Connect with us

Sosbud

Membiasakan Anak Bekerja Lebih Dini, Salahkah?

Published

on

Namanya Alma, masih berusia 10 tahun. Adiknya, bernama Nadra, jarak usianya lebih muda 5 tahun dari Alma. Alma duduk di kelas 5 di sebuah Sekolah Dasar Negeri di wilayah Cinere Depok. Meskipun ia masih sekolah tapi uang jajannya yang ia kantongi setiap hari bukan semata hasil minta dari orang tuanya. Tidak juga menjadi pengemis di jalanan, atau penjaja asong di terminal. Uang sakunya diperoleh dari hasil kerja. Kerja pada siapa? Kerja pada orang tuanya. Kok bisa? Itu karena Alma sudah diajarkan dari sejak kecil bahwa uang diperoleh dari kerja, tidak diberikan begitu saja oleh orang tuanya.

Apa yang ia kerjakan? Hanya pekerjaan ringan yang tidak memberatkan bagi anak dan pekerjaan-pekerjaan sekolah. Di dinding kamarnya ada list pekerjaan yang dilakukan oleh Alma beserta upah yang dapat ia peroleh. Upah diberikan berdasarkan bobot pekerjaan. Di pagi hari, jika Alma membereskan tempat tidur, lantas ia mencontreng di daftar yang ada di dinding. Berarti ia berhak 1000 rupiah atas pekerjaan tersebut. Kemudian jika ia membantu ibunya beres-beres di dapur, ia berhak 1500 rupiah. Menyapu rumah berhak 1500 rupiah. Merapihkan buku 1000 rupiah, belajar pelajaran setelah sekolah 2000 rupiah. Adapun main, mandi, menyisir rambut, dan kegiatan pribadi lain tidak mendapatkan upah karena itu adalah kewajiban pribadi yang harus dikerjakan, bukan bagian dari pekerjaan.

Selain pekerjaan, ia juga mendapat insentif lain, jika tidak berantem dengan adiknya diberikan tambahan 2000 rupiah. Maka, jika semua pekerjaan yang ada di list dikerjakan, Alma bisa sekolah dengan mengantongi uang jajan 10.000 rupiah. Jumlah yang lumayan cukup untuk anak kelas 5 SD. Ia biasanya jajan 5000 rupiah dan sisanya ditabung ke guru atau disimpan untuk jajan makanan di rumah yang selalu banyak tukang makanan lewat.  Selain insentif, diterapkan juga denda berupa pemotongan upah dari hasil kerjanya. Jika galak ke adiknya sampai berantem dipotong 1000 rupiah, jika tidak belajar dipotong 1000 rupiah. Umumnya ada saja potongan, meskipun tidak setiap hari, karena namanya juga anak-anak. Terutama membuat nangis adiknya paling hobi sepertinya. Itu karena adiknya laki-laki sehingga di rumah sudah kayak Tom and Jerry. Rata-rata uang jajannya berkurang 1000-2000 rupiah karena adanya denda. Tapi jika tidak melakukan kesalahan utuh 10.000 rupiah.

Begitulah sistem di rumah itu berlaku dan diterapkan sejak Alma menginjak Sekolah Dasar. Untuk adiknya, Nadra, masih belum diberlakukan, karena baru masuk TK. Anak-anak dididik sejak dini untuk mengenal konsep “kerja”, bahwa untuk memenuhi keinginan, jajan, dan mendapatkan uang harus ditempuh melalui kerja. Meskipun awalnya susah menerapkan karena terkesan memperalat anak seakan-akan menjadikannya “pembantu” tapi sesungguhnya banyak hikmah positifnya. Alma pun protes, karena mungkin sudah banyak nonton sinetron, dan berujar “emangnya Alma pembantu apa…” . Tapi peraturan harus ditegakkan, Alma pun perlahan-lahan mengikuti ritme rutinitasnya.

Awalnya peraturan itu diterapkan karena membaca buku yang diberikan sebagai kado pernikahan dulu, dan ketika dibaca isinya bagus. Memberikan informasi berharga mengenai salah satu pola parenting di Amerika. Pengarangnya adalah Linda & Richard Eyre, judulnya “3 Langkah Menuju Keluarga yang Bahagia” dan judul satunya “Mengajarkan Nilai-nilai Pada Anak“. Buku Richard & Linda Eyre ini merupakan buku best seller di Amerika, diterjemahkan dan diterbitkan oleh tim Gramedia PBU dari judul asli Parenting Values.

