Connect with us

Filsafat

Alam Ide vs Alam Fisik

Published

on

Kita sering mendengar orang berkata: “Lagi cari ide”, “idenya brillian”. Pertanyaannya: Apa itu ide? Di manakah ide itu berada? Pertanyaan filosofis yang banyak dibahas oleh para filosof dengan bahasa yang terkadang susah dipahami.

Mari kita bikin mudah. Kalau bisa dibikin mudah kenapa harus dibikin susah. Ide jelas bukan benda yang bisa dilihat oleh indera. Ide sifatnya abstrak. Alam ide merupakan salah satu pemikiran utama Plato. Menurutnya, semua yang ada di dunia ini adalah palsu. Tembok yang kita lihat bukan tembok yang sebenarnya, karena suatu saat akan musnah. Sendok yang kita lihat dan pegang bukan sendok yang sebenarnya, karena bisa hilang. Tembok dan sendok yang hakiki adalah apa yang ada di alam ide, alam imaginal. Alam ide hanya bisa digapai oleh pikiran yang juga abstrak. Tugu Monas yang hakiki adalah yang ada di pikiran Soekarno sebagai pemilik ide mengenai Monas. Ide ini lantas dibantu oleh unsur material sehingga terwujudlah Monas yang kita lihat. Setiap yang ada di dunia ini ada duplikatnya di dunia ide.
Tetapi pendapat ini dikritik oleh muridnya sendiri, yaitu Aristoteles. Menurut Aristo jika memang yang hakiki adalah yang ada di alam ide lantas bagaimana dengan api, apakah juga bersifat membakar. Jika demikian, maka api akan membakar kepala kita ketika membayangkan api. Aristoteles kemudian membalik teorinya, bahwa hakikat realitas adalah apa yang kita lihat.

Dua kubu pemikiran ini sangat penting, karena keduanya sangat nyata dalam kehidupan kita. Dunia Plato terwujud dalam bisnis industri perfilman. “Imajinasi lebih berharga dari ilmu pasti”, itu ungkapannya. Adapun dunia Aristoteles terwujud dalam dunia Sains yang fokus pada seluruh keberadaan yang ada sebagai fokus kajian.

Keduanya sebetulnya bisa didamaikan. Karena alam ide dan alam fisik mempengaruhi satu sama lain. Ada sebuah film yang memiliki pesan bagus, yaitu film Matrix. Film ini hendak mengatakan bahwa alam ide dan alam fisik saling mempengaruhi. Isi film Matrix menceritakan petualangan Neo dan kawan-kawannya di alam matrix (alam ide). Ketika Neo terluka di alam matrix, maka fisiknya yang ada di dunia nyata juga terluka. Ketika berdarah karena ditembak di alam matrix maka jasadnya yang ada di alam nyata juga berdarah. Hal ini dapat dilihat pada dunia nyata, bahwa ketika pikiran (wujud alam ide) stress maka badan pun akan cepat sakit.

Contoh lainn yang terbalik (fisik mempengaruhi alam ide) bisa dibuktikan kalau kita mandi, mencuci kepala dengan shampo, efeknya pun akan terasa ke pikiran, segar, dan sebagainya.

Contoh lainnya yang paling nyata adalah komputer. Komputer merupakan paduan dunia ide Plato dan dunia empiris Aristo. Komputer merupakan terobosan luar biasa dimana ide yang abstrak bisa divisualisasikan. Software adalah dunia ide, hardware adalah dunia empiris. Keduanya saling menunjang. Kerusakan pada software bisa juga mempengaruhi kerusakan hardware, begitu juga sebaliknya.

Apa manfaatnya memahami hal ini? Banyak manfaatnya. Mitos, mistik, ajaran agama, sesuatu yang beyond rational, akan gagal dipahami jika tidak memahami alam ide. Jika dilebarkan pembahasannya bisa merambah kemana-mana. Termasuk, bahwa alam idelah yang membuat kita bisa menulis. Tidak murni karena kemampuan dan pengalaman seseorang yang membuat manusia bisa menulis atau mencurahkan idenya dalam bentuk lain. Ada pengaruh dari alam ide.

Alam ide sesungguhnya adalah Jibril (Gabrielle). Sehingga sangat salah jika dikatakan Jibril pensiun karena sudah tidak ada Nabi lagi. Jibril tetap bertugas. Karena dialah alam ide. Jibril menyampaikan wahyu Tuhan kepada para Nabi pun, meminjam istilah Fazlur Rahman, bukan seperti tukang pos sebagai agen eksternal yang memberikan pesan lantas pergi. Nabi dalam menerima wahyu adalah proses kreatif internal dalam dirinya yang terhubung dengan Jibril (alam ide).

Maka ketika kita mendapat suatu ide atas suatu permasalahan, sebetulnya kita sedang terhubung dengan Jibril (alam ide). Namun apakah ide tersebut yang betul-betul diinginkan oleh Jibril masih harus diverifikasi dahulu oleh logika dan kenyataannya. Kalau bertentangan dengan yang rasional maka bukan itu yang diinginkan. Tidak semua orang bisa mengerti betul secara pasti apa yang diberikan oleh Jibril. Hanya orang dengan kapasitas tertentu yang mampu komunikasi langsung dengan Jibril sehingga zero error antara pesan Jibril dengan apa yang diterimanya. Itulah kelas para Nabi. Di sinilah orang banyak terjebak sehingga banyak yang mengatasnamakan Nabi dan telah berkomunikasi dengan Jibril seperti kasus Lia Aminuddin, dll. Kelas kita, tetaplah berkomunikasi dengan dunia ide, sampaikan apa yang ada di dunia ide menurut apa yang kita pahami. Verifikasi dari orang lain dan verifikasi rasionallah patokannya. Semakin banyak perjalanan itu ditempuh maka semakin besar peluang meraih kedekatan dengan penyampai dunia ide (Jibril), meskipun tidak mungkin menyamai kedudukan para Nabi.**[harja saputra]

Tulisan ini semula dimuat di Kompasiana: http://filsafat.kompasiana.com/2011/06/05/dunia-plato-vs-dunia-aristo/