Benarkah Nabi Muhammad Saw Buta Huruf?

28 Aug 2011
4474 times
Illustrasi: zianazaimie.blogspot.com Illustrasi: zianazaimie.blogspot.com

Setelah mencoba membantah sejarah tanggal Kemerdekaan RI yang ternyata tidak bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan, sekarang saya mencoba meluaskan bahasan lebih jauh lagi, yaitu ke sejarah Islam yang banyak diajarkan di sekolah-sekolah tentang apakah Nabi Muhammad Saw buta huruf ataukah tidak. Bahasan ini tidak bersifat tendensius, hanya mengajak berpikir.

Sejarah Islam sudah berumur 14 abad lebih, dengannya sangat wajar banyak distorsi di mana-mana, atau menjadi bola salju yang terus bertambah dan bertambah sehingga diyakini sebagai fakta sejarah dan diyakini sebagai suatu kebenaran. Padahal belum tentu.  Salah satunya adalah doktrin mengenai: Nabi adalah Ummiy (buta huruf, tidak bisa baca-tulis). Doktrin ini diyakini oleh mayoritas umat Islam. bahwa Nabi Muhammad seorang ummiy, kata “Ummiy” diartikan dengan “buta huruf”. Ini diambil dari bunyi Ayat QS Surah al-A’raf (7: 57) disebutkan: ” (Yaitu) orang-orang mengikuti Rasul Nabi yang Ummiy…”. Benarkah maksud ayat ini bahwa Nabi buta huruf?

Karena masih dekat dengan momen Nuzulul Qur’an (tanggal 17 Ramadhan, meskipun untuk peristiwa turunnya al-Qur’an pun ada juga yang mengatakan tanggal 21 Ramadhan, tapi untuk ini kita lewati dulu karena sudah banyak yang bahas), kita akan lihat bukti-bukti lain yang membantah hal tersebut:

Ayat pertama yang turun adalah QS al-’Alaq atau biasa juga disebut dengan surat Iqra. Diawali dengan kata iqra (bacalah), “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang mencipta. Allah SWT telah menciptakan manusia dari segumpal darah” (QS. Al-‘Alaq: 1-2). Ayat selanjutnya  adalah: “Dialah yang telah mengajarkan dengan Qalam. Mengajarkan manusia dari apa yang belum diketahui.” (QS. Al-‘Alaq: 4-5).

Dari ayat-ayat tersebut, kata kunci pertama al-Qur’an adalah Ilmu Pengetahuan: membaca adalah jendela ilmu, membuka kesadaran terhadap pentingnya ilmu.  Ayat-ayat selanjutnya menerangkan tentang proses penciptaan manusia. Menulis (qalam) menjadi kata kunci utama. Al-Qur’an dengannya mengatakan bahwa kewajiban pertama umat Islam haruslah pintar, harus menguasai ilmu pengetahuan. Harus membaca dan menulis. Dengannya, para ahli sejarah berbeda pendapat mengenai benar atau tidaknya Nabi SAW buta huruf. Sebagian penafsir yakin bahwa Nabi tidak buta huruf; tetapi beliau bisa membaca dan menulis. Alasannya sangat mustahil Allah SWT sendiri mengajarkan pada wahyu pertama untuk membaca dan menulis sementara Nabi sendiri tidak bisa baca-tulis.

Lantas apa makna kata Ummiy? Mari kita lihat konteks ayatnya: “(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-A’raf: 157)

Mari kita baca secara seksama. Apakah nyambung tidak konteksnya jika Nabi yang buta huruf disandingkan dengan kalimat-kalimat setelahnya yang menyebutkan berbagai aktivitas kenabian: menyeru kepada yang baik, melarang kemunkaran, menghalalkan segala yang baik, dan mengharamkan yang menjadi belenggu manusia? Tidak nyambung sama sekali. Saya lebih condong kepada penafsir yang mengatakan arti kata ummiy bukan artinya “buta huruf”, tetapi mengandung arti pengasuh, pengayom umatnya layaknya seorang ibu yang menjaga anaknya (Lihat Tafsir Mizan pada saat menafsirkan ayat tersebut).

Alasan lain pihak yang meyakini bahwa Nabi buta huruf--katanya--sebagai bukti bahwa al-Qur’an bukan karangan nabi tetapi murni dari Allah Swt. Kalau Nabi bisa membaca dan menulis besar kemungkinan kitab suci umat Islam hasil karangan Nabi. Alasan ini seakan logis. Tapi mari kita lihat. Semua Nabi termasuk nabi Muhammad di saat mengemban status Nabi diberikan status ma’shum (terjaga dari salah dan dosa). Jika tidak diberikan status “keterjagaan dari salah dan dosa”, dari mana kita tahu dan yakin bahwa apa yang diucapkan atau dilakukan oleh Nabi datang dari Tuhan? Dengannya tanpa status itu kita tidak bisa mempercayai seluruh pesan Nabi, karena bisa saja salah, bisa saja hanya pendapat pribadi. Untungnya Tuhan memberikan status ma’shum kepada setiap Nabi. Artinya seluruh perkataan dan perbuatan para Nabi murni dari titah Tuhan.

Lantas, jika status ma’shum (terjaga dari salah dan dosa) adalah pasti pada setiap Nabi, maka apakah kita akan meragukan perkataan dan perbuatan Nabi? Kalaupun misalnya al-Qur’an adalah murni perkataan Nabi, kan sudah ada fasilitas ma’shum, yang artinya pasti semuanya dari Allah SWT. Ini didukung oleh bukti sejarah, bahwa al-Qur’an baru dibukukan setelah Nabi wafat dari para penghafal al-Qur’an. Karena pada masa hidup Nabi, al-Qur’an sejati adalah Nabi.

Bukti lain adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas, di saat Nabi Saw menjelang tutup usia, Nabi meminta "Bawakan aku pena dan kertas. Saya akan menuliskan wasiat untuk kalian. Kalian tidak akan tersesat selamanya setelah itu.." (HR. Bukhori dan Muslim).

Apa makna tersembunyi dari hadits ini? Itu bukti bahwa Nabi bisa menulis, karena Nabi sendiri meminta pena dan kertas dan akan menuliskan wasiatnya langsung dengan tangannya sendiri. Tetapi kemudian para sahabat berselisih pendapat. Terlepas dari itu, bukti bahwa Nabi bisa menulis adalah sangat kuat.**[harja saputra]
 

Komentar

Silahkan berkomentar melalui kolom di bawah ini.

Blog dengan aneka topik, tulisan Harja Saputra. Menulis apa saja. Berbagi untuk Anda