Connect with us

Cerita Foto

Tips Memotret Dari Pesawat

Published

on

Shot from the air (harjasaputra)

Bagi Anda yang bepergian dengan pesawat, memotret dari dalam pesawat atau aktivitas penerbangan, bisa menjadi pilihan untuk membunuh rasa jenuh di dalam pesawat. Menunggu tanpa ada aktivitas, apalagi jika pesawat yang ditumpangi bukan termasuk full service, sangat membosankan.

Memotret aktivitas penerbangan bisa dimulai sejak kita berada di ruang tunggu. Lalu-lalang orang yang berada di ruang tunggu bisa menjadi obyek jepret.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika kita memotret di dalam pesawat:

1. Hendaknya memotret ketika lampu sabuk pengaman sudah dimatikan. Memotret pada saat take off atau pada saat landing masih simpang-siur tentang boleh-tidaknya. Untuk safety reason lebih baik tidak melakukan.

2. Jangan coba-coba memotret pramugari yang sedang melakukan demo penggunaan alat keamanan pesawat. Saya pernah mencoba memotret pramugari, lumayan untuk stok foto pikir saya, tapi setelah itu saya dihampiri oleh pramugari itu dan ditegur. “Maaf mas, dilarang memotret demo penggunaan alat”, ujar pramugari itu dan menyuruh saya untuk menghapus foto yang sudah diambil. “Siap mbak, saya hapus”. Sambil memperlihatkan kamera dan memijit tombol delete. Padahal dalam hati berujar, “Ah si mbak, pake software bisa dikembalikan lagi itu foto yang sudah dihapus”.

Itu beberapa hal yang perlu diperhatikan. Berikutnya, berikut ini adalah cara bagaimana memotret dalam pesawat dari aspek teknis:

1. Pilih tempat duduk yang dekat dengan jendela.

2. Lihat kondisi kaca pesawat. Perlu kaca jendela yang bersih agar hasil foto maksimal. Jika terlihat kotor, jangan malu untuk melap kaca. Meskipun tak dibayar jadi cleaning service pesawat tak apalah. Berkorban sedikit.

3. Untuk menghindari bias dari pantulan cahaya melalui kaca, tempelkan ujung lensa rapat dengan kaca jendela.

4. Pilih lensa zoom atau tele. Lensa kit 18-55, 18-70, 18-105 bisa digunakan. Jika Anda punya lensa manual dengan rentang focal tele (105mm ke atas) lebih baik gunakan lensa manual karena ketajaman hasil jepret lebih tajam dibanding lensa kit. Beda lagi cerita jika lensa “gelang merah” atau “gelang emas”.

5. Atur kamera di speed tinggi. Speed tinggi penting apalagi jika lensa yang digunakan tidak ada fasilitas VR atau IS-nya. Diafragma (f) atur di diafragma 8 atau sesuai dengan kondisi. Diafragma di angka 8 tujuannya agar diperoleh DoF (Deep of Field) yang lebar. Jika lebih dari 8 otomatis speed menjadi melambat dan gambar akan goyang. Sedangkan jika kurang dari 8, kedalaman obyek yang jauh dari pandangan akan tertangkap tidak jelas alias buram.

6. Jika Anda duduk dekat dengan sayap pesawat atau turbo (apa itu namanya yang untuk jet), dan tidak bisa leluasa memotret obyek. Ikutkan saja sekalian sayap itu.

7. Lebih indah jika bisa bepergian dengan pesawat di pagi atau sore hari di saat langit kemerahan. Saya sendiri masih belum kesampaian.

Ketika sampai di tempat tujuan, mata harus tetap waspada, obyek yang indah sering melintas. Di saat menunggu bagasi, memotret aktivitas di ruang pengambilan bagasi pun bisa dilakukan. Bandara adalah fasilitas umum, memotret di fasilitas umum tak ada yang melarang, kecuali di toilet umum yang tidak dibenarkan. Bisa ngamuk orang.**[harjasaputra]

Image Gallery (Foto-foto berikut diambil dalam perjalanan dengan rute Jakarta-Lombok tanpa transit):

Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: [email protected]