Connect with us

Filsafat

Sosialisme versus Kapitalisme

Published

on

Illustrasi: photobucket.com

Diskusi di BBM Group Tenaga Ahli Komisi 6 lintas Fraksi, 17 Mei 2011 adalah mengenai kapitalisme versus sosialisme. Diskusi diawali oleh posting dari MG yang mengutip kisah berunsur lelucon mengenai arti politik:

“Apa sih ‘Politik’ itu? ‎Seorang anak kecil bertanya pada ayahnya, “Ayah, dapatkah ayah jelaskan apakah politik itu?”

Ayah berkata, “Nak, aku akan menjelaskan seperti ini: Aku adalah pencari nafkah bagi keluarga, jadi sebutlah aku ‘Kapitalisme’. Ibumu, dia adalah pengatur keuangan, sehingga kita sebut dia ‘Pemerintah’. Kami di sini untuk memenuhi kebutuhanmu sehingga kau kita sebut ‘Rakyat’. Bibi pembantu kita anggap sebagai ‘Buruh’. Sekarang adikmu yang masih bayi, kita sebut dia ‘Masa Depan’. Sekarang pikirkanlah hal ini dan pertimbangkanlah apakah ini masuk akal bagimu.

Anak tersebut masuk ke kamarnya dan memikirkan apa yang baru saja dikatakan ayahnya. Tengah malam, dia mendengar adiknya menangis, lalu dia bangun dan memeriksanya, dan dia menemukan adiknya basah kuyup dan kotor karena adiknya pipis dan buang air besar. Anak itu lantas pergi ke kamar orang tuanya dan, melihat ibunya sedang tidur nyenyak dan mendengkur. Dia tak ingin membangunkan ibunya, karenanya, ia pergi ke kamar pembantu. Pintunya terkunci, dan dia mengintip dari lubang kunci dan melihat ayahnya sedang bercinta dengan si pembantu.

Dia menyerah dan kembali ke kamarnya. Pagi berikutnya, anak kecil itu berkata pada ayahnya, “Kurasa sekarang aku mengerti apa itu politik.”
Ayah menjawab, “Bagus Nak, ceritakan padaku pendapatmu tentang politik.”.

Si anak segera menjawab, “Ketika Kapitalisme sedang memanfaatkan Buruh, Pemerintah tidur, Rakyat terabaikan dan Masa depan berada dalam kesulitan besar”.

BP berkomentar: “Itu negara hancur”.

MG: “Jadi bang BP udah paham kelakuan kapitalisme kan? Masih mau didukung juga?”

ST: “Memang pemerintahan sekarang tidak kapitalis?”

BP: “Keluarga saya keluarga sakinah tidak seperti itu. Bapak menafkahi keluarga, ibu menjaga keluarga, anak hidup bahagia, pembantu membantu keluarga.

MG: “Bagaimanapun juga penerapan liberalisme sangat menguntungkan para pemilik kapital”.

BP: “Bill Gates tadinya juga mahasiswa miskin yang DO, bukan dari lahir pemilik kapital. Omongan seperti itu adalah omongan manusia yang malas bersaing dan maunya hidup enak tanpa berusaha keras. Seperti tuan-tuan tanah di Jakarta akhirnya tersingkir karena tanahnya habis terjual dan tidak mampu bersaing. Contoh lagi: Kiichiro Toyoda (pendiri Toyota Motor Corporation) dilahirkan di dalam gubuk reyot karena ayahnya hanyalah tukang kayu miskin yang tergila-gila dengan ilmu pengetahuan.”

MG:  “Kalau keluarga sakinah itu pasti sedikit banyak mengadopsi sosialisme. Di mana dalam keluarga itu ada saling tolong menolong. Kakaknya yang lebih kuat membantu adiknya yang lebih lemah”.

BP: “Keluarga sakinah itu adalah keluarga yang mengerti, menghayati, dan menjalankan peranannya masing-masing dalam keluarga.

BP: “Bapak (kapitalisme) mencari nafkah dan menyetorkannya (pajak) ke ibu (pemerintah). Ibu menjaga Bapak supaya tidak keluar jalur (UU). Ibu juga memperlakukan Bapak dan anak-anaknya dengan adil dan konsekuen (UU dan Kepastian Hukum).  Anak-anak  yang berprestasi diberi reward, sedangkan anak-anak yang malas atau nakal dihukum. Siapapun boleh protes apabila merasa diperlakukan tidak adil dalam pertemuan keluarga (pengadilan). Itu sangat liberalis dan kapitalis (kebebasan berpendapat dan persaingan sesama anak untuk memperoleh yg terbaik).

