Harja Saputra Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: me@harjasaputra.com

Berita, Opini, dan Politik

2 menit baca 225

Ilustrasi: americanlibrariesmagazine.org

Detikcom tanggal 26 Mei memuat berita dengan judul “Sekeluarga Positif Corona Usai Salat Id di Masjid Bekasi, Walkot Membenarkan“. Di hari yang sama berita itu diperbarui dengan memuat keterangan dari Walikota Bekasi bahwa yang bersangkutan tertular bukan setelah Shalat Ied tetapi sejak sebelumnya.

Orang lantas menuding Detikcom seakan memuat berita yang terkesan menyudutkan masyarakat atau kelompok umat Islam di wilayah tersebut. Alasan yang mengkritik pun logis. Shalat ied baru dua hari berlalu tetapi kenapa langsung bisa diketahui penyebabnya karena ikut shalat ied, sementara masa inkubasi virus Corona adalah 14 hari. Itu tidak mungkin. Masuk akal.

Kasus yang lain, Viva memuat berita yang judulnya terkesan provokatif: “Kocak Abis, Lord Nuh Prank of The Year Kalahkan King of The Prank“. Berita yang ini sifatnya feed agregator dari situs humorberita[dot]com yang mungkin merupakan group Viva.

Ramai-ramailah orang heran terhadap Viva, kok berita seperti itu. Siapa yang dimaksud King of the Prank? Ilustrasi yang dipakai dalam berita itu adalah Presiden RI sedang naik motor gede. Otomatis yang dimaksud mengarah ke sosok itu. Padahal, di berita itu redaksi hanya mengabarkan bahwa ada beberapa orang netizen yang mengatakan hal tersebut yang kemudian dijadikan judul.

Kasus ketiga, wartawan detikcom dikabarkan mendapat ancaman pembunuhan terkait pemuatan berita mengenai kunjungan Presiden RI ke Mall di Bekasi pada 26 Mei. Wartawan Detikcom awalnya menulis judul “Jokowi Pimpin Pembukaan Sejumlah Mal di Bekasi Siang Ini di Tengah Pandemi”. Lalui berganti judul “Pemkot: Jokowi Siang Ini ke Bekasi, Dalam Rangka Pembukaan Mal”. Berganti kembali menjadi “Pemkot Bekasi Luruskan soal Kunjungan Jokowi: Cek Persiapan New Normal”.

Berita ini menjadi viral, namun menghasilkan persepsi publik yang cenderung negatif. Apakah beritanya salah? Tidak ada yang salah. Berita itu memuat keterangan dari Kasubbag Publikasi Eksternal Humas Setda Kota Bekasi, yang memang mengatakan bahwa Presiden RI ke sana dalam rangka pembukaan mall. Rekaman suaranya pun ada. Secara kaidah jurnalistik berita ini sah dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pertanyaannya: apakah berita harus rasional atau tidak boleh mencantumkan keterangan dari narasumber yang dianggap tidak tepat? Apakah subjektivitas wartawan dalam membuat judul atau menulis berita diperbolehkan? Yang terpenting, bagaimana sikap kita dalam menilai suatu berita?

Satu hal yang perlu diingat bahwa berita dan fakta yang valid dan rasional adalah dua hal yang berbeda. Perlu dipisahkan antara berita dan penilaian atas fakta.

Memuat berita, asal memenuhi unsur 5W + 1H, mau keterangan narasumber itu bohong atau tidak masuk akal, beritanya adalah sah. Kecuali tidak ada faktanya atau narasumber tidak mengatakan sesuatu lantas disebutkan mengatakan sesuatu, ini namanya fiksi.

Dalam memuat berita, Detikcom dan Viva tidak salah. Sebab di berita detikcom yang pertama misalnya, sifatnya menyampaikan fenomena dan kemudian di-crosscheck ke walikota, dan walikota membenarkan. Viva juga tidak salah, karena memang betul ada banyak netizen yang mengatakan hal yang diberitakan.

Wartawan tidak boleh menulis yang berbeda dengan keterangan si narasumber. Subjektivitas wartawan sekecil mungkin harus ditekan. Meskipun memang seringkali tak terhindarkan, subjektivitas wartawan selalu ada.

Rasional atau tidaknya suatu berita bukan tugas wartawan, tetapi tugas pembaca untuk menilai. Wartawan tugasnya membawa kabar, pembaca tugasnya membaca dan menilai. Pembaca memiliki perangkat penilaian sendiri dalam menilai suatu berita.

Baca Juga: Bagaimana Cara Menganalisis Berita?

Berbeda halnya dengan opini. Validitas dan statemen yang rasional harus dikedepankan dalam membuat suatu proposisi dalam opini. Bahkan jika opini itu dinilai menentang suatu fakta, asalkan rasional maka opininya adalah sah. Tetapi perlu juga diingat bahwa sesuatu yang rasional sifatnya tidak tunggal, melainkan bervariasi. Argumen yang rasional bisa diadu dengan argumen lain yang rasional juga.

Berita sifatnya membawa fakta yang ada di luar ke dalam benak pembaca, sedangkan opini membawa isi benak kita ke dunia luar.

Pembaca dalam menilai suatu berita, bebas mengeluarkan penilaian, opini atau argumentasinya atas suatu berita. Hal ini dikarenakan, media adalah Ruang Publik, jika ada saling koreksi satu sama lain, berarti ruang publik berfungsi dengan baik.

Ada ungkapan yang relevan dalam menilai suatu kabar:

“Jangan pernah percaya pada apa yang kalian dengar atau baca. Selalu ada tiga sisi dalam sebuah cerita. Cerita versi Anda, versi mereka, dan kebenaran dari suatu cerita (truth)”.

Tindakan yang fatal adalah ketika suatu berita didekati dengan pendekatan politik atau tindakan yang represif. Berita tidak bisa memuaskan semua pihak, apalagi jika dilihat dari preferensi politik, karena berita bukan alat pemuas. Apalagi kemudian cara-cara yang digunakan dalam menyikapi suatu berita menempuh cara-cara intimidatif.

Jika media diintimidasi atau dipaksa agar sesuai dengan kemauan penguasa, maka kita akan kehilangan ruang publik. Ketika ruang publik tidak ada maka tidak ada lagi saluran untuk menyampaikan aspirasi publik. Bahkan sangat mungkin, kita juga akan kehilangan ruang private.

Ruang publik saja berani dihilangkan, maka lambat-laun ruang private kita juga terancam. Mereka akan menggedor rumah Anda ketika Anda berbeda pendapat dengan penguasa atau dianggap tidak sejalan dengan penguasa. Jika ini terjadi, maka akan datang era kegelapan demokrasi.**

Harja Saputra Blogger | Serverholic | Dua Anak | Satu Istri | Kontak: me@harjasaputra.com

Subscribe my newsletter!

#kami tidak akan kirim spam

Komentari Artikel
Setiap komentar akan dimoderasi dan tayang setelah diapprove. Baik komentar positif maupun negatif tidak akan disensor. Moderasi hanya untuk memilah spam. Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi.
0 Komentar

No Comment.