Buku tersebut mengajarkan tentang bagaimana cara mendidik kemandirian anak. Linda dan Richard Eyre adalah suami-isteri yang menulis buku disertai kisah-kisah nyata dari pengalaman mereka berdua, yaitu bagaimana mereka mendidik anak-anak yang berjumlah 9 anak dengan berbagai sifat yang berbeda (ternyata ada juga di Amerika yang anaknya banyak).

Pertanyaan mendasarnya, apakah betul jika dalam satu keluarga anaknya diberikan didikan untuk bekerja berarti menjadikannya pembantu? Lantas apa bedanya kalau begitu dengan para orang tua di jalanan yang menyuruh anak-anaknya kerja di lampu-lampu merah? Itu namanya eksploitasi dong?

Kekhawatiran terhadap hal ini sangat wajar, dan jika muncul pertanyaan tersebut, berarti yang bertanya adalah orang tua yang sayang sama anaknya. Sudah sangat bagus masih sayang sama anak, daripada orang tua yang menggugurkan anaknya. Perlu diingat di sini, bahwa membiasakan anak kerja bukan berarti mengeksploitasi anak. Anak harus tetap diberi keleluasaan untuk bermain. Karena tujuan utamanya bukan pada membantu orang tuanya tetapi untuk menumbuhkan kemandirian anak. Meskipun di rumah tidak ada pembantu sehingga ibunya sibuk mengurus rumah, tapi pada saat waktunya bermain, ibunya pun tidak boleh mengganggu waktu bermain Alma. Jadi ada keseimbangan antara tugas kemandirian melalui kerja sukarela anak dengan kewajiban orang tua yang harus mendukung waktu bermain anak. Karena main pada masa kanak-kanak sangat berguna untuk menumbuhkan jiwa bersosialisasi.

Terkadang orang tua pun terlalu protektif terhadap anaknya, sehingga selalu merasa takut jika mencoba sesuatu yang mungkin dapat membawa dampak negatif pada anak. Bahkan pada banyak aspek, di antaranya dari mulai makanan, pemilihan teman bermain, pemilihan kebiasaan, sampai pada hal-hal kecil orang tua ikut turut campur. Orang tua yang over protektif pasti memperlakukan anak sebagai sebuah telur emas yang harus benar-benar dijaga. Sekali lagi, ini tidak salah, masih bagus karena menunjukkan rasa sayangnya pada anak. Namun, seperti diungkapkan oleh Linda & Richard Eyre, jika harus memilih, apakah orang tua mau anaknya mandiri atau tergantung sama orang tua? Pasti jawabannya ingin mandiri. Lalu kenapa takut mencoba membiasakan anak bekerja. Toh, bekerjanya juga bukan bekerja yang keras, melainkan bekerja kegiatan sehari-hari yang juga dikerjakan oleh anak-anak lain. Bedanya, anak lain tidak ada rangsangan reward dan punishment sehingga tidak memiliki efek apa-apa selain orang-tuanya merasa terbantu, yang ini memiliki rangsangan reward &punishment sehingga anak menjadi termotivasi.

Pengaruh positif dari pembiasaan kerja pada anak ini dapat dilihat, yaitu Alma bangga jika berujar kepada teman-temannya bahwa uang yang di miliki adalah hasil kerja bukan merengek-rengek meminta. Walaupun ketika ditanya sama temannya, “kerja di mana?” Ia menjawab, “kerja sama mamah dan bapakku”. Teman-temannya mentertawakan. Tapi ia bilang, “beneeer ga bohong, kan aku tiap hari bantu-bantu orang tua, ada upahnya”. Dijawab sama teman-temannya, “Saya juga sering kalau bantu-bantu orang tua sih.” “Ya salah sendiri ga minta upah, emangnya hidup ini ada yang gratiiisss”, timpal Alma menirukan kata-kata ibunya.**[harja saputra]

 

Dimuat juga di Kompasiana: http://edukasi.kompasiana.com/2011/07/26/membiasakan-anak-bekerja-salahkah/

Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: [email protected]