Connect with us

Gerakan Nasional Matikan Ponsel Berawal Dari Sini

Komunikasi

Gerakan Nasional Matikan Ponsel Berawal Dari Sini

CRI

Menulis di blog bisa menjadi isu nasional, bahkan mendunia. Bukan bermaksud mau pamer atau menyombongkan diri. Saya di sini tidak akan berteori, langsung memaparkan kenyataan beserta data-datanya. Ini dimaksudkan bahwa seorang Blogger, tak memandang di mana tempatnya ngeblog, bisa berbuat yang nyata. Menulis bukan semata-mata aktivitas menuliskan kata-kata. Ada misi yang diemban, yaitu berusaha memberikan solusi nyata atas masalah di sekitar kita. Menulis dengan menggerutu atau memaparkan apa adanya itu masih murni menjadi jurnalist, akan tetapi seorang penulis sejati bukan semata-mata pewarta atau kuli tinta. Ia harus mempunyai misi. Tulisan yang mewartakan memang istimewa, tetapi hanya akan mampu bertahan 1 hari paling banter 1 minggu. Karena warta atau berita apalagi yang sifatnya hard news akan tergantikan dengan peristiwa lain. Setelah itu ditinggalkan bahkan dicampakkan dalam seonggok kertas yang dijadikan bungkusan gorengan. Beda lagi jika tulisan memiliki misi perubahan, ia akan dikenang, bukan hanya sebatas tulisan. Tulisan hanya media dalam menyampaikan misi perubahan.

Tulisan penulis mengenai kekecewaan atas kinerja para pihak dalam menyelesaikan masalah “Pencurian Pulsa” bukan kajian teoritis yang panjang atau berbusa-busa. Tulisannya sangat pendek tetapi memicu gerakan yang nasional (Gerakan Matikan HP selama 2 jam). Setelah beredar luas tulisan itu di berbagai media seperti Blackberry Messenger, di forum-forum, media mainstream, dan banyak lagi, barulah penulis membuat rilis penjelasan yang isinya agak panjang yang menjelaskan poin-poin yang dituliskan sebelumnya.

Kedua tulisan itu kini dapat ditelusuri di ratusan media sebagai arsipnya, dan gerakannya diikuti oleh jutaan orang (data berapa orang yang mematikan tidak akan saya buka ke publik karena data perusahaan). Berikut ini adalah aliran tulisan tentang Gerakan Matikan HP yang dikutip menjadi berita di berbagai media, bahkan dibincangkan di banyak forum:

Sesungguhnya masih banyak ratusan link-link dari blog-blog dan terutama pesan melalui BBM dan SMS yang tidak dicantumkan. Penulis sudah menghitung berapa juta orang yang terkena informasi mengenai Gerakan Matikan HP ini. Bukan asal nebak begitu saja.

Adakah cara bagaimana mengukur respon dari pembaca untuk mengetahui berapa banyak yang ikut beraksi atas ajakan kita? Ada. Namanya CRI (Customer Respons Index), yaitu sebuah metode untuk mengukur bagaimana respons dari khlayak yang terkena informasi dan ujungnya melakukan tindakan atas apa yang kita serukan, terutama lewat tulisan atau pesan melalui media lain (radio, tv, dan sebagainya). Ini caranya:

Respon konsumen atau khalayak terhadap suatu pesan dapat dianalisis dengan model CRI dari Roger J. Best (2004). Ini contohnya (perhitungan asli dari Gerakan Matikan HP tidak akan saya publikasikan. Contoh ini diambil untuk sampel 100 orang):

CRI           = % that exposed x % that aware x % that comprehend x % that intention x % that action

CRI           = 74.8% x 78.3% x 70.7% x 65.2% x 85.9%

CRI           = 23.19%

Untuk rincian CRI pada setiap tahap dapat menggunakan bantuan marketing performance tool dari buku online karya Roger J. Best, Market-Based  Management, Chapter 10, yang dapat diakses di: http://www.rogerjbest.com/mbm4/nav.cfm?A=N&C=10&P=0. Pada website ini sudah ada tools yang dapat menghitung otomatis CRI beserta gambarnya, hanya tinggal memasukkan persentase masing-masing tahap di atas, akan keluar CRI dan gambarnya sekaligus. Gambar di atas adalah output perhitungan CRI tersebut.

Dari tingkat CRI di atas diperoleh hasil bahwa indeks respon yang terekspos (exposed) oleh pesan, sadar (aware), memahami (comprehend), memiliki hasrat atau niat untuk melakukan tindakan (intend), dan melakukan tindakan (action) sesuai dengan maksud dari pesan dari 100 orang diperoleh CRI sebesar 23.19%, sisanya tidak melakukan tindakan.

Inilah apa yang penulis namakan sebagai “Gerakan melalui Tulisan”. Blog bisa menjadi pemicu gerakan. Gerakan massa tidak harus membuat kegaduhan di ruang-ruang publik. Ia bisa dilakukan secara sunyi namun pasti. Social media yang berkembang pesat saat ini bisa dijadikan media yang tepat dalam menggalang opini publik bahkan mengerakkan massa. Massa tidak perlu dibawa fisiknya ke satu tempat. Mereka tetap bisa beraktivitas normal tetapi aktif dalam suatu gerakan massa. Inilah model gerakan baru yang harus dikembangkan. Jangan ada lagi pengerahan kekuatan massa secara fisik untuk satu kepentingan tertentu. Manfaatkan social media, karena dampaknya akan sama. Pun, secara etika lebih elegan dan bermartabat.**[harja saputra]

Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: [email protected]

KOMENTAR

To Top