Connect with us

Riset

Suka-Duka Investigasi Ke Daerah Konflik

Published

on

Suasana Pelabuhan Sape Pasca kerusuhan

Tanggal kejadian adalah hari Sabtu (24/12/2011), hari libur. Biasanya hari libur malas rasanya untuk melihat berita. Tapi hari itu dipaksa untuk melihat berita karena seorang teman memberikan link tentang kerusuhan tersebut melalui pesan jaringan Beri Hitam. Bima, 3 bulan sekali selalu saya singgahi karena bos saya (Anggota DPR-RI) yang kebetulan Dapil NTB.

Tanggal kejadian adalah hari Sabtu (24/12/2011), hari libur. Biasanya hari libur malas rasanya untuk melihat berita. Tapi hari itu dipaksa untuk melihat berita karena seorang teman memberikan link tentang kerusuhan tersebut melalui pesan jaringan Beri Hitam. Bima, 3 bulan sekali selalu saya singgahi karena bos saya (Anggota DPR-RI) yang kebetulan Dapil NTB.

Berita itu telah merubah hari libur menjadi hari kerja. Rencana hari itu mau mengadakan acara khitanan anak kedua saya, Nadra Zaki Saputra. Tapi karena kerusuhan tersebut akhirnya diundur. Apalagi mertua inginnya mengundang saudara dan para tetangga dalam acara sunatan itu. Diurungkan acara itu dan dimundurkan 2 hari berikutnya. Istri dan anak diungsikan dahulu ke rumah mertua. Acara khitanan anak akhirnya dilaksanakan alakadarnya saja, yang penting anak dikhitan dan selamat.

Sabtu itu saya berusaha mengumpulkan informasi dari jarak jauh dahulu, kontak sana-sini ke tim yang ada di Bima. Karena saya menduga pasti bos tanya tentang kerusuhan itu. Benar saja, bukan hanya tanya tapi diminta langsung turun ke Bima untuk investigasi, mengumpulkan informasi sedetailnya. Bahkan, instruksi untuk turun ke lapangan itu, ternyata menjadi resmi. Saya dimasukkan menjadi bagian dari Tim Pencari Fakta (TPF) Fraksi PD. Sudah terbayang beban kerjanya pasti luar biasa. Karena biasanya, bawahan paling cape daripada bos. “Tak apalah, memang ini sudah menjadi tugas saya dan ini menyangkut kepentingan orang banyak”, pikir saya dalam hati.

Honestly speaking, prinsip utama yg selalu kupegang adalah, “Jangan mudah percaya dengan berita. Berita adalah data sekunder. Selalu ada bias dari realitas yang sebenarnya”. Contohnya adalah mengenai berita tentang kasus itu yang sangat simpang siur, awalnya dikatakan yang meninggal 12 orang, lalu 9 orang, berkurang lagi menjadi 5 orang, dan terakhir 2 orang (meskipun versi Komnas HAM 3 orang). Banyak lagi kesimpangsiuran informasi lain. Karena sudah bercampur dengan framing dan kepentingan politis.

Dua hari kemudian. Sebagian tim sudah turun ke Bima. Saya tunaikan dulu kewajiban keluarga. Khinat anak saya. Karena sudah merengek-rengek minta dikhitan.

Semua informasi dari tim di daerah sudah dikumpulkan. Tapi tetap belum memuaskan.
Tibalah waktu untuk berangkat ke Bima. Karena dekat dengan tahun baru tiket sulit untuk didapat, namun masih beruntung dapat tiket meskipun tidak langsung ke Bima. Hanya sampai Lombok. Terpaksa dari Lombok menggunakan jalur darat. Perjalanan Lombok-Bima berjarak 400 KM lebih. Dan harus menyeberangi laut dengan kapal dari Pelabuhan Khayangan di Lombok Timur menuju Pelabuhan Pototano, Sumbawa Barat. Dengan menaiki bus malam, perjalanan ditempuh selama 13 jam.

Tiba di Kota Bima shubuh pukul 5. Dari Kota Bima segera menuju Pelabuhan Sape, Kab. Bima. Meskipun mata masih perih karena belum tidur karena di bis susah tidur disebabkan jalan yang rusak dan berkelok-kelok. Ditambah AC-nya yang sedingin salju. Alergi AC. Tapi karena tugas langsung menuju ke TKP.

Proses pencarian informasi pun dimulai. Menemui berbagai pihak yang ada di lokasi pelabuhan. Untuk mendapatkan akses ke sumber primer tidak mudah. Misalnya untuk menggali keterangan dari koordinator aksi, ini perlu kesabaran. Karena masyarakat Kec. Lambu masih dalam suasana trauma. Masih mencekam. Kiri-kanan jalan masih terlihat banyak kayu-kayu blokade jalan. Mobil tidak bisa melintas. Hari pertama hanya berhasil menggali informasi dari pihak masyarakat yang ada di sekitar Pelabuhan Sape. Untuk masuk ke wilayah Kec. Lambu masih belum bisa karena diblokade.

Besoknya datang lagi ke TKP. Terlihat jalan sudah tidak lagi diblokade. Pelabuhan pun sudah normal. Akhirnya berhasil menemui salah seorang koordinator aksi. Dari situ sumber-sumber informasi didapatkan dan diajak juga ke informan lain. Di antaranya FRAT, tokoh masyarakat, dan tokoh pemuda yang ikut langsung dalam aksi unjuk rasa.

Dalam menggali informasi dari para informan di atas pun ternyata tidak mudah. Malah sempat diwarnai adu mulut dengan para mahasiswa dari FRAT. Karena dianggap kami datang mewakili DPR dan partai. Mereka mengatakan, tidak percaya lagi pada DPR dan partai. Di sini dibutuhkan retorika dan teknik negosiasi tersendiri. Menghadapi mahasiswa butuh kejelian dalam mengolah argumentasi. Sangat maklum, karena dulu juga sewaktu saya mahasiswa seperti itu. Bawaannya keras yang penting begini, pokoknya begitu, padahal banyak celah argumentasi yang tidak logis.

Setelah informasi dari pihak yang kontra tambang (masyarakat pengunjung rasa) lengkap, selanjutnya adalah menggali informasi pembanding dari pihak Pemda selaku pemegang kebijakan dan yang pro-tambang. Untuk akses ke informan ini tidak terlalu sulit, karena menggunakan jalur birokrasi di daerah. Umumnya utusan dari pusat kalau ke daerah mendapat akses kemudahan tersendiri.

Informasi dari pemda sudah didapatkan. Giliran menggali informasi dari pihak kepolisian. Ini pun tidak terlalu sulit. Gubernur NTB kebetulan berkunjung juga. Dari pertemuan bersama gubernur yang berkunjung ke bima diperoleh informasi sekaligus dari bupati, gubernur, dan kapolres Bima.

Aspek-aspek politis, sosial, dan kronologis yang sesungguhnya lalu dipetakan. Informasi yang tidak dipublikasikan sangat banyak. Dan itu yang bisa mengurai mengenai pemicu kerusuhan. Semua itu lalu dijadikan laporan. Sebagian hasil temuan sudah saya publikasikan ke publik melalui Kompasiana, meskipun masih banyak yang bersifat informasi rahasia yang tidak bisa dipublikasikan. Hal ini akan menjadi bahan pertimbangan tersendiri untuk mengambil kebijakan, baik dari segi hukum, legislasi, maupun aspek lain dalam upaya memberikan solusi tepat menyikapi insiden tersebut.**[harjasaputra.com]

Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: [email protected]

Advertisement
Klik untuk Berkomentar