Connect with us

Polhukam

[Seri Cara Mudah Menjadi Anggota DPR] Berapa Harga 1 Kursi DPR Tahun 2014?

Published

on

Ilustrasi: harjasaputra.com

“Ini sepanjang jalan kok penuh dengan spanduk dan baliho para caleg ya? Pada narsis lagi foto-fotonya”, gerutu saudara saya yang ikut satu mobil di saat pulang kampung kemarin.

Ya, tahun 2013 adalah tahun politik, menjelang pemilu di tahun 2014. Apalagi di moment bulan Ramadhan dan Lebaran, dimanfaatkan betul oleh para caleg untuk mensosialisasikan diri. Banyak media digunakan, dari media outdoor (spanduk, baliho, flyers, stiker, dan sejenisnya), media cetak, media online, maupun media elektronik. Semua itu tujuannya hanya satu: agar elektabilitas caleg meningkat.

Sebagai aktor yang berada di “balik layar” untuk seorang anggota DPR-RI, saya melihat fenomena massifnya iklan caleg dipicu oleh:

Pertama, pemilu 2014 sangat berat. Dengan jumlah partai peserta pemilu yang menciut dari jumlah 44 partai di tahun 2009 (38 partai nasional + 6 partai lokal di Aceh) menjadi hanya 12 partai di tahun 2014 menjadi tantangan tersendiri. Menciutnya jumlah partai menjadikan angka BPP (Bilangan Pembagi Pemilih) atau harga 1 kursi DPR-RI meningkat dua kali lipat. Bahkan lebih.

Di tahun 2009 harga 1 kursi DPR (bukan harga rupiah) adalah di kisaran 100 ribu sampai 130 ribu suara. Hal ini karena dengan jumlah partai yang sangat banyak, dan ketika banyak partai yang tidak lolos di ambang batas PT (Parliamentary Threshold) maka otomatis suara dari partai yang tidak lolos PT menjadi terbuang percuma. Rata-rata 40 persen suara gugur di tengah jalan. Hal ini menyebabkan angka BPP menjadi kecil. Ditambah lagi banyaknya suara yang tidak sah alias golput. Semakin menipiskan angka harga kursi DPR.

Adapun di tahun 2014, harga satu kursi DPR-RI akan meningkat tajam. Berada di kisaran 230 ribu hingga 250 ribu suara. Penyebabnya adalah kebalikan dari tahun 2009: partai sedikit, jumlah suara gugur yang terdepak karena PT pun otomatis akan sedikit. Taksiran saya tak akan lebih dari angka 10 persen suara. Meskipun taruhlah angka golput konstan atau meningkat tapi tetap tak sebanding dengan faktor PT tadi.

Kedua, citra dari parpol-parpol besar sedang terjun bebas dihantam gelombang kasus. Demokrat yang berjaya di tahun 2009, diprediksi akan menurun di 2014. Apalagi jika tanpa ada gebrakan untuk memulihkan citra, partai berlambang mercy ini susah untuk kembali memenangkan pemilu. Konvensi capres yang diusung Demokrat merupakan strategi utama SBY untuk mengatasi hal ini.

PKS pun mengalami hal serupa. Terjun bebas, terutama setelah kasus “daging sapi berjanggut” yang menelan korban petinggi partai tersebut.

Golkar pun diprediksi tak akan meningkat signifikan. Sosok ARB menjadi kendalanya. Nasdem, PKPI dan PBB diprediksi hanya sebagai penggembira saja. Tinggal PDIP, Gerindra, dan Hanura dari partai oposisi yang akan berkompetisi meraih simpatik dari rakyat. Tapi tetap tidak mungkin menandingi seperti kejayaan Demokrat di tahun 2009. Tidak adanya figur yang mumpuni kendalanya. Kecuali nanti Jokowi berubah pikiran dan berpihak pada partai oposisi, beda lagi cerita. Tapi kemungkinannya kecil.

Partai Islam seperti PPP, PKB, PAN (meskipun kurang pas memasukkkan PAN ke golongan partai Islam) dan PKS (sudah dibahas di atas) akan stagnan. Simpati publik pada partai agamis pada tahun 2014 diprediksi tak akan meningkat. Bahkan, salah satu dari partai Islam di atas ada kemungkinan terdepak dari kancah politik karena tidak mampu menembus ambang batas PT.

Ketiga, faktor sosial rakyat Indonesia yang kini mulai bergeser. Antipati terhadap partai adalah gejala–bahkan bukan hanya gejala tetapi sudah menjadi fenomena–yang semakin mencuat. Hal ini menggeser juga pakem sosialisasi dari caleg. Tokoh adalah kunci utama yang akan dilihat oleh rakyat, bukan lagi partai. Maka, parpol yang mampu merekrut tokoh-tokoh masyarakat terpandanglah yang beruntung.

Dikarenakan tokoh atau who is (siapa calegnya), bukan what is (apa partainya), yang mengambil peran utama dalam pileg 2014, ramai-ramailah para caleg mensosialisasikan diri seperti telah disebutkan di atas. Meskipun, perlu dicatat, bahwa jika tanpa perhitungan dan analisa yang matang, seberapa gencar pun sosialisasi melalui media dilakukan tetap tak menjamin caleg itu jadi.

Faktor-faktor di atas inilah yang membuat para caleg ketar-ketir. Tidak hanya caleg yang belum pernah menjadi anggota DPR, tetapi juga caleg yang saat ini sudah menjadi anggota DPR pun ketar-ketir. Karena tantangannya sangat berat.**[harjasaputra]

Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: [email protected]