Connect with us

Sosbud

Minal ‘Aidin wal Faizin Bukan Mohon Maaf Lahir Bathin

Published

on

Illustrasi: pandhawa-tiga.blogspot.com

Kalimat Minal ‘Aidin wal Faizin disandingkan dengan kalimat “Mohon maaf lahir dan bathin” ini juga memberikan pemahaman pada pembaca bahwa kalimat Arab itu artinya adalah mohon maaf lahir dan bathin, padahal berbeda jauh artinya. Minal ‘Aidin wal Faizin artinya adalah “Semoga kita termasuk dari orang yang kembali (pada fithrah) dan orang-orang yang menang (mengalahkan hawa nafsu)”.

Ungkapan menyandingkan kata-kata Arab Minal ‘Aidin wal Faizin dengan bahasa Indonesia “Mohon Maaf Lahir & Bathin” banyak terpampang di berbagai media, spanduk, kartu lebaran, televisi, bahkan sering diucapkan oleh mayoritas umat Muslim di Indonesia.

Ketika dua bahasa berbeda disandingkan, maka hal ini seolah-olah keduanya artinya sama, yang satu bahasa Arab yang satunya bahasa Indonesia. Seperti kata welcome dalam bahasa Inggris, disandingkan dengan kata Ahlan wa Sahlan dalam bahasa Arab, dan disandingkan dengan kata “Selamat Datang”. Ini sering kita jumpai di bandara atau di tempat-tempat wisata. Dan memang artinya sama.

Namun, ketika pada kalimat Minal ‘Aidin wal Faizin disandingkan dengan kalimat “Mohon maaf lahir dan bathin” ini juga memberikan pemahaman pada pembaca bahwa kalimat Arab itu artinya adalah mohon maaf lahir dan bathin, padahal berbeda jauh artinya. Minal ‘Aidin wal Faizin artinya adalah “Semoga kita termasuk dari orang yang kembali (pada fithrah) dan orang-orang yang menang (mengalahkan hawa nafsu)”.

Kalimat Minal ‘Aidin wal Faizin sesungguhnya tidak tepat juga diungkapkan karena berupa potongan kalimat dari kalimat lengkapnya:
جَعَلَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ الْفَائِزِيْنَ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ

Ja’alnallahu wa iyyakum minal ‘aidin wal faizin taqabbalallahu minna wa minkum“..”Semoga Allah SWT menjadikan kita semua sebagai hamba-hamba-Nya yang kembali (kepada fitrah) dan sebagai hamba-hamba-Nya yang menang (melawan hawa nafsu). Dan semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kita semua.”

Meskipun salah dari arti kebahasaan, namun sesungguhnya bisa juga dimengerti ungkapan minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan bathin, jika dipahami dari sudut pandang budaya. Kedua bahasa itu datang dari dua budaya yang berbeda. Yang satu dari budaya Arab dan satunya asli dari budaya Indonesia. Memohon maaf menjelang puasa dan terutama lebaran adalah asli dari budaya Indonesia. Tidak ada sebetulnya budaya meminta maaf pada budaya Arab. Di Arab sendiri, kalimat yang sering dipakai justru bukan meminta maaf tetapi ungkapan Iedul Mubarak (selamat hari raya yang diberkati). Ungkapan celebration.

Di sinilah terjadi akulturasi budaya, antara Arab dan budaya Indonesia. Sejak kapan minal aidin wal faizin diartikan mohon maaf lahir dan bathin? Mengenai sejak kapannya, yaitu sejak Islam tersebar di tanah air. Karena ungkapan ini sudah membudaya begitu kental dari tahun ke tahun. Ini adalah strategi penyebaran agama melalui kultural sebagaimana dianut oleh para Wali Songo. Dan inilah sesungguhnya metode yang paling efektif. Jangan dihakimi bahwa ungkapan itu salah. Memang salah secara kebahasaan, tetapi inilah identitas asli Muslim Indonesia. Tidak berhenti di bahasa tetapi memaknainya dalam arti yang berbeda.

Meminta maaf dalam budaya kita sangat melekat, berbeda dengan budaya Arab. Namun, saking melekatnya dalam budaya kita, kata maaf bahkan berubah menjadi kata yang artifisial. Tujuan dari para Wali Songo menyandingkan kata maaf (bukan ungkapan celebration) dengan perayaan hari raya Idul Fitri sesungguhnya sangat mulia, yaitu bersifat sosial. Ritual puasa yang sangat personal (karena tidak ada seorang pun yang tahu seseorang itu puasa hanya yang bersangkutanlah yang tahu) tetapi ujungnya diikuti dengan ritual sosial, meminta maaf kepada orang lain. Sungguh indah, jika dipahami secara baik. Inilah keberagamaan yang hakiki. Tetapi jika tidak dipahami dengan baik, arti yang agung ini akan menghilang begitu saja dalam helai kertas, helai kain spanduk, dan helai uang yang ditebarkan dalam budaya lebaran.**[harja saputra]

Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: [email protected]

Advertisement
Klik untuk Berkomentar