Harja Saputra Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: [email protected]

Semua Agama Benar di Mata Tuhan?

2 menit baca

Ilustrasi agama-agama (nu.or.id)

“Hindari fanatik yang berlebihan terhadap suatu agama. Karena semua agama itu benar di mata Tuhan”, pernyataan Letjen Dudung Abdurachman di Bandung ini ramai ditanggapi oleh banyak kalangan.

Menteri Agama, Gus Yaqut, menanggapi bahwa narasi tersebut bermakna toleransi: “Semua agama itu benar menurut pemeluknya masing-masing”.

Ketua Komisi Dakwah MUI, KH M. Cholil Nafis berbeda pandangan. Menurutnya, narasi tersebut kurang tepat, bahwa semua agama benar adalah pandangan dalam bingkai toleransi, namun dalam keyakinan masing-masing pemeluk agama tetap yang benar hanya agamanya masing-masing.

Diskursus mengenai “kebenaran agama” merupakan tema serius dan telah dibahas oleh banyak pakar dan tokoh agama dari berbagai kalangan. Pertanyaannya: “Jika semua agama adalah benar, kenapa banyak hal yang paradoks dalam suatu ajaran agama dengan agama yang lain?”

Hukum logika mengatakan, “Apabila ada dua hal atau lebih yang paradoks, maka hanya ada dua pilihan: salah satu yang benar atau kedua-duanya salah. Tidak mungkin semuanya benar”.

Proposisi “semua agama adalah benar” merupakan premis mayor yang harus diuji kesahihannya, berbeda jika menggunakan proposisi “semua agama mengandung kebenaran” yang mungkin lebih pas dengan substansi keberagamaan.

Narasi “semua agama benar” menimbulkan kerancuan. Berbeda dengan narasi “semua agama mengandung kebenaran” yang minim resistensi, sebab dalam agama tidak mungkin semua ajarannya salah, pasti ada mengandung kebenaran di dalamnya.

Terdapat 5 aliran dalam menyikapi keragaman agama: eksklusivisme, inklusivisme, paralelisme, interpenetrasionisme, dan pluralisme.

Pertama, Eksklusivisme adalah sikap dimana seseorang merasa bahwa agamanya adalah satu-satunya agama yang paling benar dan dapat memberikan kesalamatan kepada manusia.

Orang yang berpendirian seperti ini tidak akan pernah membuka diri untuk melihat kebenaran yang mungkin ada pada agama lain. Oleh karena agamanya diklaim sebagai sebuah kebenaran universal, itu berarti seluruh agama yang lain adalah salah dan sesat.

Kedua, Inklusivisme adalah sikap yang meyakini bahwa agama lain juga bisa memberikan keselamatan bagi umat manusia, namun pada saat yang sama ia tetap meyakini bahwa agamanya lebih baik dari agama lain.

Ketiga, Paralelisme adalah sikap yang meyakini bahwa kebenaran agama sifatnya paralel, yang memisahkan adalah hanya tenggat waktu kemunculannya, sehingga setiap agama secara paralel adalah sama. Pandangan ini meyakini bahwa di akhirat kelak ia akan bertemu dengan orang-orang yang berbeda agama dan keyakinan.

Keempat, Interpenetrasionisme adalah sikap yang meyakini bahwa agama lain dapat dijadikan sebagai pelengkap dari agama yang dianutnya. Agama-agama dinilai saling melakukan penetrasi antara satu dengan yang lain.

Kelima, Pluralisme adalah sikap yang meyakini bahwa semua agama atau setidaknya beberapa di antaranya adalah sama-sama benar. Pada level tertentu, sikap ini dapat menghantarkan seseorang kepada paham relativisme yaitu suatu paham yang mengatakan bahwa tidak ada kebenaran yang absolut.

Pengertian mengenai pluralisme pun beragam, mengacu pada istilah yang dipopulerkan oleh John Hick, ada pluralisme absolut yaitu yang mengatakan bahwa semua agama benar.

Ada juga pluralisme religius normatif, di mana pada jenis kedua lebih mengacu pada inklusivisme, bahwa setiap pemeluk agama boleh meyakini sepenuh hati mengenai kebenaran agamanya: hanya ada satu agama yang benar. Namun, pada saat yang sama, di antara pemeluk agama tersebut harus saling menghargai dan tidak boleh melakukan tindakan diskriminasi kepada golongan agama manapun.

Setiap orang harus yakin akan kebenaran agamanya, karena agama merupakan keyakinan individual. Namun, sikap ini bukan berarti meniadakan unsur toleransi. Menghargai keyakinan orang lain yang berbeda agama juga merupakan sikap yang harus dimiliki. Dengan kata lain, saling menghargai perbedaan yang ada dalam setiap agama, namun tetap otonom dalam keyakinan masing-masing.

Ada satu prinsip dari Ali ibn Abi Thalib yang dapat dijadikan pedoman, bahwa: “manusia itu terdiri dari jenis: mereka adalah saudarama dalam agama atau saudaramu dalam penciptaan“.*

Harja Saputra Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: [email protected]

Subscribe my newsletter!

#kami tidak akan kirim spam

Komentari Artikel
Setiap komentar akan dimoderasi dan tayang setelah diapprove. Baik komentar positif maupun negatif tidak akan disensor. Moderasi hanya untuk memilah spam. Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments