Connect with us

Nasional

Uang Warga 4 Milyard Raib Dibawa Kabur Bank Gadungan

Published

on

Sumber: Shutterstock (Admin Kompasiana)

Warga Desa Sukahaji, Majalengka, Jawa Barat harus merelakan uang tabungan mereka sebesar Rp. 4 Milyard lebih dibawa kabur oleh pengurus pengumpul tabungan warga. Uang sebesar itu adalah tabungan 2000 lebih warga Desa Sukahaji yang ditabungkan setiap hari untuk keperluan lebaran. Ulah nakal dari pengurus pengumpul tabungan itu mengakibatkan warga berlebaran seadanya.

Di Desa Sukahaji ada kebiasaan di antara warga untuk menabung setiap hari seadanya, ada yang 2000 rupiah per hari, ada yang 5000 rupiah per hari, tergantung dari kemampuan masing-masing, untuk keperluan hari raya Lebaran. Sekadar untuk membeli kue lebaran, daging, pakaian, atau barang-barang keperluan lain. Salahnya uang itu dikumpulkan bukan oleh bank resmi atau koperasi, tetapi oleh perorangan (bank gadungan).

“Lebaran yang lalu tidak ada masalah, uang diberikan sesuai dengan jumlah yang ditabung. Paling dipotong 5 persen untuk jasa pengumpul. Namun entah kenapa tahun ini orangnya kabur, tidak tahu pergi ke mana”, kata ibu saya yang juga ikut menabung.

Peristiwa itu sudah dilaporkan kepada Polisi oleh warga namun pelaku sampai saat ini masih belum ditemukan.

Selain menabung uang, di warga Desa Sukahaji juga ada kebiasaan arisan barang untuk keperluan lebaran. Setiap warga bebas menentukan barang-barang apa saja yang diperlukan, ada yang minta barang elektronik, sofa, lemari es, atau barang-barang lain. Barang biasanya diantar 1 bulan sebelum lebaran. Uangnya dicicil setiap hari atau setiap minggu. Dari mulai cicilan seribu rupiah per hari, dua ribu rupiah per hari, tergantung dari barang yang diminta. Kebetulan kolektornya adalah ibu saya. Untuk barang ini tidak ada masalah. Tidak pernah dibawa kabur, karena pengumpul adalah penduduk asli desa itu. Adapun pengumpul uang tabungan adalah pendatang yang sering menawarkan pinjaman uang kepada warga.

“Akibat dari dibawa kabur uang itu, jadinya sekarang warga tidak mau lagi arisan barang yang dikelola oleh ibu, karena katanya takut dibawa kabur juga. Padahal sudah 7 tahun tidak ada masalah”, kata ibu saya.

Kejadian membawa kabur uang warga ini adalah kejadian yang kerap menimpa jika mempercayakan pengumpulan uang bukan pada lembaga resmi. Di beberapa wilayah sering diberitakan hal serupa. Lembaga resmi, seperti bank, potongannya terlalu banyak, biaya administrasi dan sebagainya. Adapun Koperasi masih belum ada. Saya menyarankan agar dibentuk koperasi saja dan pengurusnya harus penduduk asli agar bisa dikontrol oleh warga. Kejadian raibnya tabungan warga semoga bisa dijadikan pelajaran. Semoga koperasi ini dapat terlaksana.**[harja saputra]

Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: [email protected]