Komunikasi

Pidato Presiden Salah, Di Situ Saya Terkadang Merasa Sedih

Ilustrasi: pidato presiden di Blitar (metrotv)

Salah satu tugas saya sebagai Tenaga Ahli Komisi 8 DPR RI adalah membuat Kata Pengantar bagi rapat-rapat yang diadakan di komisi. Semua yang dikatakan oleh pimpinan rapat dari mulai salam, menyapa siapa saja tamu yang hadir, menyampaikan topik rapat, ketuk palu berapa kali, hingga kata-kata penutup rapat dicatat semuanya dalam kata pengantar yang dibuat oleh tenaga ahli komisi. 

Beberapa hari ini saya sebenarnya tidak mau ikut komentar hal-hal remeh masalah di mana sebenarnya Presiden Soekarno lahir yang bermula dari kesalahan presiden Jokowi di saat pidato. Tetapi, ketika saya melihat sendiri di TV bagaimana presiden berpidato dengan membaca teks yang diberikan kepadanya oleh ajudan, di sini saya terkadang merasa sedih.

Sedih karena sekelas pidato presiden begitu lho, kok bisa begitu. Sekelas pidato pimpinan Komisi DPR RI saja ada beberapa tahapan yang harus dilalui. Saya selaku pembuat kata pengantar misalnya, tidak berani mencantumkan satu kalimat pun kalau saya tidak yakin betul maksud dari kalimat itu. Sangat menghindari penggunaan kata-kata yang akan menimbulkan multi-interpretasi. Saya mencantumkan setiap kalimat hanya yang benar-benar saya yakin kebenarannya. 

Selain itu, setelah draft kata pengantar itu selesai, harus melalui screening oleh beberapa orang, yaitu oleh Kasubag Komisi bidang persidangan dan Kepala Bagian Komisi untuk dilakukan editing, barangkali ada kesalahan kata atau kekeliruan penyebutan, juga jika ada kesalahan ketik dalam draft itu. Itu sekelas pidato pimpinan Komisi. Untuk pidato pimpinan DPR saya yakin lebih ketat lagi. 

Seharusnya draft naskah pidato Presiden harus lebih ketat lagi dari itu. Hal itu karena presiden adalah simbol negara, pidatonya didengar luas oleh seluruh masyarakat Indonesia bahkan dunia, dan disiarkan di media-media nasional. Screening naskah pidato wajib dilakukan secara lebih ketat. 

Dalam naskah pidato ada hal-hal penting yang harus diperhatikan:

Pertama, akurasi informasi. Jangan sampai dalam naskah pidato ada informasi atau data yang salah sehingga berakibat fatal. Pesan yang ingin disampaikan tidak akan sampai kepada audiens karena adanya kesalahan informasi atau kesalahan data.

Kedua, artikulasi konten. Ini menyangkut penguasaan dan kedalaman materi pada topik yang hendak disampaikan. 

Ketiga, tidak menjemukan. Kejelian penulis naskah pidato harus memperhitungkan juga psikologis pendengar dari pidato. Jangan sampai mementingkan artikulasi konten dengan panjang-lebar menyampaikan pidato namun berakibat membuat pidato menjadi menjemukan. Ini tantangan yang terberatnya. 

Public speaker yang baik adalah figur yang tidak terpaku pada naskah pidato. Ia akan berimprovisasi ketika berpidato dengan menyesuaikan sendiri apa yang disampaikan sesuai dengan tema dan audiensnya. Teknik impromptu (berpidato secara spontan tanpa persiapan dan tanpa teks) adalah ciri dari public speaker handal. Bagaimanapun kondisi audiens, public speaker yang handal akan mampu berbicara dengan baik meskipun tanpa teks. Dan, tidak semua orang mampu melakukan itu.

“Salah itu biasa” adalah betul, tetapi ungkapan itu tidak bisa dijadikan sebagai justifikasi dari sebuah kesalahan. Kesalahan bisa diminimalisasi dengan sistem yang bagus. Ketika sistem tidak berjalan maka kesalahan akan muncul. Itu rumus standar dari ilmu manajemen. Kapan lagi mau benar kalau tiap kesalahan kita tolerir. Ketika kita mentolerir kesalahan yang kecil maka besar kemungkinan kita juga akan mentolerir kesalahan yang besar.**[harjasaputra.com]

Blogger | Serverholic | Empat Anak | Satu Istri | Kontak: [email protected]

Subscribe to our newsletter

Sign up here to get the latest articles and updates directly to your inbox.

You can unsubscribe at any time
Subscribe
Notify of
guest
1 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
budisuprapto
budisuprapto
9 years ago

hehehe….., lalu siapa yang salah? Ya, yang salah yang milih beliau