalam sebuah editorial di sebuah majalah nasional bahwa al-Qur'an itu 'sangat kejam’. Tidak mengherankan, sejak menjadi Perdana Menteri dan pemimpin Partai Konservatif negara itu, dia telah berulang kali menolak seruan untuk penyelidikan internal atas tuduhan Islamofobia di dalam partai keanggotaan. Pada saat yang sama, dia telah menyuarakan kebutuhan untuk menyelidiki tuduhan anti-Semitisme di partai oposisi utama, yaitu pada Partai Buruh. [32]

Di Eropa khususnya di Italia, setelah 11 September berkembang apa yang disebut oleh Alietti dan Padovan dengan istilah “Xeno-Rasisme” yang mengarah pada Islamofobia, yaitu kebencian terhadap komunitas Muslim meskipun mereka telah menetap di Eropa selama beberapa dekade, dan merupakan warga negara kelahiran Eropa. Komunitas Muslim dianggap tidak hanya mengancam Eropa sebagai “musuh dalam selimut” dalam perang melawan teror; namun jauh lebih dari itu bahwa kepatuhan mereka pada norma-norma dan nilai-nilai Islam mengancam gagasan ke-Eropa-an itu sendiri.

Di bawah kedok patriotisme, rasisme anti-Muslim dikampanyekan yang mengancam tatanan masyarakat multikultural. Dampak Islamofobia di Italia kemudian menuju penerapan sejumlah langkah, yang meliputi penyusunan kembali undang-undang kewarganegaraan menurut pertimbangan keamanan; pengenalan bahasa wajib dan tes kewarganegaraan untuk kewarganegaraan pelamar; kode etik dan pengawasan masjid; kode etik budaya untuk gadis dan wanita Muslim yang, di beberapa wilayah Eropa, dilarang mengenakan jilbab di sekolah-sekolah negeri dan lembaga-lembaga negara lainnya. [33]

Etin Anwar meneliti secara khusus mengenai dialektika Islamofobia dan radikalisme di Indonesia dari aspek politik pada tahun 2009. Ia menulis, bahwa sebagai bagian dari perang melawan teror, Amerika di Indonesia menyebut beberapa pesantren, ormas, dan tokoh kontroversial Indonesia seperti Abu Bakar Ba'asyir sebagai ancaman teroris. Kelompok Islamis seperti Front Pembela Islam (FPI), Majelis Mujahidin Indonesia, dan Hizbut Tahrir menanggapi pelabelan ini sebagai intervensi dalam urusan dalam negeri Indonesia.[34] Akibatnya, kaum Islam menunjukkan kemarahan mereka pada kebijakan luar negeri Amerika Serikat di Afghanistan dan Irak melalui gelombang demonstrasi anti-Amerika di kota-kota besar, termasuk Jakarta, Makasar, Medan, dan Solo. Kelompok-kelompok Islam ini menganggap Amerika sebagai ancaman bagi Islam dan umat Muslim.[35]

Islamofobia di Indonesia dapat direduksi dengan gerakan revivalisme agama modern di Indonesia di awal abad kedua puluh melalui peran ormas-ormas besar Islam. Citra keras Islam dari hasil kampanye Islamofobia di dunia Barat dihadapi melalui dakwah kultural yang lebih mengakar pada budaya kebangsaan. Di antara mereka yang terus berpengaruh adalah ormas Nahdatul Ulama, Muhammadiyah, dan Persatuan Islam. Sementara organisasi-organisasi ini berbeda-beda dalam menyebarkan ajaran Islam dan metode pedagogisnya. Mereka secara bertahap menjadi tulang punggung Muslim moderat.*[36]

 

--------

[1] Leslie Elizabeth Sekerka dan Marianne Marar Yacobian, “Fostering workplace respect in an era of anti-Muslimism and Islamophobia: A proactive approach for management”, Equality, Diversity and Inclusion: An International Journal, Vol. 37 No. 8, 2018, hlm. 813.

[2] Etin Anwar, et.al., “The Dialectics of Islamophobia and Radicalism in Indonesia”, Journal of ASIA Network Exchange, Vol. XVI, No. 2, Spring 2009, hlm.54.

[3] Etin Anwar, Ibid., hlm.53.

[4] Leslie Elizabeth Sekerka dan Marianne Marar Yacobian, “Understanding and addressing Islamophobia in organizational settings: Leading with moral courage”, International Journal of Public Leadership, Vol. 13 No. 3, 2017, hlm. 134.

[5] Hatem Bazian, “Islamophobia, Trump’s Racism and 2020 Elections!”, Islamophobia Studies Journal, Vol. 5, No. 1 (Fall 2019), hlm. 8-10.

[6] Republika, Edisi Jumat 20 November 2020.

[7] Lihat Leslie Elizabeth Sekerka dan Marianne Marar Yacobian, Op.Cit., hlm.814-831.

[8] Leslie Elizabeth Sekerka dan Marianne Marar Yacobian, Ibid., hlm.819.

[9] Council on America-Islamic Relation (CAIR), Legislating Fear: Islamophobia and its Impact in the United States,” 2011.

