Connect with us

Polhukam

Pancasila: Ideologi Indonesia yang Otentik

Published

on

Tanggal 1 Juni diperingati sebagai hari lahirnya Pancasila. Selain itu, diperingati pula Pidato Bung Karno 1 Juni 1945. Hari ini (01 Juni 2011) di gedung MPR presiden SBY dijadwalkan hadir bersama beberapa mantan presiden RI untuk memperingati pidato Bung Karno.

Para ahli sejarah berbeda pendapat mengenai kapan sebetulnya “hari Pancasila” apakah tanggal 1 Juni bertepatan dengan Pidato Bung Karno, yang dalam pidatonya mengemukakan secara eksplisit mengenai butir-butir yang terdapat dalam Pancasila; ataukah tanggal 18 Agustus 1945, yaitu di saat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengumumkan mengenai Butir-butir Pancasila. Atau pertanyaan yang lebih spesifiknya, “Apakah Pancasila adalah karya tunggal Bung Karno yang dirumuskan 1 Juni, ataukah rumusan bersama dari PPKI”.
Banyak yang mengatakan bahwa Pancasila adalah karya tunggal Bung Karno yang dirumuskan 1 Juni 1945, karena meskipun keputusan bersama PPKI tetapi Bung Karno adalah ketua tim PPKI juga, dengannya PPKI hanya sebagai editor atas butir-butir Pancasila yang diutarakan oleh Bung Karno pada pidatonya 1 Juni. Tetapi banyak juga yang mengatakan, termasuk Machfud MD, bahwa Pancasila bukan karya tunggal Bung Karno tetapi rumusan kolektif PPKI.

Pada tanggal 1 Juni memang tidak diurutkan butir-butir Pancasila seperti yang ada sekarang, urutan tersebut adalah dari hasil rumusan PPKI, tetapi kita bisa telusuri semuanya ada pada pidato bung Karno, meskipun dengan istilah yang berbeda. Berikut ini adalah perbandingan rumusan Pancasila 1 Juni 1945 (versi Pidato Bung Karno) dengan 18 Agustus 1945 (versi PPKI) (Gatut Saksono, 2010):

1. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa (18 Agustus 1945) dirumuskan dari sila Ketuhanan (dalam Pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945).

2. Sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab (18 Agustus 1945) dirumuskan dari sila Internasionalisme atau Perikemanusiaan (1 Juni 1945)

3. Sila Persatuan Indonesia (18 Agustus 1945) dirumuskan dari sila Kebangsaan Indonesia (Satu Juni 1945).

4. Sila Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan (18 Agustus 1945) dirumuskan dari sila Mufakat atau Demokrasi (1 Juni 1945).

5. Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia (18 Agustus 1945) dirumuskan dari sila Kesejahteraan Sosial (Satu Juni 1945).

Terlepas dari wacana apakah Pancasila rumusan tunggal bung Karno atau rumusan kolektif, yang paling penting adalah bahwa Pancasila dipilih sebagai dasar negara yang menjadi nilai-nilai dalam berkebangsaan, bernegara, dan bermasyarakat rakyat Indonesia adalah pilihan tepat. Pancasila adalah “kearifan lokal” yang bersumber dari nilai-nilai universal yang disepakati oleh semua pihak, apapun jenis agamanya.

Pancasila bisa mengakomodasi sekat-sekat perbedaan yang sangat beragam di masyarakat Indonesia. Pancasila adalah semacam “five commandments”, “rukun Indonesia”, dan istilah agamis lain sebagai nilai-nilai yang ada di setiap agama.

Pancasila telah merumuskan bentuk Pluralisme bahkan sebelum ide Pluralisme dari John Hick muncul. Pancasila adalah wujud nyata dari ke-Indonesia-an yang otentik. Pancasila adalah “jalan tengah”, jalur moderat yang diambil oleh founding fathers dari ideologi-ideologi yang ada. Pancasila bukan liberalisme, Pancasila bukan sosialisme, Pancasila bukan Islamisme, Pancasila bukan Kristenisme, Pancasila bukan isme-isme lain sebagai ideologi-ideologi dunia. Pancasila ada Indonesianisme. Bisa mendamaikan isme-isme tersebut. Tidak terkontaminasi oleh isme-isme yang ada, ia berangkat otentik dari semangat keberagaman Indonesia. Hingga Indonesia mampu bertahan sampai saat ini dengan keberagamannya.

Salam Pancasila..!

Tulisan ini semula dimuat di Kompasiana: http://politik.kompasiana.com/2011/06/01/pancasila-ideologi-indonesia-yang-otentik/

 

Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: [email protected]