Connect with us

Sosbud

Raja Salman, Negara China, dan Tom Hanks

Published

on

Kunjungan Raja Salman ke China (detik.com)

Sore ini baca berita, tidak sengaja sih, pas muncul di dinding Fesbuk. Dari judulnya menggoda untuk diklik, sumbernya pun dari media nasional cukup terpandang, bukan dari media abal-abal semacam Seword atau Piyungan. Tertulis di judul Deal Proyek Rp 86o Triliun, Seberapa Dekat Raja Salman dan Presiden China?”

Setelah diklik, inti berita itu mengabarkan mengenai kesepakatan antara China dan Saudi yang dicapai setelah kunjungan Raja Salman ke negeri tirai bambu. Mayoritas orang yang membagi link ini berkomentar, apapun itu komentarnya, entah nyinyir atau kritik tajam, pokoknya mempertanyakan Raja Salman berkunjung ke Indonesia hebohnya minta ampun tetapi investasinya tidak seberapa. Berbeda dengan di China. Mungkin tidak seheboh seperti di sini, tetapi investasinya ratusan triliun.

Kalau saya memandangnya sangat simpel, memang sudah tahu karakter orang Arab. Apalagi jika dipertanyakan seperti judul di berita itu: “Seberapa dekat Raja Arab dengan China?” “Sejak kapan mereka dekat?” Well, jawabannya pasti sangat dekat dan sudah sejak lama.

Karakter orang Saudi terhadap produk China sangat welcome, berbeda dengan karakter orang Iran yang tidak begitu menerima terhadap produk negara China. Orang Iran, kalau beli apa-apa, terutama produk elektronik pasti memprioritaskan Made In Japan, bukan Made In China. Ini dari pengalaman saya.

Kisah kedekatan antar Saudi dengan China ini bisa Anda lihat secara audio-visual pada film tahun 2016 besutan Tom Tykwer yang diangkat dari novel karya Dave Eggars (2012): A Hologram for The King. Dibintangi oleh aktor kawakan Tom Hanks.

Film Hologram of The King (imdb)

Film bergenre drama komedi ini meskipun bukan diangkat dari kisah nyata tetapi inspirasinya banyak diambil dari kesan orang Barat terhadap budaya Arab. Kesan ini bukan muncul begitu saja, tetapi berdasarkan pengalaman bertahun-tahun. Pandangan stereotif memang tidak selalu benar, namun tidak seluruhnya salah.

Bercerita mengenai kisah-kisah lucu Tom Hanks di saat berusaha keras menemui Raja Saudi untuk presentasikan produk hologram terkini dari salah satu perusahaan Amerika. Endingnya ia harus menelan kenyataan pahit. Sudah menunggu berbulan-bulan, di saat sudah presentasikan dan raja pun tertarik, namun kemudian ditelikung dari belakang oleh China. Raja lebih memilih produk China dibanding produk buatan Amrik.

Kritik dan sentilan halus yang diusung dalam film ini mengena banget: bahwa faktor harga bagi orang Saudi does matters. Bukan hanya harga, tetapi China biasanya memberi kado istimewa bagi raja. Di sana tidak ada istilah gratifikasi, yang ada adalah hadiah. Hadiah tidak terlarang di Arab Saudi. Sah-sah saja.

Selain menyajikan kritik sosial terhadap raja, film ini pun menyoroti banyak hal mengenai budaya di sana: kehidupan wanita Arab dan yang lebih menarik adalah budaya telat dan ketidakpastian. Tom Hanks harus menunggu hingga berbulan-bulan untuk menemui raja. Itu dia, seperti saya pernah nulis di status, bahwa orang Arab itu (tidak bermaksud melakukan generalisasi) umumnya dalam berjanji 3B: Bukroh (besok), Ba’dain (nanti) lalu Bablas.

Meskipun sudah dijanjikan bahwa Raja akan menemui Tom Hanks esok hari, sampai berbulan-bulan tak kunjung ketemu. Esok harinya di sana bisa dua hari, seminggu, bahkan bisa berbulan-bulan.

Tom Hanks berakting sangat bagus di film ini. Sebagai bagian dari kritik budaya, di film ini sebagai akibat menunggu raja yang tak kunjung datang, membawanya untuk berkelana. Diceritakan ia menjalin hubungan istimewa dengan seorang janda Saudi yang berprofesi dokter serta berkenalan dengan pemberontak dari kaum ekstrimis.

Ada satu adegan yang saya sendiri tidak setuju pada film ini, yaitu di saat Tom Hanks disusupkan oleh temannya ke kawasan haram, yaitu ke wilayah dekat Masjidil Haram. Kawasan ini tidak boleh dimasuki oleh non-muslim. Film ini terlalu berani masuk ke area sangat sensitif.

Apa inti dari yang ingin saya sampaikan? Intinya lebih baik berdaulat di negeri sendiri, percaya diri pada kemampuan dan sumber daya kita. Itu satu. Keduanya, memahami karakter dan budaya Arab itu satu keharusan. Ini penting, agar dalam melakukan negosiasi dengan mereka memahami kultur sehingga bisa diantisipasi. Contohnya, dalam masalah haji. Dengan jumlah jemaah haji terbesar setiap tahun, tetapi fasilitas yang diperoleh masih kalah jauh dibanding negara lain.

Walhasil, selamat merenungi dan jangan lupa tonton film itu. Highly Recommended!**[harjasaputra.com]

Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: [email protected]