Connect with us

Parlemen

Lagu Lama Harga Sembako

Published

on

Foto: harjasaputra

Harga kebutuhan bahan pokok (sembako) menjelang puasa dan lebaran terus merangkak naik. Komoditas seperti beras sudah mengalami peningkatan sebesar 5% dari harga normal. Daging sapi naik tajam hingga 30%, gula pasir pun demikian, dan kebutuhan pokok lain.

Hendri Saparini, pengamat ekonomi dari Econit, mengatakan masalah kenaikan harga sembako ini terus berulang setiap tahun hingga ia meragukan mengenai kebijakan pemerintah yang dianggapnya seolah tak pernah menganggap bahwa masalah pangan ini adalah masalah strategis.

 “Kita jadi bertanya hal yang paling fundamental: apakah pangan ini merupakan masalah strategis atau bukan? Jika pertanyaan ini terjawab seharusnya diikuti dengan implementasi yang konkret, seperti kebijakan, pelaksana, dan juga anggaran yang cukup. Kita duduk di sini, pembicaranya sama dan temanya juga sama, berarti masalah pangan ini jalan di tempat. Pangan sebagai masalah strategis hanya jargon belaka”, ujar Hendri Saparini pada acara dialog Polemik Sindo Radio bertajuk “Lagu Lama Harga Sembako” yang digelar di Warung Daun Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (21/7/2012).

Pembicara lain pada dialog tersebut adalah Abdurrahman Abdullah, anggota DPR Komisi VI. Ia mengatakan bahwa masalah pertanyaan dari Hendri Saparini adalah pertanyaan yang fundamental. Menurutnya semua sepakat bahwa masalah pangan ini adalah strategis. Kenaikan harga selain dari pengaruh tingginya demand juga dipengaruhi aspek lain yang harus menjadi perhatian serius dari lembaga-lembaga pemerintah yang memiliki tanggung jawab terhadap hal ini. Pengawasan mutlak diperlukan karena para spekulan juga berpengaruh terhadap kenaikan harga ini.

 “Masalah neraca pangan seperti neraca beras, gula, dan daging harus menjadi perhatian pula. Selama ini neraca masih simpang siur, sehingga menimbulkan kebijakan yang timpang. Neraca beras misalnya, hingga tahun sekarang masih belum diputuskan oleh Badan Ketahanan Pangan (BKP) dan Kementerian Pertanian mengenai neraca beras. Begitu juga neraca gula. Jika neraca yaitu ketersediaan dalam negeri dan angka kebutuhan nasional sudah diketahui pasti maka kebijakannya adalah perlu atau tidaknya impor dan berapa jumlahnya akan bisa diputuskan”, tegas Abdurrahman Abdullah.

Dirut Perum Bulog menyoroti masalah kenaikan harga sembako ini dari masalah ketersediaan beras sebagai komoditas utama yang menjadi tanggung jawab Bulog. “Bulog dengan statusnya saat ini sebagai Perum sejak dirubah tahun 2003 menjadi tidak leluasa bertindak. Tetapi bukan berarti harus dikembalikan seratus persen seperti dahulu karena banyak hal-hal negatif. Bulog harus menjadi lebih baik dari dulu tetapi fungsinya adalah sebagai penyangga stok sehingga dalam kondisi seperti sekarang dapat diandalkan”, ungkap Soetarto Alimoeso.

Hal yang sama didukung oleh pernyataan Abdurrahman Abdullah bahwa sejak dialog tahun lalu di tempat yang sama ia selalu mendukung dikembalikannya peran Bulog, tidak melulu mengurusi beras tetapi juga produk strategis lain seperti gula, minyak goreng dan lainnya.

Ngadiran (Sekjen Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia) di awal paparannya mengatakan, “Mungkin ini agak di luar topik tapi perlu disebutkan bahwa merebaknya pasar-pasar modern adalah “rayap” bagi pasar tradisional sehingga konsumen malas untuk pergi ke pasar tradisional. “Mendirikan pasar modern adalah hak mereka, tetapi harus dipikirkan juga nasib dari para pedagang di pasar tradisional”, tambahnya.

Ia kemudian menyoroti mengenai realitas bahwa pedagang pasar tradisional umumnya sering disalahkan, bahwa pedagang pasar banyak yang bermain mempermainkan harga.

“Bagaimana mungkin pedagang pasar tradisional yang hanya punya ruko 2 x 4 meter bisa mempermainkan harga. Ia tidak mungkin bisa menyimpan stok banyak. Yang mempermainkan harga adalah spekulan yang memiliki modal besar bukan pedagang pasar”, tegas Ngadiran.

Dialog Polemik “Lagu Lama Harga Sembako” ditutup oleh pernyataan Hendri Saparini bahwa jangan sampai di tahun depan kita bertemu lagi di tempat yang sama ketiga kalinya untuk membahas hal sama. Ini harus dicarikan solusi yang menyeluruh. Operasi pasar bukan solusi, sifatnya hanya sementara, perlu payung kebijakan yang dapat mengatasi masalah harga sembako ini ke akar permasalahannya.**[foto dan reportasi: harja saputra]

Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: [email protected]

Advertisement
Klik untuk Berkomentar