Categories: Filsafat

Meniru Cinta Tuhan

foto: yesmaya.blogspot.com

Meniru Tuhan atau sedikitnya merasakan bagaimana Tuhan bertindak adalah mudah. Itu kita bisa telusuri dari kata cinta. Ada ungkapan yang sering dikemukakan dalam budaya Muslim ketika seseorang melakukan pernikahan. Yaitu ungkapan “sakinah, mawaddah wa rahmah“.

Sakinah berasal dari kata sakana yang berarti diam. Sukun adalah kata bendanya. Sakinah dapat dimaknai dengan berhentinya pencarian cinta seseorang karena sudah mendapatkan pasangan yang tepat.

Ibarat kapal yang menjatuhkan jangkarnya ketika merapat di pelabuhan setelah sekian lama mengarungi luasnya lautan. Dengan jangkar di dasar lautan berarti tandanya berhenti. Begitu juga dengan manusia.

Seseorang yang menikah berarti telah menemukan pasangan yang tepat. Tetapi bisa sakinah bisa juga tidak. Jika dia diam dan tidak lagi mencari-cari pasangan selain yang sudah ia nikahi berarti dia sakinah karena pencarian cintanya sudah berakhir.

Ia sudah menambatkan seluruh perhatian dan cintanya pada wanita/pria yang menjadi pilihan. Tetapi jika sudah menikah tetapi masih mencari-cari cinta dari yang lain lagi berarti belum sakinah, karena masih mencari cinta. Jangkar cintanya belum dilempar ke dasar lautan hati yang dicintainya. Maka sakinah diartikan juga dengan ketenteraman.

Orang yang sudah menikah dan berhenti pencarian cintanya maka rumah tangganya akan tenteram. Tidak seperti yang suka selingkuh meskipun di rumah sudah ada cinta. Niscaya rumah tangganya akan seperti kapal pecah. Tidak ada ketentraman. Tidak sakinah.

Ketika sudah ada sakinah maka akan ada mawaddah. Mawaddah adalah “cinta dua arah”. Suami mencintai isterinya dan sebaliknya isteri mencintai suaminya. Jika salah satu dari suami-isteri sudah tidak cinta maka akan terjadi perceraian. Karenacinta mawaddah adalah cinta yang menuntut arah timbal-balik. Karena manusia pada dasarnya ingin mencintai dan dicintai.

Ketika sudah merasa tidak dicintai maka pudarlah cinta dan berganti dengan benci. Bahkan tidak jarang terjadi, awalnya suami dan isteri tetapi berubah menjadi musuh. Jika hal ini terjadi maka genderang perang pun dimulai.

Dalam setiap budaya, cinta “mawaddah” ini dilambangkan dengan budaya pemasangan cincin di jari manis suami isteri.

Pertanyaannya kenapa di jari manis dan tidak di jari yang lain? Untuk mengetahuinya coba praktekkan gerakan tangan berikut.

Pertemukan kelima jari tangan kanan dan kiri dengan kedua jari tengah dirapatkan dan dicondongkan ke bawah (seperti terlihat pada gambar di atas). Sekarang buka kedua jari kelingking, maka jari tengah akan tetap rapat.

Sekarang buka kedua jari telunjuk, jari tengah pun akan tetap rapat. Begitu juga jika kedua jari jempol dibuka, jari tengah pun akan tetap rapat. Tetapi apa yang terjadi jika kedua jari manis dibuka? Maka jari tengah tidak lagi rapat, akan menganga terbuka.

Hal ini menunjukkan jika cincin di jari manis sudah dibuka maka cinta pun akan bubar. Cincin di jari manis adalah tanda cinta dua arah, cinta mawaddah.

Ketika sudah ada mawaddah maka berdoalah untuk mendapatkan cinta tingkat tinggi, yaitu cinta jenis rahmah. Cinta jenis ini adalah cinta sejati. Yaitu cinta yang hanya bersifat satu arah.

Kapan seseorang bisa merasakan cinta satu arah? Yaitu ketika dia sudah mempunyai anak. Cinta orang tua kepada anak adalah cinta satu arah.

Tidak peduli anaknya akan membalas cintanya ataukah tidak. Cinta jenis ini hanya menuntut untuk terus memberi tanpa harapan untuk menerima. Orang tua hanya ingin terus memberi kepada anaknya tanpa keinginan untuk menerima. Dan orang tua tidak peduli apakah anaknya cinta juga ataukah tidak. Meskipun seberapa nakalnya anak tetapi orang tua tetap cinta.

Cinta jenis rahmah inilah cinta-Nya Tuhan. Tuhan memiliki sifat Rahman dan Rahim, satu padanan kata dari Rahmah. Tuhan mencintai makhluk hanya satu arah.

Tuhan tidak peduli manusia itu jahat atau tidak, Dia tetap memberi rezeki dan hidup kepada manusia tersebut. Apakah Tuhan mampu membinasakan semua makhluknya yang jahat? Jelas mampu, karena kalau tidak mampu maka berarti bukan Tuhan. Tetapi cinta Tuhan jauh lebih besar dari murka-Nya. Tuhan terus memberi kepada makhluk tanpa ada harapan untuk menerima. Ibadah dan penghambaan dari manusia bukan berarti Tuhan butuh tetapi karena manusialah yang butuh kedamaian.

Maka, ketika orang tua mencintai anaknya maka berarti ia telah menjadi tuhan kecil di dunia. Ia telah merasakan bagaimana cinta Tuhan, yaitu cinta jenis Rahmah. Cinta jenis inilah yang dimaksud oleh Plato dengan istilah “Cinta Agape”, sama artinya dengan cinta satu arah. Hanya memberi tak mengharap kembali.

Maka, jadilah “tuhan” di dunia dengan jadi orang tua yang baik. Niscaya manusia akan bertemu dengan Tuhan yang sesungguhnya di alam kekal nanti.** [harja saputra]

Tulisan ini semula dimuat di Kompasiana: http://filsafat.kompasiana.com/2011/05/27/kiat-meniru-tuhan/

Harja Saputra

Blogger | Serverholic | Empat Anak | Satu Istri | Kontak: me@harjasaputra.com