MG: “Apakah dalam keluarga sakinah si kakak yang kuat misalnya tidak membantu adiknya yang lemah? Apakah orang cerdas seperti Bill Gates tidak bisa lahir di negara yang menganut/mengadopsi sosialisme. Lihat kemajuan teknologi cina saat ini.”

BP:  “Itulah gunanya CSR. Bill Gates sangat aware dengan hal tersebut. Cina pun sudah kapitalis di perkotaannya.”

ST: “Rame bener pagi-pagi”.

MG: Di keluarga yang menganut/mengadopsi sosialisme, keberhasilan memberdayakan si adik yg lemah merupakan tanggung jawab semua anggota keluarga”.

BP:  “MG, mending langganan koran kontan, bisa dilihat bahwa sebagian besar orang-orang terkaya di dunia berasal dari kaum proletar. Memberdayakan itu berarti menyediakan pancing, yang disebut dengan pendidikan dan perhatian. Pemerintah kapitalis menjamin pendidikan dan kesejahteraan rakyatnya seperti tunjangan untuk orang miskin yang ada di US.”

HS: “Kapitalisme adalah liberalisme ekonomi. Iran saja yang awalnya proteksionisme, subsidi besar-besaran di seluruh lini, kini menyadari bahwa liberalisme adalah suatu keharusan, Ahmadinejad perlahan-lahan meliberalkan ekonomi Iran, subsidi ditarik. Meskipun banyak yang menentangnya tetapi memang harus seperti itu.

Sosialisme dalam arti ideologi adalah gerakan kaum proletar melawan kaum borjuis yang menguasai sektor-sektor ekonomi tanpa keadilan. Proletar menuntut untuk disamakan. Sangat populis memang. Tetapi sosialisme tidak bisa menjawab pertanyan mengenai perbedaan kemampuan antara manusia. Bagaimana jika seseorang berusaha keras apakah ia harus disamakan dengan yang tidak? Sosialisme sudah berada di ujung senja. Soviet kurang bagaimana sosialis, tetapi terbenam juga.”

MG: “Dalam sosialisme adalah bukan sama rasa sama rata. Dalam negara sosialisme regulasi dibuat substansinya untuk melindungi si lemah. Soviet itu komunis bukan sosialis.”

HS: “Apa bedanya sosialisme dan komunisme? Jangan-jangan sosialisme yang Anda pahami berbeda dengan istilah baku di dunia keilmuan”.

MG: “Ini saya kasih contoh: misalnya ada lomba bagaimana secepat mungkin sampai di tujuan. Dengan garis start dan finish yang sama. Dalam liberalisme, pengguna sepeda (pemilik modal) dan yang tidak punya sepeda diberi kesempatan yang sama, yaitu sama-sama beranjak dari garis start dan finish yang sama. Dengan konsep ini bisa dipastikan yang menang adalah yang punya sepeda (pemilik modal). Namun dalam sosialisme, kalau ada keadaan seperti ini, maka yang tidak punya sepeda harus dibantu dengan diberi atau dipinjami sepeda. Agar mereka punya peluang yang sama dengan orang yang memiliki sepeda”.

HS: “Itu bukan sosialisme, melainkan keynesian (intervensionis), berbeda jauh. Dari contoh di atas, sosialisme justru memiliki faham yang punya sepeda harus sama dengan yang tidak punya. Sosialisme standarnya bukan yang tidak punya disamakan jadi punya, justru dari yang punya direduksi. Makanya sosialisme didefinisikan dengan kesamaan dalam produksi dan distribusi. Misal X berpenghasilan 1000 dan Y nothing, maka sosialis akan membuat yang atas menjadi turun. Equal X 500 Y 500, bukan Y diberi 1000.

Contoh di atas, orang yang tidak punya sepeda dijadikan agar sama mempunyai sepeda, memang harus seperti itu. Itulah fungsi negara, dan itulah yang diterapkan sekarang oleh pemerintah. Ada KUR, LPDB, dsb agar mereka punya sepeda jadi bisa start tidak tertinggal jauh. Ini tidak perlu faham sosialisme. Tapi kalau orang yang punya motor ya silahkan, masa mau disuruh pakai sepeda, yang punya mobil juga silahkan masa harus disuruh pake sepeda juga. jadi proporsionalisme. Jelas nanti finishnya juga beda. Minimal yang tadinya jalan bisa kencang dikit dengan adanya bantuan sepeda. Tetapi untuk disamakan jelas tidak bisa. Inilah inti dari negara demokrasi.”

ST: Bang HS cerdas…Yang jelas proporsional.

HS: Kan bang ST, BP, MG, dsb guru2 saya.**[harja saputra]

Komentar

Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: [email protected]