[10] Brigitte Georgi-Findlay, “Inter/Multimedial Constructions of Islam in Post-9/11 TV Series: The West Wing and 24”, European Journal of American Studies; London Vol. 15, Iss. 3,  (2020).

[11] Elena Furlanetto, “The Reluctant Islamophobes: Multimedia Dissensus in the Hollywood Premodern”, European Journal of American Studies; London, 2020, Vol. 15, Iss. 3. 

[12] Runnymede Trust, The future of Multi-Ethnic Britain: the Parekh Report, Profile Books, London, 2000, hlm.143.

[13] Allen C., “The ‘first’ decade of Islamophobia: 10 years of the Runnymede Trust report ‘Islamophobia: a challenge for us all’, West Midlands, 2007, hlm.18.

[14] Muhammad Yaseen Naseem dan Samraiz Hafeez, “A Legitimate Response of Muslims towards Islamophobia”, Journal of Islamic Thought and Civilization; Lahore Vol. 7, Iss. 1,  Spring 2017, hlm.31-52,105.

[15] Muhammad Yaseen Naseem dan Samraiz Hafeez, Ibid.

[16] Lihat Leslie Elizabeth Sekerka dan Marianne Marar Yacobian, Op.Cit., hlm.814-815.

[17]  Muhammad Yaseen Naseem dan Samraiz Hafeez, Op.Cit.

[18] Runnymede Trust, The future of Multi-Ethnic Britain: the Parekh Report, Profile Books, London, 2000.

[19] Kalin, I., “Islamophobia and the limits of multiculturalism”, in John L. Esposito and Kalin, I. (Eds), Islamophobia: The Challenge of Pluralism in the 21st Century, Oxford University Press, New York, NY, 2011, hlm. 3-20.

[20] J. Cesari, Why the West fears Islam. An Exploration of Muslims in Liberal Democracies, Palgrave, Macmillan, New York, NY, 2013.

[21] M.D. Brown, “Conceptualizing Racism and Islamophobia”, Ashgate Publishing Ltd, Aldershot, 2000, hlm. 73-90

[22] Wilkins-LaFlamme, “Islamophobia in Canada: measuring the realities of negative attitudes toward Muslims and religious discrimination”, Canadian Review of Sociology, Vol. 55 No. 1, 2018, hlm. 86-110.

[23] C. Allen, Islamophobia, Ashgate, Surrey, 2010.

[24]  T. Green, The Fear of Islam: An Introduction to Islamophobia in the West, Augsburg Fortress Publishers, Minneapolis, 2015, hlm. 9-33.

[25]  Muhammad Yaseen Naseem dan Samraiz Hafeez, “A Legitimate Response of Muslims towards Islamophobia”, Journal of Islamic Thought and Civilization; Lahore Vol. 7, Iss. 1,  Spring 2017, hlm.31-52,105

[26] Islamophobia Observatory, 1st OIC Observatory Report on Islamophobia (May 2007 to May 2008), Kampala: Organization of Islamic Conference, 2008, hlm.1-56.

[27] Council on America-Islamic Relation (CAIR), Legislating Fear: Islamophobia and its Impact in the United States,” 2011.

[28]  Council on America-Islamic Relation (CAIR), The Islamophobia Network: A $1.5 Billion Marketplace, 2019. Lihat juga Corey Saylor, “The U.S. Islamophobia Network: Its Funding and Impact”, Islamophobia Studies Journal, Vol.2, No. 1, 2014, hlm. 99-xx.

[29] Iman Attia dalam Farid Hafez, “Schools of Thought in Islamophobia Studies: Prejudice, Racism, and Decoloniality”, Islamophobia Studies Journal, Vol.4, No. 2 Spring 2018, hlm. 210–225

[30]  Iman Attia dalam Farid Hafez, Ibid.

[31]  Farid Hafez, “Schools of Thought in Islamophobia Studies: Prejudice, Racism, and Decoloniality”, Islamophobia Studies Journal, Vol.4, No. 2 Spring 2018, hlm. 213.

[32] Chris Allen, “Contemporary Experiences of Islamophobia in Today's United Kingdom: Findings from Ten Small-Scale Studies” Insight Turkey; Ankara Vol. 23, Iss. 2, 2021, hlm.107-127.

[33] Alfredo Alietti and Dario Padovan, “Religious Racism. Islamophobia and Antisemitism in Italian Society”, Journal of Religions, Vol.4, 2013, hlm.584-602.

[34]  Etin Anwar, et.al., “The Dialectics of Islamophobia and Radicalism in Indonesia”, Journal of ASIA Network Exchange, Vol. XVI, No. 2, Spring 2009, hlm.53-64.

[35] Noorhaidi Hasan, Laskar Jihad: Islam, Militancy, and the Quest for Identity in Post-New Order Indonesia, Ithaca, N.Y.: Southeast Asia Program Publications, Southeast Asia Program, Cornell University, 2006, hlm. 20

[36]  Etin Anwar, et.al., Op.Cit.