Connect with us

Nasional

Review Film The Jungle Book: Ketika Manusia Identik dengan Pemilik Red Flower

Published

on

Ilustrasi: screenrant.com

Film baru di bulan April 2016 untuk kategori SU (Semua Umur), The Jungle Book, berhasil mencuri perhatian para penggemar film. Di hari pertama pemutaran film ini, tiket laris terjual. Film besutan sutradara Jon Favreau, yang juga terlibat sebagai executive producer di film Iron Man I sampai Iron Man 3, merupakan film dengan rating tinggi di IMDB. IMDB menyematkan nilai rating sebesar 8.4, jauh di atas film Superman v Batman yang hanya mengantongi rating 7.7.

Film ini mengingatkan kita dengan kisah Tarzan yang dibesarkan oleh Kera di hutan. Bedanya di film The Jungle Book ini sosok anak yang dibesarkan oleh hewan bernama Mowgli dan dibesarkan oleh Serigala. Dan tak ada kisah percintaan antara Tarzan dan Jane, yang ada adalah kisah persahabatan antara Mowgli dengan beruang dan si panther hitam. 

Film ini kental dengan budaya India. Gajah sangat dihormati oleh seluruh penghuni hutan. Setiap kali bertemu gajah harus menunduk untuk memberi hormat. Ini merupakan budaya India sebagai cerminan dari budaya Hindu. Selain tentunya sosok Mowgli yang wajahnya India banget, dijuluki oleh para hewan sebagai si “man-cub”, si anak manusia yang dibesarkan oleh serigala.

Peran Neel Sethi sebagai Mowgli di film ini luar biasa. Kita dibawa seakan mengalami langsung detik tiap detik petualangannya di hutan, ketika dikejar-kejar oleh kejaran musuh utamanya, raja hutan, si Harimau yang sangat ingin dirinya mati. Juga di scene-scene lucu antara dirinya dengan beruang si pemalas yang pandai merayu dengan bahasa-bahasa diplomatis tingkat tinggi, penonton diajak tertawa mendengar percakapan antara keduanya.

Sengaja saya tidak menceritakan detail tiap adegan agar Anda menonton sendiri film bagus ini. Ada pesan utama film ini yang diusung dan dijadikan pesan sentral. Apa itu? Yaitu pesan tentang bahaya api, yang disebut dalam film ini dengan “the red flower”. Red flower dicitrakan sangat sakti dan ditakuti oleh semua penghuni hutan. Bahkan, si raja monyet sangat ingin menguasai api untuk berkuasa di hutan tapi kandas.

Red flower, si bunga merah, alias api, dipesankan pada Mowgli agar jangan didekati karena berbahaya. Pesan ini mudah ditangkap, yaitu agar manusia memelihara hutan, tidak membakar seenaknya, karena akan merusak ekosistem. Pesan untuk menjaga lingkungannya sangat mengena. Penting untuk direnungkan oleh siapa? Oleh kita sebagai manusia. Karena hanya manusia yang mempunyai senjata red flower, hewan tidak ada yang mampu menciptakan red flower. 

Pertempuran Mowgli melawan si Harimau pun sangat dramatis. Seekor hewan buas melawan anak kecil. Puluhan serigala dan panther saja kalah melawan si harimau ini. Apalagi hanya si anak kecil. Tetapi di situlah kelebihan manusia. Ia punya akal dan kecerdikan. Dan Mowgli sangat cerdas menggunakan kecerdikannya dalam melawan si harimau.

Intinya, film ini sangat bagus. Saya diajak oleh teman untuk nonton film ini dan tidak kecewa. Yes..I do happy. Penuh keindahan menyaksikan pesona alam yang masih terjaga secara alami. Air terjun tinggi, pohon rindang, hewan-hewan berkeliaran, setting film yang sangat apik. Akankah manusia terus menggunakan red flower untuk merusak hutan? Please dont.**

Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: [email protected]