Connect with us

Mengintip Kegiatan Reses Anggota DPR-RI

Parlemen

Mengintip Kegiatan Reses Anggota DPR-RI

DR. Abdurrahman Abdullah (foto: harjasaputra)

Di tengah gencarnya pemberitaan tentang isu video porno yang diduga dilakukan oleh dua orang politisi senayan dari partai oposisi warna merah, anggota dewan yang lain punya cerita berbeda. Memang tak menjadi berita nasional karena ini “isu biasa”: kunjungi konstituen dengan melakukan berbagai kegiatan.

Agar tulisan ini terhindar dari framing yang berlebihan, baik framing terlalu “kanan” (memuji) maupun framing “kiri” (kritik buta), di sini akan berupaya mendeskripsikan secara apa adanya. Subyektivitas memang tak dapat dihindari oleh setiap penulis ataupun jurnalis, karena kita hidup bukan di ruang hampa, pasti ada bias baik dari pekerjaan, latar belakang, dan sebagainya. Namun, hal itu bisa diminimalisasi dengan prinsip “segitiga data” (triangulasi data), yaitu apa yang ditulis adalah apa yang terjadi didukung oleh fakta-fakta lain.

Adalah DR. Abdurrahman Abdullah, anggota DPR-RI, FPD, Dapil NTB dalam kegiatan resesnya bukan hanya istilah saja “menyerap aspirasi” tetapi mencoba berbuat secara riil untuk masyarakat. Itu konsep dasarnya yang ia coba untuk konsisten di jalur itu.

Ada banyak kegiatan resesnya yang penulis kuntit, dari mulai pembukaan acara “Super Drag Race 2012″ (lomba balap motor garis lurus), ikut panen raya jagung, pelatihan pengajaran matematika untuk guru PAUD, pembukaan  MTQ, berpartisipasi pada turnamen sepakbola, deklarasi anti geng motor, pembukaan panjat tebing tingkat nasional, menyantuni anak-anak terlantar, hingga mengunjungi masyarakat untuk acara-acara lain.

Dari sekian banyak kegiatan itu ada dua tema kegiatan yang akan penulis tonjolkan di sini: “memerangi” geng motor dan pengembangan kompetensi guru PAUD (TK-SD).

Geng motor sudah lama merebak dan sangat meresahkan masyarakat, ditambah lagi pemberitaan akhir-akhir ini yang banyak menyoroti kebrutalan geng motor. Memerangi geng motor tidak bisa diatasi hanya dengan cara-cara reaktif, misalnya dengan menangkap para geng motor yang melakukan kejahatan, ini tidak menyelesaikan masalah karena bergerak di hilir. Cara efektif adalah tindakan pencegahan dari hulu. Apa itu? Sibukkan para remaja dan pemuda dengan berbagai kegiatan positif. Bagi yang suka balapan, adakan kegiatan balap yang memang memacu motor sekencangnya di tempat yang tepat. Bagi remaja/pemuda yang suka tantangan, adakan lomba sepeda, dan sebagainya.

Berbagai kegiatan remaja dan pemuda di wilayah NTB, khususnya Kota Bima dan Kab. Dompu, yang DR. Abdurrahman Abdullah hadiri pada saat reses atau terlibat langsung/ikut mendukung dalam kegiatan itu dapat dilihat pada foto-foto di bawah ini:

{gallery}gengmotor{/gallery}

Selain kegiatan-kegiatan di atas, kegiatan yang sangat serius dilakukan adalah “Pelatihan Pengajaran Matematika untuk Guru PAUD-SD dengan Metode Mudah dan Menyenangkan”, hasil kerjasama Abdurrahman Center dengan Dinas Dikpora Kota Bima dan Kab Dompu serta Al-Fauzien Learning Center Depok. Kegiatan ini diadakan selama 4 hari: 2 hari di Kota Bima dan 2 hari di Kab. Dompu. Guru yang mengikuti lebih dari 400 orang.

Foto kegiatan pelatihan dapat dilihat di bawah ini:

{gallery}pelatihan{/gallery}

Ada catatan khusus untuk pelaksanaan pelatihan guru di Kab. Dompu jika dibandingkan dengan di Kota Bima. Entah karena faktor politis, ataukah malas, pelayanan Dinas Dikpora Kab. Dompu  sangat berbeda. Sempat instruktur hampir putus-asa dan enggan melanjutkan pengajarannya. Mereka usulkan sehari saja yang rencana 2 hari. Disebabkan kurang kooperatifnya pegawai di Dinas Dikpora Dompu, padahal surat dikirim dan komunikasi lebih duluan dikirim ke Dikpora Dompu daripada ke Kota Bima.

Pelayanan Dinas Dikpora Kota Bima sangat luar biasa kooperatif: persiapannya lebih matang dan tidak terkesan ogah-ogahan. Kalau di Kab. Dompu waduuh, dari pihak pimpinan daerah OK ke bawah belum tentu. Sehingga agak acak-acakan pelaksanaannya, dari mulai tempat acara yang pindah-pindah, papan tulis (whiteboard) hanya triplek dipaku di meja, OHP tidak tersedia, peserta minta uang juga ke instruktur,  sudah begitu oknum pegawai dikporanya juga minta uang dengan angka tinggi. Pak…pak..sama anggota DPR-RI saja yang notabene pihak yang menentukan anggaran untuk pemda seperti ini apalagi sama masyarakat biasa.

Meskipun demikian, acara pelatihan dapat terselenggara sampai tuntas 2 hari di Kab Dompu, karena berusaha diatasi sendiri berbagai kekurangan yang ada, tidak terlalu andalkan pegawai Dikpora. Karena capek hati kalau begitu..**[harjasaputra]

Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: [email protected]

KOMENTAR

To Top