Senin (21/9/2026) lalu, Komisi VII DPR RI menggelar Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama tiga pilar utama industri kendaraan listrik: PERIKLINDO, AISMOLI, dan AEML. Di atas kertas, forum ini dirancang sebagai ajang adu gagasan dan bedah data untuk memetakan tantangan serta merumuskan regulasi ekosistem kendaraan listrik nasional.
Sayangnya, diskusi yang seharusnya berbobot ini justru diwarnai blunder ketika sebuah klaim statistik keselamatan yang ternyata keliru ikut disampaikan dalam forum tersebut.
Apa klaim statistik keselematan penggunaan mobil listrik yang ternyata keliru? Silakan disimak pernyataan lengkap penyampaian dari wakil Asosiasi PERIKLINDO, sebagaimana dipublikasikan live pada kanal Youtube TV Parlemen di bawah ini, khususnya di menit 01:55:09 sampai dengan 01:58:23:
Momen menarik terjadi ketika perwakilan asosiasi mulai mengutip angka perbandingan rasio keselamatan kendaraan [01:55:09]. Mengatasnamakan National Transportation Safety Board (NTSB) AS, ia mengklaim kalau dari 100.000 unit kendaraan yang ada, mobil hybrid menyumbang 3.474 kasus kebakaran dan mobil bensin sebanyak 1.529 kasus. Yang bikin takjub, mobil listrik murni disebut-sebut hanya mencatat 25,1 kasus saja [01:55:52].
Lewat pemaparan data ini, narasi yang ingin dibangun sangat kentara: mobil listrik adalah pilihan yang jauh lebih tangguh dan aman ketimbang mobil konvensional. Kalau cuma dilihat sekilas, rentetan angka fantastis ini jelas jadi bahan kampanye yang sangat seksi untuk jualan kendaraan listrik. Masalahnya, data tersebut cacat.
Benarkah Data Tersebut?
Kita selaku masyarakat awam pada saat mendengar pemaparan tersebut awalnya merasa 'tercerahkan'.
Gumam saya dalam hati: "Oh ternyata mobil hybrid lebih berbahaya daripada mobil bensin dan mobil listrik murni, karena ternyata lebih banyak mengalami kebakaran. Niat awal nanti kalau punya uang mau ganti mobil hybrid jadi takut juga".
Merasa penasaran dengan data tersebut, saya lakukan riset ke berbagai sumber. Faktanya, NTSB telah membantah memiliki atau merilis database kebakaran mobil yang dipilah berdasarkan jenis bahan bakar.
"There is no NTSB database that tracks highway vehicle fires. We do not know what data AutoInsuranceEZ used for its research, but it did not come from an NTSB database." (Sumber: CarandDriver).
Lalu dari mana asal muasal angka itu? Usut punya usut, statistik ini dicomot dari rilis tahun 2021 milik situs agregator asuransi bernama AutoInsuranceEZ, sebagaimana divisualisasikan berikut:

Metodologi situs ini sangat serampangan. Mereka mencampuradukkan angka kecelakaan fatal dari lembaga lain, lalu membaginya dengan data penjualan mobil baru di tahun tertentu—bukan dengan total keseluruhan populasi mobil yang beroperasi di jalan. Mengutip data sekelas clickbait asuransi untuk merumuskan kebijakan industri nasional jelas menunjukkan adanya celah dalam verifikasi informasi.
Informasi ini sempat viral pada tahun 2021 dan 2022 dan banyak yang membahas mengenai validitas datanya. Lalu pada tahun 2024, situs AutoInsuranceEZ melakukan update artikel dengan menambah beberapa keterangan di akhir artikel:
".....Our researchers discovered that, despite the media’s emphasis on EV fires, electric vehicles are not inherently more dangerous than gas or hybrid cars. However, fires in electric vehicles are generally more challenging to extinguish compared to those in gas-powered vehicles. This finding highlights the importance of reviewing Electric Auto Insurance options for adequate coverage."
Ujungnya jualan: "....meninjau opsi Asuransi Mobil Listrik untuk mendapatkan perlindungan yang memadai".
Analis otomotif dari Car and Driver turut membongkar kejanggalan angka tersebut lewat logika matematis yang sederhana. Menurut mereka, jika rasio kebakaran mobil bensin benar-benar menyentuh 1.529 per 100.000 unit, maka Amerika Serikat akan menghadapi jutaan insiden mobil terbakar setiap tahunnya.
Namun, fakta di lapangan berbicara lain. Berdasarkan catatan National Fire Protection Association (NFPA), dari total 270 juta kendaraan yang mengaspal di AS, rata-rata hanya terjadi sekitar 170.000 kasus kebakaran per tahun. Artinya, rasio kejadian yang sebenarnya jauh lebih rendah, yakni hanya berkisar di angka 0,04 persen.
Bukan Soal Frekuensi, tapi Intensitas
Para pelaku industri sebenarnya tidak perlu bersandar pada data fiktif untuk membela EV. Kalau mau menggunakan data empiris dari negara dengan ekosistem EV yang matang seperti wilayah Skandinavia, memang benar bahwa secara frekuensi harian, mobil berbahan bakar minyak masih lebih sering terbakar.
Namun, saat duduk di meja perumusan regulasi, cara pandangnya harus diubah. Fokus diskusinya bukan lagi pada "mana yang lebih sering terbakar", melainkan "seberapa mematikan dampaknya jika terbakar dan bagaimana cara memadamkannya". Tantangan utamanya adalah memastikan kesiapan infrastruktur saat skenario terburuk itu terjadi.
Sudah betul asosiasi PERIKLINDO pada RDPU di Komisi VII DPR RI mengusulkan bahwa perlu pengaturan yang bersifat mandatory mengenai penerapan SNI untuk alat pemadam kebakaran baterai, yang saat ini belum diatur. Di sini penekanannya, bukan pada data yang dikutip namun salah.
Regulasi tidak boleh hanya fokus pada unit kendaraannya. Perlu segera penerapan SNI Wajib untuk kualitas mesin pengisi daya (charger), SNI alat pemadam kebakaran kendaraan listrik, hingga sistem kelistrikan di SPKLU, dan SOP mengenai pengangkutan kendaraan listrik di kapal laut.
Terakhir, penting untuk digarisbawahi, bahwa transisi menuju era kendaraan listrik adalah keharusan demi kemandirian energi dan lingkungan. Namun, transisi itu harus dibangun di atas hitung-hitungan risiko yang jujur dan matang, bukan sekadar polesan statistik palsu.*
