Connect with us

Unik

Uniknya Anak-anak Perenang Koin di Pelabuhan Khayangan Lombok

Published

on

Anak-anak perenang koin (harjasaputra.com)

Siang itu (Jumat, 20/9), pukul 13.00 WITA, matahari bersinar terik. Saya melihat jam tangan, hampir 2 jam perjalanan dari Mataram menuju Pelabuhan Khayangan di Lombok Timur. Terlihat kapal-kapal penumpang maupun barang berlabuh di dermaga. Pelabuhan Khayangan, penghubung antara Pulau Lombok dengan Pulau Sumbawa. Sudah lama saya tak menginjakkan kaki di sini. Dulu di tahun 2009 sering bolak-balik melalui pelabuhan ini. Tak terlihat banyak perubahan, ibu-ibu penjaja makanan, tukang kopi di pinggir pelabuhan masih seperti empat tahun lalu.

Namun ada yang berbeda. Di saat saya sudah menaiki kapal terlihat banyak anak-anak kecil bertelanjang dada. Hanya memakai celana pendek berdiri di bawah jembatan dekat dengan kapal yang akan berangkat. Rupanya anak-anak perenang koin. Empat tahun lalu saya belum melihat mereka. Penumpang kapal menghampiri sisi kapal untuk melihat aksi anak-anak cilik umur 10 tahunan bahkan ada yang terlihat masih umur 8 tahunan meloncat ke laut di saat para penumpang melemparkan uang.

Saya pun tertarik untuk melihat aksi mereka. Segera menghampiri sisi kapal dan memperhatikan. Tubuh anak-anak yang sudah hitam kelam karena sering diterpa sinar matahari dan asinnya air laut. Semangat mencari uang dengan terjun dan lomba berenang untuk meraih uang.

Tunggu dulu. Setelah saya perhatikan, ternyata ada yang unik. Di Pelabuhan Khayangan ini, namanya saja anak-anak perenang koin tapi sesungguhnya mereka tidak suka uang koin.
“Ayo bang..ibu..bapak..lempar uangnya. Buruan..sebelum kapalnya berangkat”, teriak anak-anak perenang koin.

Saya keluarkan uang koin recehan dan berniat melemparkan ke arah mereka. Ada uang logam seribuan dua keping dan lima ratusan dua keping, sisa kembalian beli makanan di perjalanan. Namun kemudian mereka berteriak lagi setelah melihat uang yang saya pegang:

“Yaaah bang jangan uang koin..lembar ribuan aja..”

“Hah? Uang kertas maksudnya? Nanti basah gimana?”

“Nggak apa-apa..lempar saja pokoknya tapi jangan uang koin itu”

Segera saya keluarkan uang kertas dari dalam saku celana: lima ribuan satu lembar dilipat dengan uang koin yang tadi sudah disiapkan. Uang koin jadinya berfungsi sebagai pemberat agar uang kertas bisa jauh sampainya ketika dilempar.

Wah, belum dilempar pun mereka sudah semangat melihat uang lima ribuan. Berlarian ke tepi jembatan agar bisa lebih dekat untuk terjun dan mengejar uangnya. Berebut tempat start persis seperti lomba balap lari. Malangnya, anak kecil yang masih 8 tahunan terinjak kakinya dan jatuh. Menangislah seketika. Lututnya luka. Kasiaaan dalam hati saya berujar. Tapi tidak bisa menolong karena lagi di atas kapal sementara mereka jauh di jembatan bawah sana.

Segera saya lempar uang itu dan byuuuuuurrr… dua orang anak yang sudah di pinggir jembatan terjun ke air laut dan berlomba berenang untuk mendapatkan uang yang dilempar. Ternyata benar, yang mereka kejar adalah uang kertasnya. Uang koin yang ikut juga dilempar bersama uang kertas tidak diburu. Jatuh begitu saja ke dasar laut. Entah mereka tidak mau menyelam atau memang sudah tahu nilai uang.

Kapal pun segera berlayar menuju pelabuhan Pototano di Sumbawa. Mata masih melihat ke kerumunan anak-anak perenang koin. Setelah mereka mendapatkan uang kertas itu, mereka menjemurnya di atas batu di pinggir pelabuhan. Dalam hati berujar: “Hidup itu keraaaas saudara-saudara…!” [harja saputra]

Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: [email protected]