Harja Saputra Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: [email protected]

Balada Swab PCR-Antigen

2 menit baca

Diswab itu tidak enak

“Sudah berapa kali swab PCR?”, tanya tenaga kesehatan sewaktu saya hendak melakukan swab PCR di Kota Padang.

“Tidak ingat persisnya. Kalau swab PCR di atas sepuluh kali, antigen sudah lebih dari dua puluh kali”, jawab saya.

Itu betul. Hidung saya yang sudah besar ini sepertinya akibat pandemi menjadi semakin besar. Dicolok terus soalnya. Colok antigen, colok PCR, untuk keperluan bepergian ke luar kota, rapat resmi, harus dicolok.

Dicolok alias di-swab itu sangat tidak enak. Geli-geli sakit. Beda orang, beda juga cara mencoloknya. Ada yang mencoloknya anggun, tidak terasa saat dicolok. Ada juga yang barbar, kita dibuat sampai berlinang air mata. Kayak mau puas dia mencolok hidung orang sampai dalam..:v :v

Ada juga nakes yang nafsu saat mencolok. Ini beneran. Di Solo, waktu itu kami berempat keliling cari tempat swab PCR malam hari. Susahnya minta ampun. Setelah ke empat klinik dan Rumah Sakit, akhirnya dapat satu tempat yang bisa Swab PCR di malam hari. Tidak usah disebut nama tempatnya.

Teman saya seorang wartawati. Parasnya memang cantik, putih bersih, semlahoy-lah. Dia keluar setelah diswab berlinang air mata. Mengumpat-umpat.

“Kenapa? Sakit dicoloknya?”, kami bertanya sama dia.

“Iya, sakit banget. Diputar-putar dalam banget nyoloknya”.

“Waduh, meresapi banget kayaknya nakesnya pas nyolok”.

“Saya marahi aja orangnya. Di tempat lain tidak begini banget sakitnya”, jawab wartawati itu.

Benar saja. Pas giliran saya dicolok, saya lihat nakesnya, cowok sih, tapi tampangnya kayaknya lagi horny..haha. Untungnya mungkin setelah dimarahi sama teman yang wartawati itu, pas nyolok saya tidak sebarbar yang dilakukan kepada teman. Alhamdulillah. Drama PCR Swab malam itu bisa terlewati.

Malam hasilnya keluar. Semua negatif.

Pengalaman diswab antigen dan PCR ini kalau dibukukan seru juga. Pandemi membawa sejuta kenangan (Gak sejuta juga sih). Banyak kisah lucunya.

Pengalaman di-swab PCR di Jakarta. Swab kekinian, Drive Thru. Waktu itu sekitar pukul 15.00 WIB.

“Sore bapak. Mau swab PCR atau Antigen”, tanya pelayan dengan sangat ramah. Biasanya kalau yang sangat ramah saat nyapa, pasti mahal harganya. Ramah di Jakarta berbanding lurus dengan harga.

“PCR”, jawab saya singkat.

“Mau yang 24 jam atau ekspres 16 jam atau 10 jam?”, tanya pelayannya lagi.

“Berapa biayanya?”

“Yang 24 jam 495 ribu, 16 jam 750 ribu, dan 10 jam 900 ribu”.

“Yang 16 Jam saja”.

Dicolok. Bayar. Beres.

Bos saya mengabari, bahwa dia milih paket yang 10 jam. Maklum bos, harus beda dengan anak buah. Masa anak buahnya 16 jam, dia sama. Di samping itu, alasan utamanya takut tidak keluar cepat. Bayar lebih yang penting keluar cepat.

Malam hari jam 23.00, saya cek sudah keluar hasilnya. Dikirim via WA dan sudah masuk ke Peduli Lindungi. Saya kontak bos saya. Maksud menanyakan. Ternyata keluar hasilnya sama. Jam 23.00 juga. Laaah, ini lucu. Beda harga ternyata waktu keluar hasilnya sama.

“Tahu begitu, mending pilih yang 16 jam lebih murah”, gerutunya.

Jadi, jika ada yang berpendapat bahwa swab PCR – antigen ini ditengarai ada udang di balik bakwan, bisa jadi benar. Bisa jadi juga cuma prasangka (biar tidak terlalu kasar..:v).

Cerita lain.

Saat saya sakit. Meriang, pusing, badan pegal-pegal terasa remuk seperti diinjak oleh gajah. Untung ada calon istri yang saat saya kontak sigap dan segera datang. Memberikan pertolongan. Saya diinfus dua hari.

“Biar ketahuan sakitnya, lebih baik diswab antigen. Beli saja alatnya online”, saran calon istri.

Saya pesan alat swab antigen via online. Murah ternyata, 38 ribu per satu alat tes. Saya beli empat. Sisanya untuk swab anak-anak. Daripada diswab di rumah sakit atau klinik, waktu itu biaya antigen 150 ribu.

Jadi, bisa bayangkan modalnya 38 ribu dijual 150 ribu. Untungnya besar memang. Ya tidak apa-apa sih, rejeki orang mungkin. Berdosa kalau kita iri dengan rejeki orang..(biar kelihatan bijak dikit..:v).

Apa the moral of story dari cerita-cerita di atas? Ya tidak ada. Cerita saja..:v :v :v.

Harja Saputra Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: [email protected]

Subscribe my newsletter!

#kami tidak akan kirim spam

Komentari Artikel
Setiap komentar akan dimoderasi dan tayang setelah diapprove. Baik komentar positif maupun negatif tidak akan disensor. Moderasi hanya untuk memilah spam. Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments