Connect with us

Pengakuan Seorang “Atheis”

Filsafat

Pengakuan Seorang “Atheis”

Sumber: filsafat.kompasiana.com

Hari ini 30 September, diperingati hari Gerakan 30 September (G30S). Kata kunci hari ini adalah PKI, sebuah gerakan politik dari kaum komunis.

Komunis sebagai gerakan politik dari arus kelompok sosialis perlu dibedakan dengan pemikiran sosialisme itu sendiri. Meskipun terkadang diidentikkan tetapi sesungguhnya berbeda.

Saya sendiri adalah seorang “atheis”, tetapi bukan dalam arti ikut atau mendukung gerakan komunis yang telah membantai nyawa manusia dengan sangat kejam.

Atheis dalam pengertian saya adalah “orang yang tidak ber-tuhan” (tuhan dengan “t” kecil”). Apa itu? Seperti yang sering saya tulis, Tuhan jika dipersepsi oleh nalar manusia maka ia bukan Tuhan (T besar), tetapi tuhan (t kecil), yaitu tuhan persepsional. Terserah manusia saja, ada yang meng-ada-kan tuhan, ada juga yang meniadakan tuhan. Tetapi sesungguhnya Tuhan tidak pernah bisa dipersepsi. Ia beyond existent, beyond perception.

Saya seorang atheis, atau lebih tepatnya, agnostis. Meniadakan tuhan persepsi. Setiap manusia bisa berbeda-beda mempersepsi tentang tuhan. 

Seringkali tindak kejahatan besar lahir dari persepsi manusia terhadap tuhan. Bahkan menjadi pembenaran atas kesalahan yang dilakukan.

Tuhan saya adalah Tuhan yang di luar seluruh jangkauan manusia, sehingga tidak pernah mengatasnamakan tindakan atas nama tuhan. Bagi saya, lebih baik manusia yang “atheis” tetapi dapat memberikan sumbangan besar bagi kehidupan manusia, daripada yang bertuhan tetapi destruktif. Hancurkan semua bentuk tuhan-tuhan yang ada di kepala Anda, karena tuhan persepsi sudah mati, mari kita kembali pada nilai-nilai kemanusiaan.**[harjasaputra]

Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: [email protected]

KOMENTAR

To Top