Connect with us

Komunikasi

Media Indonesia Memprovokasi Agama Lagi

Published

on

Snapshot: mediaindonesia.com

Setelah pemberitaan Media Indonesia online yang tidak akurat pada tanggal 25 September 2011 tentang reportase pemboman di GBIS Solo yang memberitakan bahwa pelaku meledakan diri di dalam Gereja. Kata “di dalam” jelas bukan di luar, sementara faktanya bom bunuh diri ditujukan ke pintu gereja bukan di lakukan di dalam gereja.

Media Indonesia terus memprovokasi. Hal ini terbukti pada hari berikutnya, tanggal 26 September 2011, kembali menurunkan berita onlinenya dengan judul yang sangat tendensius. Gambarnya saya sajikan di atas, judulnya: “Wanita Berjilbab Baju Biru dengan Balita Masuki Ruang Forensik“. Di mana tendensiusnya? Di kalimat “Wanita Berjilbab”. Kalimat adalah tanda, setiap tanda akan merujuk pada substansi, dan mengandung makna konotasi tertentu. Kalimat tidak mandiri, ia memiliki arti denotatif dan konotatif. Kalimat ‘Wanita Berjilbab” adalah simbol atau tanda yang menunjuk pada simbol agama. Ini akan membawa pemahaman untuk gencar mengatakan bahwa bom dan Islam adalah identik.

Padahal, ketika ditanya apakah agama identik dengan kekerasan? Semua orang sepakat dalam berkomentar (melalui nalar yang sehat) bahwa terorisme dan agama tidak ada hubungan. Jika demikian, maka abaikan simbol-simbol keagamaan ketika memberitakan terorisme. Karena ini akan menggiring opini publik. Kenapa tidak disebutkan saja berita yang wajar-wajar saja, misalnya “Wanita dengan Balita Masuki Ruang Forensik“. Ini lebih bijak.

Pemberitaan Media Indonesia tersebut sesungguhnya telah melanggar Kode Etik Jurnalistik (KEJ) Pasal 2, bahwa: “Wartawan Indonesia dengan penuh rasa tanggung jawab dan bijaksana mempertimbangkan patut tidaknya menyiarkan berita, tulisan atau gambar, yang dapat membahayakan keselamatan dan keamanan negara, persatuan dan kesatuan bangsa, menyinggung perasaan agama, kepercayaan dan keyakinan suatu golongan yang dilindungi oleh Undang-undang.”

Kalimat yang ditebalkan adalah aspek yang dilanggar. Ada 3 poin: tanggung jawab dan bijaksana, persatuan dan kesatuan bangsa, dan menyinggung perasaan agama. Tanggung jawab dan bijaksana adalah pemilihan kata dari wartawan seharusnya dipertimbangkan secara matang. Berita memang betul mengabarkan apa adanya, tetapi harus dilihat juga efek dan etikanya. Pemberitaan itu jelas menyinggung perasaan agama karena mengaitkan simbol keagamaan (cara berpakaian) dengan kegiatan terorisme. Dengannya dapat menimbulkan perpecahan atau mengoyak persatuan dan kesatuan bangsa.

Isu pemboman, media kadang sangat vulgar, menampilkan simbol-simbol keagamaan. Beritanya tentang terorisme, tetapi gambar yang dimunculkan kegiatan orang yang sedang shalat, wanita berjilbab, dan simbol-simbol lain yang sebetulnya tidak ada kaitan sama sekali. Dengannya berarti memberikan pemahaman yang tidak mendidik, atau dalam bahasa KEJ-nya “Sensasi berlebihan”. Etika adalah kepatutan, dengannya etika jurnalistik berkaitan dengan rasa, berkaitan dengan hati. Tidak melulu mementingkan profesi sebagai pewarta.**[harja saputra]

Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: [email protected]

Advertisement
2 Comments
  • zaza

    Media jaman sekarang kalau dapat berita bad news is a good news… seneng banget nunjukkin kalau orang Islam itu teroris… biar persatuan Indonesia semakin pecah ya… jangankan ngamalin kode etiknya… pancasila aja ga diamalin…
    padahal dalam prakteknya… saya yg muslim punya toleransi yg sangat tinggi… saya mau cium tangan sama orang yg beda agama karena saya menghormati mereka…karena kita satu sebagai bangsa Indonesia.. di kampus pun mau berteman sama siapa saja… bgt juga dengan tman-teman yg lain… suka atau tidak suka tidak dilihat dari agama ataupun keturunan seseorang… tapi dari kelakuannya… bgtulah cara kami bergaul…

    saya jadi benci sekali sama media Indonesia… kalau ada yang berhubungan sama agama Islam selalu aja dikait-kaitin sama yg anarkis, teroris, ga punya toleransi dan MUI yang fatwanya trkesan dibuat-buat.. biar smua benci sama orang Islam kali yaa

  • Robert

    Untung saya tidak pernah langganan Media Indonesia, saya langganan media profesional yang pasti2 sajalah —–> K*mp*s***