Ada satu ungkapan yang saya dengar bahwa "berwisata bukan semata masalah healing atau jalan-jalan, tetapi ia berfungsi sebagai pemenuhan aspek spiritual manusia". Semakin tinggi kebutuhan manusia, bukan lagi kebutuhan biologis yang dicari, tetapi kebutuhannya akan semakin abstrak, salah satunya berwisata.
Wisata adalah seni menghabiskan uang untuk mencari kebutuhan abstrak. Apa itu? Yaitu Leisure. Leisure singkatnya kondisi di mana seseorang bebas dari kewajiban pekerjaan, tugas domestik, dan kebutuhan dasar. Sejenak melupakan penatnya kehidupan, susahnya mencari nafkah, permasalahan rutinitas, dan sejenisnya.
Namun, secara filosofis dan sosiologis, leisure memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar "tidak melakukan apa-apa." Leisure kadang dipandang sebagai kegiatan yang dilakukan demi kepuasan pribadi, bukan karena paksaan. Aktivitas ini sering kali bermakna rekreasi.


Leisure juga dapat bermakna keadaan pikiran (state of mind). Ini adalah level tertinggi dari leisure yang berkaitan erat dengan "pemenuhan spiritual". Di sini, leisure adalah kondisi batin yang tenang, di mana seseorang merasa bebas, rileks, dan mampu merenungkan makna hidup. Tidak ada tekanan waktu, tidak ada target yang harus dicapai, dan benar-benar menikmati momen saat ini (living in the moment).
Itu bahasan seriusnya. Lantas apa konteksnya saya membahas hal itu? Tidak ada. Hanya sebagai bridging untuk menceritakan pengalaman saya dan bang Tomi ke Praha.
"Saya teringat perkataan Muhammad Abduh (seorang tokoh pembaru Islam, mufti, dan cendekiawan asal Mesir), bahwa: "Aku pergi ke Barat dan melihat Islam, tetapi tidak melihat Muslim. Aku kembali ke Timur dan melihat Muslim, tetapi tidak melihat Islam," ungkap bang Tomi.
"Maak..berat kali bahasan abang ini. Ini kita sedang di Praha bang. Ceko ini. Apa maksudnya itu?"
"Bukan, di sini saya melihat kehidupannya tertib, rapi, bersih, orangnya juga santun. Suka menolong sesama tanpa diminta", tambah bang Tomi.
"Cocok itu bang. Di Eropa ya begitu. Banyak hal positif yang kita bisa pelajari", saya coba mengikuti alur pembicaraannya.





Galeri jalan-jalan untuk menemukan makna. Ketemu tidak sama maknanya? Embuuuh..😆
Bang Tomi adalah senior saya, sama-sama bekerja untuk masalah rutinitas yang bersifat administratif. Tapi beliau adalah juga ustadz, sering mengisi ceramah atau khutbah jumat. Dibesarkan dan aktif di lingkungan Muhammadiyah. Pemikirannya "Islam berkemajuan" kalau istilah organisasinya.
Konteks itulah yang memperkuat bahwa dalam setiap perjalanan wisata selalu ada makna yang bisa kita temukan. Bukan hanya tentang masalah jalan-jalan, makan minum, lihat sana lihat sini, tetapi ada pemaknaan yang boleh jadi berbeda antara setiap orang.
Hidup adalah masalah memaknai sesuatu.
"Realitas yang sejati bukan ada di luar, tetapi yang ada dalam pikiran kita. Gelas yang sejati bukan gelas yang ada di luar, tetapi ide gelas yang ada di pikiran. Gelas di luar bisa pecah, tetapi gelas dalam pikiran tidak akan bisa pecah".
Sudah, yang penting kita berwisata mumpung selagi sempat, biar kita bisa memaknai, terserah mau dimaknai apa, atau makna apa yang akan kita dapatkan, nanti kita renungkan bersama.
"Cocok bang Tomi?", tanya saya.
"Ayolah, ke mana kita", jawab bang Tomi.
Ya kelilinglah kita di Praha ini. Melihat-lihat apa yang bisa dilihat. Walhasil, kelilinglah kita ke Kota Tua Praha, ke Charles Bridge, ke kastil tua, melihat-lihat suasana kota Praha, dan tidak lupa beli oleh-oleh.









Galeri jalan-jalan tipis-tipis di Praha
Demikian cerita wisata di Praha, belum tentu kita bisa ke sana lagi ya kan bang Tomi? So, nikmati dan maknai.*
Video wisata di Praha.
Infografis:
